USU Dorong Kebijakan Berbasis Riset dalam Kelola Industri Sawit dan Risiko Bencana
Selasa, 10 Februari 2026 - 10:49 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Poppy, bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir 2025 lalu telah menimbulkan kerugian sosial, ekonomi, dan ekologis yang nyata. Ia menegaskan bahwa perubahan iklim global berinteraksi dengan faktor lokal seperti tata guna lahan, sistem hidrologi, perencanaan wilayah, dan praktik pengelolaan sumber daya alam.
Dalam konteks ini, perkebunan kelapa sawit kerap menjadi sorotan.
Ekspansi sawit disebut berkontribusi terhadap kerentanan banjir, namun di sisi lain industri ini juga menyumbang besar bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan jutaan masyarakat, termasuk petani kecil dan pekerja. "Dialektika yang sehat bukanlah untuk mencari pihak yang disalahkan, melainkan untuk menemukan pemahaman yang komprehensif dan solusi yang konstruktif," ujar Poppy.
Baca Juga: Prabowo Sebut Sawit Miracle Crop, Konsistensi Kebijakan Kunci Keberlanjutan
Ia berharap diskusi ilmiah di USU dapat menjadi ruang untuk mengkaji hubungan antara perubahan iklim global, tata guna lahan, dan kejadian bencana di Sumatera. Forum ini juga diharapkan mampu mengidentifikasi faktor risiko yang dapat dimitigasi melalui kebijakan, teknologi, dan praktik pengelolaan lingkungan berkelanjutan. "Universitas memiliki peran strategis sebagai penjaga nalar kritis, produsen pengetahuan, dan jembatan dialog antar pemangku kepentingan," pungkasnya.
Dalam konteks ini, perkebunan kelapa sawit kerap menjadi sorotan.
Ekspansi sawit disebut berkontribusi terhadap kerentanan banjir, namun di sisi lain industri ini juga menyumbang besar bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan jutaan masyarakat, termasuk petani kecil dan pekerja. "Dialektika yang sehat bukanlah untuk mencari pihak yang disalahkan, melainkan untuk menemukan pemahaman yang komprehensif dan solusi yang konstruktif," ujar Poppy.
Baca Juga: Prabowo Sebut Sawit Miracle Crop, Konsistensi Kebijakan Kunci Keberlanjutan
Ia berharap diskusi ilmiah di USU dapat menjadi ruang untuk mengkaji hubungan antara perubahan iklim global, tata guna lahan, dan kejadian bencana di Sumatera. Forum ini juga diharapkan mampu mengidentifikasi faktor risiko yang dapat dimitigasi melalui kebijakan, teknologi, dan praktik pengelolaan lingkungan berkelanjutan. "Universitas memiliki peran strategis sebagai penjaga nalar kritis, produsen pengetahuan, dan jembatan dialog antar pemangku kepentingan," pungkasnya.
(nng)
Lihat Juga :