Kekacauan Tarif Trump, Dolar AS Babak Belur di Pasar Asia

Senin, 23 Februari 2026 - 11:00 WIB
loading...
Kekacauan Tarif Trump,...
Mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (23/2). FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (23/2), menyusul keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan kebijakan tarif darurat Presiden Donald Trump. Putusan ini memicu ketidakpastian baru dalam perdagangan global dan membangkitkan kembali narasi "jual Amerika" yang telah menekan aset-aset AS sepanjang tahun terakhir.

"Lingkungan tarif kini lebih tidak terduga daripada sebelumnya, dan ketidakpastian merugikan bagi setiap ekonomi atau pasar," kata Rodrigo Catril, analis strategi FX senior di NAB dikutip dari CNA.

Baca Juga: Tak Hanya Beras Ribuan Ton, Indonesia Setujui Impor 580.000 Ekor Ayam dari AS

Berdasarkan data Trading Economy, indeks dolar AS anjlok di awal perdagangan Asia, merosot 0,4% terhadap yen Jepang ke level 154,36 dan melemah 0,5% terhadap franc Swiss. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif indeks dolar yang telah turun sekitar 8% dalam 12 bulan terakhir, setelah ditutup pada level 97,80 pada akhir pekan lalu.

Koreksi tajam ini dipicu oleh putusan Mahkamah Agung AS dengan suara 6-3 yang menyatakan bahwa Trump melampaui kewenangannya dalam menggunakan Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional 1977. Meski Trump merespons cepat dengan mengumumkan tarif baru sebesar 10% hingga 15% berdasarkan Pasal 122 UU Perdagangan 1974, pasar menilai posisi hukum Presiden Trump jauh lebih rapuh.



Di Korea Selatan, won menguat 0,30% ke level 1.445,17 per dolar AS di tengah kekhawatiran atas beban fiskal AS. Analis memperkirakan potensi pengembalian tarif yang mencapai USD175 miliar dapat terus menekan greenback dan mendorong kurs won-dolar menembus di bawah kisaran perdagangan terbarunya.
Sementara, penguatan yen Jepang juga didorong oleh faktor domestik pascakemenangan telak Partai Liberal Demokrat pimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam pemilu kilat. Meskipun kebijakan Takaichi awalnya diprediksi akan melemahkan yen melalui stimulus fiskal, mata uang tersebut justru menguat setelah pemerintah menunjukkan sinyal pengendalian fiskal dan kesiapan intervensi pasar jika diperlukan.

Baca Juga: Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, Gimana Nasib Perjanjian Dagang dengan Indonesia?

Secara umum, indeks saham Asia-Pasifik MSCI di luar Jepang naik 0,5% pada Senin pagi, mencerminkan optimisme regional di tengah kemelut kebijakan di Washington. Para pelaku pasar kini menghadapi paradoks di mana ketidakpastian kebijakan yang biasanya menguntungkan dolar sebagai aset aman (safe haven), justru menjadi beban karena investor meragukan keandalan pengelolaan ekonomi AS.

Kondisi ini menandai babak baru dalam dinamika pasar valuta asing global, di mana stabilitas ekonomi Asia menjadi daya tarik saat kebijakan perdagangan AS diliputi sengketa hukum. Investor kini menanti langkah Kongres AS terkait masa berlaku tarif baru yang diusulkan Trump, yang secara hukum hanya dapat bertahan selama 150 hari tanpa persetujuan legislatif.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
62 Juta Barel Minyak...
62 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz Siap Banjiri Kilang Asia
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Pembelian Dolar AS Diperketat,...
Pembelian Dolar AS Diperketat, BI Batasi Transaksi USD10 Ribu Mulai Juli 2026
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Loyo ke Rp17.794 per Dolar AS, Intip Pemicunya
Badan Intelijen AS Peringatkan...
Badan Intelijen AS Peringatkan Israel Bisa Sabotase Kesepakatan Perdamaian AS-Iran
Trump Klaim Tidak Ada...
Trump Klaim Tidak Ada Batasan pada Kekuasaannya
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Rekomendasi
Indonesia Perkuat Regenerasi...
Indonesia Perkuat Regenerasi Atlet demi Kuasai Panggung MMA Asia
Jelang Lawan Arab Saudi,...
Jelang Lawan Arab Saudi, Yamal Belum Siap Main 90 Menit
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang,...
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang, Golkar: Entah Apa yang Diseimbangkan, Nanti Rakyat yang Menilai
Berita Terkini
Grab For Business Luncurkan...
Grab For Business Luncurkan Corporate Dine Out, Jamuan Makan Kantor Bebas Reimburse
Saingan Selat Malaka!...
Saingan Selat Malaka! Thailand Nekat Hidupkan Megaproyek Rp535 Triliun
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Mandatori B50 Buka Peluang...
Mandatori B50 Buka Peluang Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Indodax Ingatkan Manajemen Risiko
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
Infografis
10 Universitas Terbaik...
10 Universitas Terbaik di Indonesia Versi THE Asia University Rankings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved