Optimistis Tumbuh Positif 2021

Jum'at, 18 September 2020 - 06:02 WIB
loading...
A A A
“Because Covid masih di sini bersama kita, meskipun banyak hope dan diskusi mengenai vaksin, ini membutuhkan waktu lebih lama bagi banyak negara,” bebernya.

Mantan Direktur Bank Dunia itu kemudian menggariskan, kontraksi ekonomi Indonesia bukan berarti situasi menjadi buruk karena Indonesia masih lebih baik bila dibandingkan dengan negara lain.

“Indonesia masih dealing dengan ketidakpastian ini, meskipun jika dibandingkan negara-negara lain kontraksi ekonomi kita pada kuartal II mencapai 5,3%, lebih mild daripada negara lain yang kontraksinya lebih dalam,” tandasnya. (Baca juga: Karpet Merah Terbentang untuk Kampus Asing)

Berdasarkan laporan OECD, China menjadi satu-satunya negara G-20 yang diproyeksikan mengalami kenaikan 1,8% tahun ini, sedangkan AS 3,8%. Ritel di China, terutama e-commerce, mengalami kenaikan besar. Sementara itu 19 negara Eropa yang menggunakan mata uang euro akan mengalami penurunan sekitar 7,9%.

Sebaliknya Afrika Selatan (Afsel) diproyeksikan mengalami penurunan hingga 11,5% tahun ini. Adapun Meksiko dan India turun 10,2%. Negara maju seperti Italia juga tidak luput dari resesi dan akan mengalami penurunan sebesar 10,5% setelah menjadi pusat pandemi di Eropa. Angka pendapatannya menurun.

Kondisi ASEAN

Pandemi corona telah membuat kawasan Asia Tenggara (ASEAN) mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi terbesar sejak krisis moneter Asia pada 1997 lalu. Negara yang berhasil mengendalikan wabah lebih cepat, ekonominya juga akan bangkit lebih cepat.

Berdasarkan laporan Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW), laju pertumbuhan di kawasan Asia diperkirakan akan menyusut sebesar 4,2% pada 2020 ini. Karena itu upaya pemulihan ekonomi di Asia Tenggara akan lebih panjang dan lama.

Kondisi ini diperparah dengan ketegangan hubungan dagangan AS-China yang masih berlangsung hingga saat ini. “Perlambatan jangka panjang dalam aktivitas perdagangan global dan pandemi korona yang berkepanjangan turut membebani prospek pertumbuhan kawasan ini,” ungkap Direktur Regional ICAEW, Tiongkok Raya dan Asia Tenggara Mark Billington dalam laporan bertajuk Global Economic Outlook Report dari Oxford Economics, di Jakarta, kemarin. (Baca juga: Tidur Buruk Terkait dengan Penambahan Berat Badan)
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Beri Ancaman Ekstrem...
Iran Beri Ancaman Ekstrem Soal Energi Global: Minyak untuk Semua atau Tidak Sama Sekali
Krisis Selat Hormuz,...
Krisis Selat Hormuz, Bos IEA Wanti-wanti Ekonomi Global dalam Bahaya
Dunia Tak Lagi Takut...
Dunia Tak Lagi Takut Ancaman Gejolak Selat Hormuz imbas Perang AS-Iran, Apa Rahasianya?
Perang Bikin Jalur Suku...
Perang Bikin Jalur Suku Bunga Bank Sentral Terkunci di Level Tertinggi, Era Pinjaman Murah Berakhir
AllianzGI Sebut Pasar...
AllianzGI Sebut Pasar Global Masih Resilien, Seleksi Aset Jadi Kunci di Tengah Ketidakpastian
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Rekomendasi
Militer AS Tutupi Jumlah...
Militer AS Tutupi Jumlah Korban Luka dan Tewas, Malu karena Kalah Perang Iran?
Korban Jiwa Militer...
Korban Jiwa Militer AS Berjatuhan, Trump: Iran Akan Bayar Berkali-kali Lipat!
Langka, Kapal Perang...
Langka, Kapal Perang China Latihan Tembak di Dalam ZEE Jepang
Berita Terkini
Harga Minyak Mendidih...
Harga Minyak Mendidih 1% saat Houthi Blokade Arab Saudi, Bakal Tembus USD100 per Barel?
IHSG Masih Perkasa,...
IHSG Masih Perkasa, Hari Ini Dibuka Menanjak Naik 0,67% ke level 6.273.
Bappenas Petakan Kekayaan...
Bappenas Petakan Kekayaan Hayati Indonesia untuk Pembangunan Berkelanjuran
Kilau Emas Meredup,...
Kilau Emas Meredup, Turun 9 Ribu Sentuh Level Rp2.601.000/Gram
Tabungan Kelas Menengah...
Tabungan Kelas Menengah Melambat, LPS Menyoroti Anomali Melejitnya Simpanan di Atas Rp5 Miliar
AS Kembali Picu Perang...
AS Kembali Picu Perang Dagang, Kali Ini Kanada Bakal Dihantam Tarif 50%
Infografis
Masyarakat Suka Berhutang,...
Masyarakat Suka Berhutang, Paylater Tumbuh Subur di Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved