Rupiah Balik Melawan Dolar AS, Hari Ini Sentuh Rp16.786 per USD
Rabu, 11 Februari 2026 - 17:35 WIB
loading...
Penguatan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal, ditambah dari sentimen domestik, memasuki bulan Ramadan dan libur Idulfitri tahun 2026. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (11/2/2026) usai naik 25 poin atau sekitar 0,15% ke level Rp16.786 per dolar AS. Penguatan mata uang rupiah juga terlihat pada data JISDOR BI, dimana hari ini bertengger pada level Rp16.781/USD, atau membaik dari sebelumnya Rp16.799.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu data penjualan ritel AS untuk bulan Desember lebih lemah dari yang diperkirakan. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengeluaran konsumen secara luas di ekonomi terbesar dunia sedang mendingin di tengah inflasi yang tinggi dan tekanan pada pasar tenaga kerja.
Baca Juga: Kurs Rupiah Hari Ini Melempem ke Rp16.842 per Dolar AS, Ini Faktor Penyebabnya
“Kelemahan yang berkelanjutan dalam pengeluaran dapat menghadirkan prospek yang lebih lemah bagi perekonomian,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Prospek ekonomi yang lebih lemah pada gilirannya dapat mendorong Federal Reserve untuk memangkas suku bunga lebih lanjut tahun ini untuk menopang pertumbuhan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun karena anggapan ini, sementara dolar kesulitan untuk pulih dari kerugian besar yang tercatat pada hari Senin.
Kemudian, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pada hari Selasa bahwa pembicaraan nuklir dengan AS memungkinkan Teheran untuk mengukur keseriusan Washington dan menunjukkan konsensus yang cukup untuk melanjutkan jalur diplomatik.
Para diplomat dari Iran dan AS mengadakan pembicaraan di Oman pekan lalu dalam upaya untuk menghidupkan kembali diplomasi, setelah Presiden AS Donald Trump menempatkan armada angkatan laut di wilayah tersebut, meningkatkan kekhawatiran akan aksi militer baru.
Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah, bahkan ketika Washington dan Teheran bersiap untuk melanjutkan negosiasi yang bertujuan untuk mencegah konflik baru.
Baca Juga: Dolar AS Terbebani Senjata Ekonomi Trump, Rupiah Membaik di Rp16.722/USD
Dari sentimen domestik, memasuki bulan Ramadan dan libur Idulfitri tahun 2026, pemerintah meluncurkan Paket Stimulus Ekonomi I-2026 yang mencakup kebijakan diskon transportasi, work from anywhere (WFA), dan bantuan pangan. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya untuk memastikan kelancaran dan kenyamanan serta memberikan keringanan bagi masyarakat dalam menyambut Ramadan dan Idulfitri.
Selain stimulus ekonomi, pemerintah juga memprioritaskan aspek keselamatan dan kenyamanan perjalanan mudik. Kemudian, koordinasi lintas kementerian/lembaga terus dilakukan untuk memastikan kelayakan infrastruktur jalan terutama di tengah kondisi curah hujan yang tinggi.
Tak hanya pemberian stimulus ekonomi berupa diskon transportasi, pemerintah juga memperkuat daya beli masyarakat dengan menyalurkan bantuan pangan berupa 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng per bulan, yang diberikan sekaligus untuk dua bulan dengan target penerima manfaat sebanyak 35,04 juta keluarga penerima manfaat (KPM) yang berasal dari desil 1-4.
Dengan kebijakan yang dirumuskan pemerintah ini dapat menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Sehingga bisa mendongkrak Produk Domestic Bruto (PDB) di kuartal pertama lebih baik dibandingkan kuartal keempat tahun 2025.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.780 - Rp16.810 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu data penjualan ritel AS untuk bulan Desember lebih lemah dari yang diperkirakan. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengeluaran konsumen secara luas di ekonomi terbesar dunia sedang mendingin di tengah inflasi yang tinggi dan tekanan pada pasar tenaga kerja.
Baca Juga: Kurs Rupiah Hari Ini Melempem ke Rp16.842 per Dolar AS, Ini Faktor Penyebabnya
“Kelemahan yang berkelanjutan dalam pengeluaran dapat menghadirkan prospek yang lebih lemah bagi perekonomian,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Prospek ekonomi yang lebih lemah pada gilirannya dapat mendorong Federal Reserve untuk memangkas suku bunga lebih lanjut tahun ini untuk menopang pertumbuhan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun karena anggapan ini, sementara dolar kesulitan untuk pulih dari kerugian besar yang tercatat pada hari Senin.
Kemudian, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pada hari Selasa bahwa pembicaraan nuklir dengan AS memungkinkan Teheran untuk mengukur keseriusan Washington dan menunjukkan konsensus yang cukup untuk melanjutkan jalur diplomatik.
Para diplomat dari Iran dan AS mengadakan pembicaraan di Oman pekan lalu dalam upaya untuk menghidupkan kembali diplomasi, setelah Presiden AS Donald Trump menempatkan armada angkatan laut di wilayah tersebut, meningkatkan kekhawatiran akan aksi militer baru.
Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah, bahkan ketika Washington dan Teheran bersiap untuk melanjutkan negosiasi yang bertujuan untuk mencegah konflik baru.
Baca Juga: Dolar AS Terbebani Senjata Ekonomi Trump, Rupiah Membaik di Rp16.722/USD
Dari sentimen domestik, memasuki bulan Ramadan dan libur Idulfitri tahun 2026, pemerintah meluncurkan Paket Stimulus Ekonomi I-2026 yang mencakup kebijakan diskon transportasi, work from anywhere (WFA), dan bantuan pangan. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya untuk memastikan kelancaran dan kenyamanan serta memberikan keringanan bagi masyarakat dalam menyambut Ramadan dan Idulfitri.
Selain stimulus ekonomi, pemerintah juga memprioritaskan aspek keselamatan dan kenyamanan perjalanan mudik. Kemudian, koordinasi lintas kementerian/lembaga terus dilakukan untuk memastikan kelayakan infrastruktur jalan terutama di tengah kondisi curah hujan yang tinggi.
Tak hanya pemberian stimulus ekonomi berupa diskon transportasi, pemerintah juga memperkuat daya beli masyarakat dengan menyalurkan bantuan pangan berupa 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng per bulan, yang diberikan sekaligus untuk dua bulan dengan target penerima manfaat sebanyak 35,04 juta keluarga penerima manfaat (KPM) yang berasal dari desil 1-4.
Dengan kebijakan yang dirumuskan pemerintah ini dapat menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Sehingga bisa mendongkrak Produk Domestic Bruto (PDB) di kuartal pertama lebih baik dibandingkan kuartal keempat tahun 2025.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.780 - Rp16.810 per dolar AS.
(akr)
Lihat Juga :