Konflik Timur Tengah Meluas, Rusia Bidik 40% Pangsa Pasar Minyak India

Rabu, 04 Maret 2026 - 22:00 WIB
loading...
Konflik Timur Tengah...
Penutupan efektif Selat Hormuz menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu gejolak operasional besar pada industri energi dan pelayaran global. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Penutupan efektif Selat Hormuz menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu gejolak operasional besar pada industri energi dan pelayaran global. Di tengah gangguan distribusi dari Timur Tengah, Rusia menyatakan kesiapannya untuk mengalihkan pasokan minyak mentah ke India guna menjaga stabilitas pemenuhan energi di kawasan Asia Selatan tersebut.

Langkah strategis ini diperkirakan akan meningkatkan pangsa pasar minyak Rusia dalam total impor India secara signifikan dari kisaran 30% menjadi hingga 40%. Saat ini, jutaan barel minyak mentah Rusia dilaporkan telah berada di atas kapal yang mendekati perairan India dan siap didistribusikan dalam waktu dekat.

"Sekitar 9,5 juta barel minyak mentah Rusia saat ini berada di atas kapal di dekat perairan India dan dapat tiba dalam beberapa pekan," demikian laporan Reuters yang dikutip di Jakarta, Rabu (4/3).

Baca Juga: Imbas Penutupan Selat Hormuz, Indonesia Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS

Selain pergeseran peta ekspor Rusia, raksasa energi Arab Saudi, Saudi Aramco, mulai mengalihkan ekspor minyak mentahnya ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk menghindari Selat Hormuz. Meski demikian, para analis mengingatkan adanya keterbatasan kapasitas pipa transmisi darat yang hanya mampu menampung sekitar 5 juta barel per hari, atau hanya separuh dari total produksi harian Arab Saudi.

Sektor pelayaran internasional turut merespons krisis dengan langkah drastis, di mana perusahaan besar seperti Maersk, Hapag-Lloyd, dan CMA CGM menangguhkan rute melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb demi keselamatan awak kapal. Penghentian operasi ini memicu kenaikan tarif angkutan darurat yang mencapai 3.800 dolar AS per kontainer, serta lonjakan harga bahan bakar kapal ke level tertinggi sejak Oktober 2023.



Situasi semakin pelik setelah sejumlah perusahaan asuransi maritim global membatalkan perlindungan risiko perang di kawasan Teluk efektif mulai 5 Maret besok. Akibatnya, premi asuransi diperkirakan melonjak antara 50% hingga 100%, yang secara otomatis meningkatkan biaya operasional kapal tanker secara luar biasa untuk satu kali pelayaran.

Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Jalur Minyak Dunia Terancam Lumpuh

Di sisi lain, produsen minyak Amerika Serikat mulai melakukan langkah lindung nilai (hedging) secara masif untuk mengunci harga tinggi di tengah ketidakpastian pasar. Investor terpantau berlomba melakukan transaksi kontrak berjangka energi yang mencatatkan rekor perdagangan mencapai 12,7 juta kontrak seiring kekhawatiran akan terjadinya lonjakan harga lanjutan.

Pemerintah Amerika Serikat melalui Presiden Donald Trump menyatakan bakal menyediakan asuransi risiko politik bagi perdagangan maritim di Teluk melalui mekanisme U.S. International Development Finance Corporation. Meski terdapat rencana pengawalan kapal tanker oleh Angkatan Laut AS, para analis tetap mempertanyakan efektivitas langkah tersebut mengingat besarnya skala gangguan distribusi yang terjadi saat ini.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Harga Minyak Global Kembali Melonjak
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Dibuka, Kilang-kilang Asia Ogah Ikut Demam Minyak Teluk
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
62 Juta Barel Minyak...
62 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz Siap Banjiri Kilang Asia
Cetak Sejarah, Hanasui...
Cetak Sejarah, Hanasui Jadi Serum Indonesia Pertama yang Diekspor ke Jepang
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
India Gempar, Seorang...
India Gempar, Seorang Ibu Diperkosa Beramai-ramai di Depan Anaknya
Rekomendasi
5 Kemenangan Terbesar...
5 Kemenangan Terbesar Spanyol di Piala Dunia: Arab Saudi Ikut Jadi Korban
BMKG Peringatkan Siklon...
BMKG Peringatkan Siklon Tropis Mekkhala Menguat, Wilayah Ini Berpotensi Diterjang Gelombang Tinggi
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Berita Terkini
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Pertamina NRE dan Koperasi...
Pertamina NRE dan Koperasi Kemenkop Bangun PLTS KDKMP Pulau Sembur, Progres Capai 80%
Imbas BI Rate Naik,...
Imbas BI Rate Naik, Pasar Rumah Kelas Menengah Mulai Ngerem
Vasanta Kembangkan Hunian...
Vasanta Kembangkan Hunian Suburban Berkonsep Alam
PWN 2026 Resmi Digelar...
PWN 2026 Resmi Digelar di JICC, Diikuti 15 Ribu Peserta dari Seluruh Indonesia
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved