Harga Tepung Beras Melonjak, Pelaku UMKM Kini Tertekan
Selasa, 31 Maret 2026 - 19:36 WIB
loading...
A
A
A
“Semoga harga tepung beras kembali normal. Karena berat buat kami sebagai UMKM,” tambahnya.
Kondisi serupa dialami Wenny (39) dan Diki (51), pelaku UMKM di Kampung Kue Pekantingan, Cirebon, Jawa Barat, yang memproduksi kue tradisional seperti talam dan lapis. “Harga tepung beras naik terus, sekarang Rp7.900 per bungkus (ukuran 500 gram). Tentu berat buat kami, apalagi harga bahan baku lain seperti gula pasir juga ikut naik,” kata Wenny.
Wenny memilih tidak menaikkan harga jual, tapi mengecilkan ukuran kue yang dibandrol seharga Rp1.600 per potong. Upaya lain yang ia lakukan adalah fokus pada pembuatan kue yang tidak menggunakan tepung beras, seperti botok roti. “Mau naikin harga susah, pasti dikomplain konsumen. Jadi ukuran kuenya agak dikecilin,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Diki, pembuat aneka kue lapis, talam, cikak, dodol, hingga cilok yang dipasarkan ke Pasar Arjawinangun, Tegal Gubug, Kertasemaya, Jatibarang, hingga Indramayu, Jawa Barat. “Harga tepung beras naiknya nggak kira-kira, sekarang Rp 154.000 per karton atau Rp15.400 per Kg. Terpaksa ukuran kuenya dikecilin,” papar Diki.
Diki yang sudah berjualan selama puluhan tahun ini mengaku sedih. Pasalnya, di bulan ramadan yang biasanya permintaan dari konsumen cukup tinggi, tapi kini malah sebaliknya. “Saya sampai tidak produksi karena sepi orderan. Kalau harga tepung beras terus naik bagaimana dengan keberlangsungan usaha kami,” ungkap Diki.
Kenaikan harga tepung beras menjadi tantangan bagi keberlangsungan UMKM kuliner yang sangat bergantung pada stabilitas harga bahan baku. Para pelaku usaha berharap adanya solusi yang mampu menjaga keseimbangan antara kebijakan pengelolaan beras nasional dan keberlanjutan usaha kecil. Mereka hanya berharap agar UMKM tetap dapat berproduksi, menjaga kualitas dan daya saing produknya di pasaran.
Kondisi serupa dialami Wenny (39) dan Diki (51), pelaku UMKM di Kampung Kue Pekantingan, Cirebon, Jawa Barat, yang memproduksi kue tradisional seperti talam dan lapis. “Harga tepung beras naik terus, sekarang Rp7.900 per bungkus (ukuran 500 gram). Tentu berat buat kami, apalagi harga bahan baku lain seperti gula pasir juga ikut naik,” kata Wenny.
Wenny memilih tidak menaikkan harga jual, tapi mengecilkan ukuran kue yang dibandrol seharga Rp1.600 per potong. Upaya lain yang ia lakukan adalah fokus pada pembuatan kue yang tidak menggunakan tepung beras, seperti botok roti. “Mau naikin harga susah, pasti dikomplain konsumen. Jadi ukuran kuenya agak dikecilin,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Diki, pembuat aneka kue lapis, talam, cikak, dodol, hingga cilok yang dipasarkan ke Pasar Arjawinangun, Tegal Gubug, Kertasemaya, Jatibarang, hingga Indramayu, Jawa Barat. “Harga tepung beras naiknya nggak kira-kira, sekarang Rp 154.000 per karton atau Rp15.400 per Kg. Terpaksa ukuran kuenya dikecilin,” papar Diki.
Diki yang sudah berjualan selama puluhan tahun ini mengaku sedih. Pasalnya, di bulan ramadan yang biasanya permintaan dari konsumen cukup tinggi, tapi kini malah sebaliknya. “Saya sampai tidak produksi karena sepi orderan. Kalau harga tepung beras terus naik bagaimana dengan keberlangsungan usaha kami,” ungkap Diki.
Kenaikan harga tepung beras menjadi tantangan bagi keberlangsungan UMKM kuliner yang sangat bergantung pada stabilitas harga bahan baku. Para pelaku usaha berharap adanya solusi yang mampu menjaga keseimbangan antara kebijakan pengelolaan beras nasional dan keberlanjutan usaha kecil. Mereka hanya berharap agar UMKM tetap dapat berproduksi, menjaga kualitas dan daya saing produknya di pasaran.
(akr)
Lihat Juga :