Gelombang Raksasa Nikel di Bursa Saham RI: Akankah BLUE Menuju Ekosistem EV?
Senin, 23 Februari 2026 - 21:42 WIB
loading...
Peta industri nikel dan baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia tidak lagi hanya diperebutkan di konsesi tambang, melainkan bergeser ke papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Peta industri nikel dan baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia tidak lagi hanya diperebutkan di konsesi tambang Sulawesi atau Maluku, melainkan bergeser ke papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) . Terbaru, PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) mengumumkan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Shares Purchase Agreement/CSPA) antara para pemegang saham dengan Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited yang akan menjadi pengendali baru perseroan.
Dalam keterbukaan informasi BLUE pekan lalu, Kamis (19/2/2026), Dragonmine Mining berencana membeli 334,4 juta saham BLUE atau setara 80% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Perkembangan ini merupakan kelanjutan proses akuisisi yang telah disampaikan perseroan sebelumnya pada November 2025.
Lantas, siapakah Dragonmine Mining yang akan menjadi pengendali baru BLUE? Akankah produsen tinta merk Blueprint berubah menjadi pemain nikel seperti halnya CNGR mengubah emiten kemasan plastik PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK) menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk?
Baca Juga: Meneropong Emiten Nikel di Tengah Laju Industri Kendaraan Listrik
Jika dilihat dari profil Dragonmine Mining yang merupakan perusahaan private berkantor pusat di Hong Kong, pemiliknya adalah Huayou Hongkong Limited. Meskipun BLUE belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait identitas Dragonmine Mining, namun berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber, Huayou Hongkong Limited merupakan anak usaha Zhejiang Huayou Cobalt Co.,Ltd, yang difokuskan sebagai unit investasi luar negeri di bidang pertambangan dan mineral.
Huayou memiliki lima pilar bisnis utama yang mencakup seluruh rantai industri material baterai lithium-ion, di mana industri nikel Indonesia menjadi salah satu sektor strategisnya. Perusahaan asal Tiongkok tersebut kian ekspansif di Indonesia dalam mengembangkan ekosistem baterai terintegrasi, salah satunya melalui Proyek Titan yang bekerjasama dengan Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama mengatakan, terdapat potensi bagi BLUE untuk mengubah haluan model bisnisnya pasca perubahan pengendali. Langkah ini berpotensi dapat memperbaiki kinerja perusahaan-perusahaan dengan performa rendah di Bursa Efek Indonesia pada masa dimana pengawasan masih minim, sehingga memungkinkan perusahaan dengan kualitas yang lebih baik untuk masuk melalui skema backdoor listing.
Selain itu, BEI juga telah merilis regulasi baru yang memungkinkan perusahaan tercatat untuk mengubah kode saham (ticker) mereka.
“Sebagai referensi, sekitar 30% dari seluruh perusahaan di BEI saat ini mencatatkan kerugian bersih. Dengan adanya reformasi pasar modal yang mewajibkan porsi saham publik (free float) lebih tinggi berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar, regulasi baru ini memicu kemacetan baru pada aksi IPO,” ungkap Ezar.
Langkah Dragonmine terhadap BLUE bukanlah fenomena tunggal. Untuk memahami masa depan BLUE, dapat dilihat dari apa yang dilakukan CNGR terhadap PACK.
Perusahaan yang awalnya bergerak di bidang kemasan ini dicaplok oleh PT Eco Energi Perkasa, yang dimiliki oleh Deng Weiming, pendiri CNGR, salah satu produsen prekursor baterai terbesar dunia. Pasca-akuisisi, PACK berubah nama menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk dan mengumumkan rencana rights issue jumbo untuk menyerap aset tambang dan smelter nikel.
Baca Juga: Profil PT GAG Nikel, Entitas Milik Antam di Balik Riuh Tambang Nikel Raja Ampat
BLUE sebagai pemain industri tinta dan alat tulis, kini menghadapi prospek akuisisi 80% saham oleh Dragonmine. Mengingat Dragonmine dimiliki secara langsung oleh Huayou yang sudah memiliki investasi miliaran dolar di Morowali dan Pomalaa, transmisi aset nikel ke dalam BLUE diprediksi tinggal menunggu waktu.
Pergerakan harga saham BLUE melonjak signifikan dengan kenaikan 117% year to date dan hampir 1.900% dalam setahun. Namun harga saham BLUE sempat terkoreksi di tengah kondisi pasar yang volatile saat mengumumkan fakta CSPA ini.
Bagi raksasa global seperti Huayou dan CNGR, mengakuisisi emiten dengan kapitalisasi pasar kecil seperti BLUE dan PACK, menawarkan jalur ekspres ketimbang melakukan IPO dari nol yang memakan waktu lama. Mereka menggunakan perusahaan listing agar dapat menarik modal dari investor lokal dan institusi melalui Rights Issue untuk mendanai proyek hilirisasi nikel di Indonesia.
