Purbaya Potong Anggaran MBG jika Defisit APBN Lewati Batas 3%
Sabtu, 07 Maret 2026 - 15:00 WIB
loading...
A
A
A
Program MBG menjadi salah satu pos belanja yang dikaji karena memiliki alokasi anggaran besar, yakni sekitar Rp335 triliun pada tahun ini dengan target 82,9 juta penerima manfaat. Meski demikian, Purbaya menegaskan efisiensi hanya akan dilakukan pada komponen pendukung tanpa mengurangi kualitas maupun jumlah makanan yang diberikan kepada masyarakat. "Yang jelas MBG bagus, tapi kita akan cegah kalau ada belanja yang tidak terlalu mendukung langsung makanan itu," tambah Purbaya.
Baca Juga: Baru Awal Tahun, APBN Tekor Rp135,7 Triliun hingga Akhir Februari
Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan opsi penjadwalan ulang sejumlah proyek infrastruktur di Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ke tahun anggaran berikutnya sebagai bagian dari langkah pengendalian defisit. Proyek seperti pembangunan jembatan, sekolah, dan program lainnya dinilai dapat disesuaikan waktunya jika tekanan fiskal meningkat. "Misalnya di PU mungkin ada anggaran yang bisa digeser ke tahun depan untuk bangun jembatan, sekolah, dan program lainnya," tutur Purbaya.
Terkait harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, pemerintah menyatakan kenaikan harga tetap menjadi pilihan terakhir jika tekanan fiskal sangat berat. Menurut Purbaya, langkah tersebut baru dipertimbangkan apabila harga minyak dunia melonjak ekstrem hingga sekitar USD 185 per barel.
Baca Juga: Baru Awal Tahun, APBN Tekor Rp135,7 Triliun hingga Akhir Februari
Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan opsi penjadwalan ulang sejumlah proyek infrastruktur di Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ke tahun anggaran berikutnya sebagai bagian dari langkah pengendalian defisit. Proyek seperti pembangunan jembatan, sekolah, dan program lainnya dinilai dapat disesuaikan waktunya jika tekanan fiskal meningkat. "Misalnya di PU mungkin ada anggaran yang bisa digeser ke tahun depan untuk bangun jembatan, sekolah, dan program lainnya," tutur Purbaya.
Terkait harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, pemerintah menyatakan kenaikan harga tetap menjadi pilihan terakhir jika tekanan fiskal sangat berat. Menurut Purbaya, langkah tersebut baru dipertimbangkan apabila harga minyak dunia melonjak ekstrem hingga sekitar USD 185 per barel.
(nng)
Lihat Juga :