Perang Iran Picu Stagflasi, Ekonomi Global Mulai Terguncang

Jum'at, 27 Maret 2026 - 08:41 WIB
loading...
Perang Iran Picu Stagflasi,...
Konflik bersenjata yang melibatkan Iran dalam empat pekan terakhir mulai mengguncang stabilitas ekonomi utama dunia seiring melonjaknya harga energi. FOTO/AP
A A A
WASHINGTON - Konflik bersenjata yang melibatkan Iran dalam empat pekan terakhir mulai mengguncang stabilitas ekonomi utama dunia seiring melonjaknya harga energi dan meningkatnya ketidakpastian pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran terjadinya stagflasi, di mana pertumbuhan ekonomi melambat secara signifikan di tengah lonjakan inflasi yang sulit terkendali.

Kepala ekonom bisnis S&P Global Market Intelligence, Chris Williamson, menyebut kondisi di zona euro saat ini telah membunyikan alarm peringatan bagi perekonomian internasional.

"Kondisi zona euro membunyikan alarm stagflasi, yakni kombinasi stagnasi ekonomi dengan kenaikan harga," ujar Williamson menanggapi hasil survei bisnis terbaru dikutip dari Reuters, Jumat (27/3/2026).

Baca Juga: Iran Ungkap Daftar 6 Negara Sahabat Bebas Lewat Selat Hormuz, Indonesia Tak Disebut

Laporan S&P Global menunjukkan Indeks Manajer Pembelian (PMI) komposit zona euro merosot ke level terendah dalam 10 bulan, yakni 50,5 pada Maret 2026. Penurunan ini mencerminkan tertahannya aktivitas sektor swasta akibat lonjakan harga minyak dan gas yang mengganggu rantai pasok global.

Situasi serupa terjadi di Amerika Serikat, di mana Indeks Output PMI Komposit turun menjadi 51,4 pada Maret, level terendah sejak April tahun lalu. Pelemahan sentimen bisnis ini juga memberikan sinyal negatif terhadap prospek penyerapan tenaga kerja di sektor swasta Amerika Serikat dalam beberapa bulan ke depan.



Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent kembali merangkak naik ke level 103,35 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi 91,40 dolar AS per barel. Kenaikan ini dipicu oleh pudarnya optimisme pasar terhadap upaya deeskalasi di Timur Tengah setelah Iran menyatakan masih meninjau proposal perdamaian dari Amerika Serikat.

Gangguan distribusi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi seperlima pasokan minyak mentah dunia, menjadi faktor utama volatilitas harga. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut situasi ini sebagai gangguan pasokan minyak bumi terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah modern.

Negara-negara anggota G7 lainnya, seperti Inggris dan Jepang, juga melaporkan perlambatan aktivitas bisnis ke level terendah dalam enam bulan terakhir. Biaya input manufaktur di Inggris tercatat meningkat dengan laju tercepat sejak tahun 1992, yang berpotensi diteruskan kepada konsumen akhir.

Baca Juga: Industri Manufaktur RI Kena Pukulan Ganda, Terhimpit Krisis Gas hingga Konflik Timur Tengah

Di Asia, India mencatatkan pertumbuhan sektor swasta terendah dalam tiga tahun terakhir akibat ketergantungan impor energi yang mencapai 90 persen. Kondisi ini memaksa banyak perusahaan di India untuk memangkas margin keuntungan guna menutupi kenaikan biaya operasional yang sangat drastis.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan akan meningkatkan tekanan ekonomi dan militer jika Teheran tidak segera menyetujui proposal perdamaian 15 poin yang diajukan. Namun, pihak Iran hingga saat ini belum menunjukkan rencana untuk menggelar pembicaraan langsung guna mengakhiri konflik tersebut.

Guna mengantisipasi dampak yang lebih luas, sejumlah pemimpin dunia termasuk Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi telah meminta IEA untuk mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak tambahan. Langkah darurat ini diharapkan dapat menstabilkan pasar energi dunia yang kian rapuh akibat ketegangan geopolitik yang berkepanjangan.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Timur Tengah...
Perang Timur Tengah Paksa Bank Sentral Terus Sesuaikan Kebijakan Moneter
AS-Iran Mendadak Gencatan...
AS-Iran Mendadak Gencatan Senjata, Harga Minyak Merosot Tajam hingga 5%
Selama Perang dengan...
Selama Perang dengan AS, Penjualan Minyak Iran Tembus Rp323 Triliun
Biaya Logistik Global...
Biaya Logistik Global Menggila, Ancaman Inflasi Tak Hanya dari Harga Minyak
Sepekan ke Depan, Rupiah...
Sepekan ke Depan, Rupiah Masih Akan Dibayangi Tekanan
Pasokan Minyak Global...
Pasokan Minyak Global Semakin Ketat, India dan China Berebut Diskon dari Rusia
Takut dengan Ancaman...
Takut dengan Ancaman Iran, Netanyahu Diam-diam Terbang ke AS Temui Trump
Media Iran Rilis Video...
Media Iran Rilis Video Cara Bunuh Ibu Negara AS Melania Trump, Secret Service Turun Tangan
Mojtaba Khamenei kepada...
Mojtaba Khamenei kepada Hizbullah: Tak Ada Jalan Lain Selain Jihad Melawan AS dan Israel
Rekomendasi
Rayakan Usia 75 Tahun,...
Rayakan Usia 75 Tahun, PPPK Petra Bangun Petra Christian School di Surabaya Barat
Jadwal Timnas Indonesia...
Jadwal Timnas Indonesia Selanjutnya di Piala AFF 2026 usai Bantai Kamboja 5-1
Wasit Slavko Vincic...
Wasit Slavko Vincic Pensiun usai Pimpin Final Piala Dunia 2026
Berita Terkini
BBT Perkuat Ekosistem...
BBT Perkuat Ekosistem Industri Batam lewat Ekspansi Fiber dan 5G
Rupiah Keok Sentuh Rp18.080...
Rupiah Keok Sentuh Rp18.080 per Dolar AS, Catat Kinerja Terburuk di Asia
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp9.000, Kini Dibanderol Rp2,61 Juta per Gram
Rupiah Hari Ini Dibuka...
Rupiah Hari Ini Dibuka Melemah ke Rp18.068, Tersengat Kabar Independensi BI
OSL Indonesia Bidik...
OSL Indonesia Bidik Antusiasme Investor Melalui Kompetisi Trading
IHSG Hari Ini Lanjutkan...
IHSG Hari Ini Lanjutkan Penurunan, Dibuka Melemah ke 6.175
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved