Profil dan Biografi Michael Bambang Hartono: Orang Terkaya ke-4 RI yang Hobi Jajan di Pinggir Jalan
Kamis, 19 Maret 2026 - 16:06 WIB
loading...
A
A
A
Kejayaan tak berlangsung cukup lama, setahun berselang terjadi kebakaran pabrik rokok Djarum dan membakar habis produksi dan hanya menyisakan Kawasan pabrik di Kliwon, Kudus, Jawa Tengah. Kesedihan belum sempat mereda, beberapa waktu kemudian, sang ayah Oei Wie Gwan meninggal dunia.
Namun Michael Bambang dan Budi Hartono punya keharusan mengambil alih memimpin perusahaan yang sedang tertatih tersebut. Usia mereka masih sangat muda kala itu, mereka hanya tak ingin musibah kebakaran dan wafatnya sang ayah memperburuk kondisi perusahaan.
Setelahnya mereka terus berbenah, salah satunya mendatangkan peralatan produksi dan pengolahan tembakau dari Inggris dan Jerman Barat. Pelan tapi pasti, usaha rokok Djarum berhasil bangkit dan pulih.
Produksi rokok semakin menguat di sepanjang tahun 1965 hingga 1968 dan berhasil mencapai 3 miliar batang. Di tahun 1973, PT. Djarum melebarkan sayap ke pasar Amerika Serikat, Arab Saudi, Jepang dan negara lainnya. Produksi rokok waktu itu mencapai 48 miliar batang per tahun, 20% dari total produksi rokok nasional.
Michael dan Robert bahu membahu mengibarkan bendera Djarum sampai ke luar negeri. Djarum mendominasi pasar rokok kretek di Amerika Serikat, melampaui Gudang Garam dan Sampoerna. Mereka berdua tak hanya bermain di industri rokok.
Hartono bersaudara juga mencetuskan lahirnya PT Indonesia Electronic & Engineering di tahun 1975, kemudian diubah menjadi PT Hartono Istana Electronic di tahun 1976. Hal itu membuat kekayaan Bambang Hartono kian bertambah.
Saat setelah merger dilakukan, namanya diubah kembali menjadi PT Hartono Istana Teknologi yang memproduksi berbagai peralatan elektronik dengan merek dagang Polytron. Merek Polytron terkenal sebagai perusahaan memproduksi televisi, pengeras suara, kulkas dan elektronik lainnya.
Setelahnya Michael dan Robert menjadi pemegang saham terbesar dari Bank Central Asia (BCA). Melalui Farindo Holding Ltd, mereka berdua, menguasai 51 persen saham BCA.
Namun Michael Bambang dan Budi Hartono punya keharusan mengambil alih memimpin perusahaan yang sedang tertatih tersebut. Usia mereka masih sangat muda kala itu, mereka hanya tak ingin musibah kebakaran dan wafatnya sang ayah memperburuk kondisi perusahaan.
Setelahnya mereka terus berbenah, salah satunya mendatangkan peralatan produksi dan pengolahan tembakau dari Inggris dan Jerman Barat. Pelan tapi pasti, usaha rokok Djarum berhasil bangkit dan pulih.
Produksi rokok semakin menguat di sepanjang tahun 1965 hingga 1968 dan berhasil mencapai 3 miliar batang. Di tahun 1973, PT. Djarum melebarkan sayap ke pasar Amerika Serikat, Arab Saudi, Jepang dan negara lainnya. Produksi rokok waktu itu mencapai 48 miliar batang per tahun, 20% dari total produksi rokok nasional.
Michael dan Robert bahu membahu mengibarkan bendera Djarum sampai ke luar negeri. Djarum mendominasi pasar rokok kretek di Amerika Serikat, melampaui Gudang Garam dan Sampoerna. Mereka berdua tak hanya bermain di industri rokok.
Hartono bersaudara juga mencetuskan lahirnya PT Indonesia Electronic & Engineering di tahun 1975, kemudian diubah menjadi PT Hartono Istana Electronic di tahun 1976. Hal itu membuat kekayaan Bambang Hartono kian bertambah.
Saat setelah merger dilakukan, namanya diubah kembali menjadi PT Hartono Istana Teknologi yang memproduksi berbagai peralatan elektronik dengan merek dagang Polytron. Merek Polytron terkenal sebagai perusahaan memproduksi televisi, pengeras suara, kulkas dan elektronik lainnya.
Setelahnya Michael dan Robert menjadi pemegang saham terbesar dari Bank Central Asia (BCA). Melalui Farindo Holding Ltd, mereka berdua, menguasai 51 persen saham BCA.
Lihat Juga :