Pembentukan Dewan Perdagangan dan Investasi RI-AS Dinilai Bisa Jadi Penentu Arah Ekonomi

Jum'at, 27 Februari 2026 - 18:58 WIB
loading...
Pembentukan Dewan Perdagangan...
Pelaku ekonomi, Engel Glendy Sahanggamu (tiga kiri). FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Pelaku ekonomi, Engel Glendy Sahanggamu menanggapi pembentukan Dewan Perdagangan dan Investasi (Council of Trade and Investment) oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Langkah tersebut mencerminkan visi kepemimpinan Presiden Prabowo dalam membaca momentum geopolitik dan ekonomi global. Di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian, keputusan membentuk forum strategis bilateral dinilai sebagai terobosan diplomasi ekonomi yang patut diapresiasi.

"Forum bilateral tersebut bukan sekadar simbol penguatan hubungan diplomatik, melainkan instrumen konkret yang dapat menentukan arah kebijakan ekonomi nasional dalam beberapa tahun ke depan," kata Engel melalui keterangannya, Jumat (27/2/2026).

Baca Juga: Perjanjian Tarif Resiprokal RI-AS Hanya Amankan 2% Total Perdagangan Nasional

Dalam konteks diplomasi ekonomi, pertemuan dan penandatanganan langsung oleh Presiden Prabowo dan Presiden Trump menunjukkan keseriusan kedua pihak dalam membuka babak baru hubungan perdagangan yang lebih terukur dan terarah. Kata dia, pembentukan council tersebut menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mempertegas posisinya dalam peta ekonomi dunia, terutama sejauh mana dampaknya dapat dirasakan pelaku usaha dan industri nasional secara nyata.

Di tengah dinamika ekonomi global yang fluktuatif, Engel menilai dewan tersebut bisa menjadi instrumen stabilisasi sekaligus akselerasi pertumbuhan nasional. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada konsistensi kebijakan, transparansi negosiasi, dan ketegasan menjaga kepentingan domestik. “Ini bukan hanya soal hubungan dua presiden, tapi bagaimana Indonesia memosisikan diri dalam peta ekonomi dunia. Council ini bisa menjadi penguat fondasi atau justru titik kritis, semua bergantung pada cara kita memainkannya,” tegas Pemilik PT Equinara Global Prima ini.

Engel melihat Amerika Serikat memiliki kepentingan besar terhadap sumber daya strategis Indonesia, terutama mineral kritis yang dibutuhkan dalam rantai pasok global industri kendaraan listrik dan teknologi energi bersih.

Di sisi lain, kata dia, Indonesia membutuhkan akses pasar yang lebih luas, kepastian tarif, serta akses teknologi untuk meningkatkan nilai tambah industri dan menjaga stabilitas ekspor. “Kerja sama ini harus menguntungkan dua arah. Indonesia tidak boleh hanya menjadi sumber bahan baku. Hilirisasi dan transfer teknologi harus menjadi prioritas dalam setiap negosiasi,” jelas dia.

Selain itu, Engel menilai pembentukan Council of Trade and Investment akan memengaruhi persepsi investor global terhadap stabilitas kebijakan Indonesia. Ia memperkirakan sektor hilirisasi mineral, energi baru terbarukan, pertahanan, dan ekonomi digital akan menjadi fokus awal pembahasan. “Peluang kolaborasi di bidang semikonduktor, pusat data, dan pengembangan kecerdasan buatan juga terbuka lebar apabila kedua negara mampu menyepakati kerangka kerja yang saling menguntungkan,” imbuhnya.

Baca Juga: Waketum PKB: Perjanjian Dagang AS-RI Perkuat Posisi Indonesia di Peta Global

Meski demikian, Engel mengingatkan adanya risiko ketergantungan apabila kerja sama tidak diimbangi dengan diversifikasi mitra dagang. Dalam konteks geopolitik global yang dinamis, setiap kedekatan ekonomi dapat membawa implikasi strategis yang lebih luas. “Pemerintah perlu menjaga keseimbangan agar kepentingan nasional tetap menjadi prioritas utama. Jika dikelola dengan presisi, Indonesia bisa memperkuat fondasi ekonominya. Jika tidak, tekanan global justru bisa semakin besar,” tuturnya.