Keberadaan entitas publik di BEI membantu meningkatkan transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi lokal, serta memperkuat profil ESG (Environmental, Social, and Governance) di mata investor global. Aksi Dragonmine di BLUE menegaskan bahwa Indonesia bukan lagi sekadar penyedia bahan mentah, melainkan pusat finansial bagi raksasa energi hijau dunia.
Dalam keterbukaan informasi BLUE pekan lalu, Kamis (19/2/2026), Dragonmine Mining berencana membeli 334,4 juta saham BLUE atau setara 80% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Perkembangan ini merupakan kelanjutan proses akuisisi yang telah disampaikan perseroan sebelumnya pada November 2025.
Lantas, siapakah Dragonmine Mining yang akan menjadi pengendali baru BLUE? Akankah produsen tinta merk Blueprint berubah menjadi pemain nikel seperti halnya CNGR mengubah emiten kemasan plastik PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK) menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk?
Baca Juga: Meneropong Emiten Nikel di Tengah Laju Industri Kendaraan Listrik
Jika dilihat dari profil Dragonmine Mining yang merupakan perusahaan private berkantor pusat di Hong Kong, pemiliknya adalah Huayou Hongkong Limited. Meskipun BLUE belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait identitas Dragonmine Mining, namun berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber, Huayou Hongkong Limited merupakan anak usaha Zhejiang Huayou Cobalt Co.,Ltd, yang difokuskan sebagai unit investasi luar negeri di bidang pertambangan dan mineral.
Huayou memiliki lima pilar bisnis utama yang mencakup seluruh rantai industri material baterai lithium-ion, di mana industri nikel Indonesia menjadi salah satu sektor strategisnya. Perusahaan asal Tiongkok tersebut kian ekspansif di Indonesia dalam mengembangkan ekosistem baterai terintegrasi, salah satunya melalui Proyek Titan yang bekerjasama dengan Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama mengatakan, terdapat potensi bagi BLUE untuk mengubah haluan model bisnisnya pasca perubahan pengendali. Langkah ini berpotensi dapat memperbaiki kinerja perusahaan-perusahaan dengan performa rendah di Bursa Efek Indonesia pada masa dimana pengawasan masih minim, sehingga memungkinkan perusahaan dengan kualitas yang lebih baik untuk masuk melalui skema backdoor listing.
Selain itu, BEI juga telah merilis regulasi baru yang memungkinkan perusahaan tercatat untuk mengubah kode saham (ticker) mereka.
“Sebagai referensi, sekitar 30% dari seluruh perusahaan di BEI saat ini mencatatkan kerugian bersih. Dengan adanya reformasi pasar modal yang mewajibkan porsi saham publik (free float) lebih tinggi berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar, regulasi baru ini memicu kemacetan baru pada aksi IPO,” ungkap Ezar.
Langkah Dragonmine terhadap BLUE bukanlah fenomena tunggal. Untuk memahami masa depan BLUE, dapat dilihat dari apa yang dilakukan CNGR terhadap PACK.
Perusahaan yang awalnya bergerak di bidang kemasan ini dicaplok oleh PT Eco Energi Perkasa, yang dimiliki oleh Deng Weiming, pendiri CNGR, salah satu produsen prekursor baterai terbesar dunia. Pasca-akuisisi, PACK berubah nama menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk dan mengumumkan rencana rights issue jumbo untuk menyerap aset tambang dan smelter nikel.
Baca Juga: Profil PT GAG Nikel, Entitas Milik Antam di Balik Riuh Tambang Nikel Raja Ampat
BLUE sebagai pemain industri tinta dan alat tulis, kini menghadapi prospek akuisisi 80% saham oleh Dragonmine. Mengingat Dragonmine dimiliki secara langsung oleh Huayou yang sudah memiliki investasi miliaran dolar di Morowali dan Pomalaa, transmisi aset nikel ke dalam BLUE diprediksi tinggal menunggu waktu.
Pergerakan harga saham BLUE melonjak signifikan dengan kenaikan 117% year to date dan hampir 1.900% dalam setahun. Namun harga saham BLUE sempat terkoreksi di tengah kondisi pasar yang volatile saat mengumumkan fakta CSPA ini.
Bagi raksasa global seperti Huayou dan CNGR, mengakuisisi emiten dengan kapitalisasi pasar kecil seperti BLUE dan PACK, menawarkan jalur ekspres ketimbang melakukan IPO dari nol yang memakan waktu lama. Mereka menggunakan perusahaan listing agar dapat menarik modal dari investor lokal dan institusi melalui Rights Issue untuk mendanai proyek hilirisasi nikel di Indonesia.
Keberadaan entitas publik di BEI membantu meningkatkan transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi lokal, serta memperkuat profil ESG (Environmental, Social, and Governance) di mata investor global. Aksi Dragonmine di BLUE menegaskan bahwa Indonesia bukan lagi sekadar penyedia bahan mentah, melainkan pusat finansial bagi raksasa energi hijau dunia.
(akr)
Lihat Juga :