Harga Daging Kerbau Melambung, Pemerintah Diminta Adil dalam Pengawasan
Senin, 09 Maret 2026 - 13:31 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Asnawi, dengan kondisi ini, harusnya pemerintah dan tim Satuan Tugas Sapu Bersih (Satgas Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan Pusat menangkap produsen atau distributor daging kerbau yang menjual di atas HAP karena itu sudah kejahatan ekonomi. Tapi faktanya, mereka masih aman dan nyaman berdagang.
“Mereka (distributor) juga tidak dituduh sebagai kriminal seperti yang sering dituduhkan kepada penjaul daging sapi jika menjual diatas HAP. Ini sangat-sangat tidak adil,” tegasnya.
Seperti diketahui, impor daging kerbau hanya ditugaskan kepada BUMN Berdikari dan PPI. Berdasarkan Neraca Komoditas 2026, total kuota impor daging mencapai 297.000 ton. Rinciannya, sebanyak 100.000 ton dalam bentuk daging kerbau dari India, 75.000 ton daging sapi dari Brasil, 75.000 ton daging dari negara lain. Semua itu dialokasikan untuk BUMN. Sementara perusahaan swasta hanya mendapat 30.000 ton dan sisa 17.000 ton dialokasikan untuk daging industri.
Dari data itu jelas terlihat, daging kerbau saat ini dimonopoli oleh BUMN. Bahkan, hebatnya lagi, pemerintah juga memberikan Berdikari dan PPI jatah impor daging sapi 150.000 ton dari Brasil dan negara lain, yang merupakan pemangkasan jatah impor perusahaan swasta -- yang tahun lalu 180.000 ton kini dibabat tinggal 30.000 ton.
Di Atas HAP
Asnawi mengaku sudah pernah mendatangi Berdikari untuk bisa membeli daging kerbau India. Namun, Berdikari berkilah daging tersebut sudah habis. Menurutnya, daging kerbau India itu sudah didistribusikan kepada 12 distributor perusahaan swasta.
Dari data yang ada, ke-12 ditributor itu adalah PT Banyumas Agro Indonesia, CV Kawan Jaya Bersama, PT Anugerah Pangan Lestari, PT Hijrah Gizi Hewani (Hijrah Food), PT Artha Cipta Saudara, CV Cilacap Pangan Sejahtera, PT Boga Citra Langgeng, PT Borneo Pangan Sejahtera, PT Garindo Food International, PT Estika Tara Tiara, PT Soroja Niaga Boga dan PT Suri Nusantara Jaya.
"Atas nama Asosiasi (JAPPDI) kami pernah mengajukan permintaan untuk menjadi distributor kepada PT Berdikari, namun permintaan itu tidak dipenuhi dengan alasan sudah habis. Kami malah disarankan untuk membeli kepada distributor," ungkapnya.
“Mereka (distributor) juga tidak dituduh sebagai kriminal seperti yang sering dituduhkan kepada penjaul daging sapi jika menjual diatas HAP. Ini sangat-sangat tidak adil,” tegasnya.
Seperti diketahui, impor daging kerbau hanya ditugaskan kepada BUMN Berdikari dan PPI. Berdasarkan Neraca Komoditas 2026, total kuota impor daging mencapai 297.000 ton. Rinciannya, sebanyak 100.000 ton dalam bentuk daging kerbau dari India, 75.000 ton daging sapi dari Brasil, 75.000 ton daging dari negara lain. Semua itu dialokasikan untuk BUMN. Sementara perusahaan swasta hanya mendapat 30.000 ton dan sisa 17.000 ton dialokasikan untuk daging industri.
Dari data itu jelas terlihat, daging kerbau saat ini dimonopoli oleh BUMN. Bahkan, hebatnya lagi, pemerintah juga memberikan Berdikari dan PPI jatah impor daging sapi 150.000 ton dari Brasil dan negara lain, yang merupakan pemangkasan jatah impor perusahaan swasta -- yang tahun lalu 180.000 ton kini dibabat tinggal 30.000 ton.
Di Atas HAP
Asnawi mengaku sudah pernah mendatangi Berdikari untuk bisa membeli daging kerbau India. Namun, Berdikari berkilah daging tersebut sudah habis. Menurutnya, daging kerbau India itu sudah didistribusikan kepada 12 distributor perusahaan swasta.
Dari data yang ada, ke-12 ditributor itu adalah PT Banyumas Agro Indonesia, CV Kawan Jaya Bersama, PT Anugerah Pangan Lestari, PT Hijrah Gizi Hewani (Hijrah Food), PT Artha Cipta Saudara, CV Cilacap Pangan Sejahtera, PT Boga Citra Langgeng, PT Borneo Pangan Sejahtera, PT Garindo Food International, PT Estika Tara Tiara, PT Soroja Niaga Boga dan PT Suri Nusantara Jaya.
"Atas nama Asosiasi (JAPPDI) kami pernah mengajukan permintaan untuk menjadi distributor kepada PT Berdikari, namun permintaan itu tidak dipenuhi dengan alasan sudah habis. Kami malah disarankan untuk membeli kepada distributor," ungkapnya.
Lihat Juga :