Ia juga mendorong agar komposisi perwakilan dalam Council of Trade and Investment tidak hanya diisi pejabat pemerintah dan perwakilan korporasi besar. Pengusaha nasional, termasuk generasi muda, dinilai perlu dilibatkan dalam forum konsultatif atau kelompok kerja teknis agar kebijakan yang dihasilkan inklusif. “Kalau hanya pemain raksasa yang dilibatkan, dampaknya tidak merata. Padahal kekuatan ekonomi Indonesia ada pada kombinasi industri besar dan menengah,” ujarnya.

Untuk diketahui, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat resmi menandatangani Perjanjian Perdagangan Timbal Balik bertajuk "Toward a New Golden Age for the US-Indonesia Alliance". Penandatanganan dilakukan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington DC, Kamis, 19 Februari 2026.



Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan penandatanganan tersebut menandai babak baru hubungan ekonomi kedua negara. “Ditandatangani secara bersama baik oleh Bapak Presiden Prabowo maupun Presiden Donald Trump. Dalam pertemuan bilateral antara kedua pemimpin itu berjalan selama 30 menit sesudah kegiatan Board of Peace,” kata Airlangga.

Dalam perjanjian tersebut, Indonesia dan Amerika sepakat memperkuat kerja sama ekonomi dan mendorong pertumbuhan bersama, termasuk pembentukan Council of Trade and Investment sebagai forum penyelesaian isu perdagangan dan investasi. "Ini hasil daripada agreement of reciprocal trade, sehingga seluruh persoalan investasi dan persoalan perdagangan antara Indonesia dan Amerika nanti akan dibahas dulu di dalam council of trade, apabila terjadi kenaikan yang di luar terlalu tinggi atau hal yang dianggap bisa mengganggu neraca daripada kedua negara," jelasnya.

Airlangga menambahkan, perjanjian ini memiliki visi mewujudkan kemakmuran ekonomi bersama, memperkuat rantai pasok, serta tetap menjunjung tinggi kedaulatan masing-masing negara. "Jadi saya garis bawahi menghormati kedaulatan dari masing-masing negara itu menjadi bagian daripada perjanjian yang ditandatangani," pungkasnya.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tips MotionTrade: Waspada...
Tips MotionTrade: Waspada Janji Keuntungan Tinggi Tanpa Risiko, Intip Ciri Umum Investasi Ilegal
PENAS XVII 2026 Jadi...
PENAS XVII 2026 Jadi Magnet Investasi Agribisnis, KTNA dan FERACO Perkuat Kolaborasi Industri dan Teknologi Pangan Nasional
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Tips MotionTrade: Jangan...
Tips MotionTrade: Jangan Tertipu, Waspadai Contoh Modus Investasi Ilegal Ini
Tips MotionTrade: Kenali...
Tips MotionTrade: Kenali Hak Dasar Investor di Pasar Modal
Purbaya Temui Menkeu...
Purbaya Temui Menkeu China, Perkuat Kerja Sama Pembiayaan dan Investasi
BP Batam Kawal Investasi...
BP Batam Kawal Investasi 88 Triliun AI Data Centre guna Transformasi Digital
Bontang Lestari dan...
Bontang Lestari dan KIE Siap Jadi Magnet Baru Kaltim
Kaltim Tawarkan Industri...
Kaltim Tawarkan Industri Fatty Amine Rp1,88 Triliun di Bontang
Rekomendasi
Pengacara: Penangkapan...
Pengacara: Penangkapan Roy Suryo-Tifa seperti Penculikan para Jenderal di Film
Anggota DPD RI Desak...
Anggota DPD RI Desak Pemkab Bima Atasi Krisis Air Bersih di Desa Bajo
Jaksa KPK Limpahkan...
Jaksa KPK Limpahkan Berkas Perkara Mantan Ketua PN Depok ke Pengadilan Bandung
Berita Terkini
Waspadai Phishing dan...
Waspadai Phishing dan CS Palsu di Platform Kripto, Begini Modusnya
EV Services: Membangun...
EV Services: Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik yang Semakin Terintegrasi
Nasabah Mekaar Naik...
Nasabah Mekaar Naik Kelas Capai 2,5 Juta Sepanjang 2025
Jembatan Pasar Aset...
Jembatan Pasar Aset Tradisional dan Digital, ICE dan OKX Bentuk Joint Venture
Kredit Pintar dan AFPI...
Kredit Pintar dan AFPI Edukasi Mahasiswa Kelola Keuangan Digital
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved