Solidaritas BRICS Retak di Tengah Perang Iran vs AS-Israel, Anggota Saling Bombardir
Selasa, 10 Maret 2026 - 08:02 WIB
loading...
Presiden Rusia Vladimir Putin saat bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela KTT BRICS di Kazan pada 23 Oktober 2024. FOTO/MEA
A
A
A
NEW DELHI - Aliansi BRICS hingga kini belum mengeluarkan pernyataan kolektif terkait serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang telah berlangsung selama sepekan terakhir. Keheningan organisasi di bawah kepemimpinan India ini dinilai para analis mengungkap batasan ambisi blok tersebut dalam membentuk ulang tatanan global.
"Tidak ada kelas penguasa BRICS yang akan membantu Iran, sementara pada saat yang sama, kepentingan kelas mereka ada pada kemakmuran Israel," ujar Direktur Centre for Social Change di University of Johannesburg, Patrick Bond, dikutip dari Middle East Eye, Selasa (10/3/2026).
Baca Juga: Sepekan Perang Melawan Iran, AS Sudah Tekor Rp102 Triliun
Kondisi saat ini sangat kontras dengan periode Juni 2025 di bawah kepemimpinan Brasil, saat BRICS dengan cepat mengutuk serangan terkoordinasi AS-Israel sebagai pelanggaran hukum internasional. Namun, sejak Operasi Epic Fury dimulai pada 28 Februari 2026 yang menewaskan lebih dari 1.230 orang, organisasi tersebut tetap diam meski Iran merupakan salah satu anggota BRICS.
Perbedaan sikap antaranggota terlihat sangat tajam mengikuti garis kepentingan geopolitik masing-masing. China, Rusia, dan Brasil segera mengecam serangan tersebut, di mana Beijing menyebut pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sebagai pelanggaran kedaulatan yang serius, sementara Moskow menggambarkannya sebagai tindakan agresi bersenjata yang tidak diprovokasi.
Di sisi lain, India mengambil jalur diplomasi yang berbeda dengan meningkatkan hubungan bilateral menjadi "Kemitraan Strategis Khusus" bersama Israel sesaat sebelum serangan dimulai. New Delhi baru mengeluarkan seruan untuk "dialog dan diplomasi" tiga hari setelah konflik pecah, tanpa melontarkan kritik langsung terhadap Washington maupun Tel Aviv.
Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup, Negara-negara Asia Panik Berebut Pasokan BBM
Situasi internal blok semakin rumit setelah Iran meluncurkan ratusan rudal balistik dan 1.400 drone ke Uni Emirat Arab (UEA) yang juga merupakan anggota BRICS. Serangan yang menargetkan instalasi militer AS di Abu Dhabi dan Dubai tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur serta menimbulkan korban jiwa dari kalangan sipil.
Fenomena sesama anggota BRICS yang terlibat dalam aksi militer langsung dianggap merusak gagasan aksi kolektif dan solidaritas organisasi. Kredibilitas blok ini akan diuji pada pertemuan puncak berikutnya di New Delhi pada September mendatang, di tengah keraguan publik atas kemampuan mereka bertindak sebagai satu kekuatan global yang utuh.
"Tidak ada kelas penguasa BRICS yang akan membantu Iran, sementara pada saat yang sama, kepentingan kelas mereka ada pada kemakmuran Israel," ujar Direktur Centre for Social Change di University of Johannesburg, Patrick Bond, dikutip dari Middle East Eye, Selasa (10/3/2026).
Baca Juga: Sepekan Perang Melawan Iran, AS Sudah Tekor Rp102 Triliun
Kondisi saat ini sangat kontras dengan periode Juni 2025 di bawah kepemimpinan Brasil, saat BRICS dengan cepat mengutuk serangan terkoordinasi AS-Israel sebagai pelanggaran hukum internasional. Namun, sejak Operasi Epic Fury dimulai pada 28 Februari 2026 yang menewaskan lebih dari 1.230 orang, organisasi tersebut tetap diam meski Iran merupakan salah satu anggota BRICS.
Perbedaan sikap antaranggota terlihat sangat tajam mengikuti garis kepentingan geopolitik masing-masing. China, Rusia, dan Brasil segera mengecam serangan tersebut, di mana Beijing menyebut pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sebagai pelanggaran kedaulatan yang serius, sementara Moskow menggambarkannya sebagai tindakan agresi bersenjata yang tidak diprovokasi.
Di sisi lain, India mengambil jalur diplomasi yang berbeda dengan meningkatkan hubungan bilateral menjadi "Kemitraan Strategis Khusus" bersama Israel sesaat sebelum serangan dimulai. New Delhi baru mengeluarkan seruan untuk "dialog dan diplomasi" tiga hari setelah konflik pecah, tanpa melontarkan kritik langsung terhadap Washington maupun Tel Aviv.
Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup, Negara-negara Asia Panik Berebut Pasokan BBM
Situasi internal blok semakin rumit setelah Iran meluncurkan ratusan rudal balistik dan 1.400 drone ke Uni Emirat Arab (UEA) yang juga merupakan anggota BRICS. Serangan yang menargetkan instalasi militer AS di Abu Dhabi dan Dubai tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur serta menimbulkan korban jiwa dari kalangan sipil.
Fenomena sesama anggota BRICS yang terlibat dalam aksi militer langsung dianggap merusak gagasan aksi kolektif dan solidaritas organisasi. Kredibilitas blok ini akan diuji pada pertemuan puncak berikutnya di New Delhi pada September mendatang, di tengah keraguan publik atas kemampuan mereka bertindak sebagai satu kekuatan global yang utuh.
(nng)
Lihat Juga :