Harga Tepung Beras Melonjak, Pelaku UMKM Kini Tertekan
Selasa, 31 Maret 2026 - 19:36 WIB
loading...
A
A
A
“Rata-rata di Lampung Selatan dijual di kisaran harga Rp10.000 per kg. Beras patahan ini tidak diproduksi secara khusus, melainkan hasil samping proses penggilingan padi, dengan persentase kurang dari 10% dari total produksi,” papar Midi.
Perbedaan harga beras pecah lokal yang lebih tinggi dibanding beras pecah impor berpotensi memengaruhi biaya produksi industri tepung beras. Terutama apabila pihak industri harus sepenuhnya menggunakan beras pecah lokal yang berdampak pada kenaikan harga tepung beras di pasaran.
Dampak penggunaan beras pecah lokal untuk pembuatan tepung beras mulai dirasakan para pelaku UMKM yang memproduksi kue rumahan di berbagai daerah. Kenaikan harga bahan baku memaksa mereka melakukan penyesuaian agar usaha kuenya tetap berjalan.
Jumiati, pemilik usaha kue “Berkah Snack” di Kliwonan, Sugihan, Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, memaparkan, bahwa harga tepung beras kemasan yang biasa ia gunakan mengalami kenaikan cukup signifikan. Harga per karton isi 20 bungkus kemasan 500 gram saat ini mencapai Rp158.500 atau Rp15.850 per kg, dari semula Rp14.000 per kg.
Kenaikan ini terasa memberatkan karena tepung beras merupakan bahan baku utama berbagai produk camilan keripik yang ia produksi, seperti keripik tempe, keripik pare dan keripik bayam dengan kebutuhan mencapai sekitar dua kuintal per hari.
“Tepung beras naik sejak akhir Januari 2025. Kami terpaksa menaikkan harga jual keripik sebesar Rp 2.000 per bal,” ujarnya.
Baca Juga: Harga Singkong Ditetapkan Rp1.350/Kg untuk Industri Tepung
Jumiati mematok harga Rp90.000 per bal untuk keripik bayam (berat 2,5 kg), dan Rp75.000 per bal untuk keripik tempe dan keripik pare (berat 1,75 kg). Produk Berkah Snack dipasarkan ke sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Solo, Semarang, Ungaran, dan Boyolali, dengan pendapatan rata-rata Rp20 juta per minggu dengan mempekerjakan 12 karyawan.
Perbedaan harga beras pecah lokal yang lebih tinggi dibanding beras pecah impor berpotensi memengaruhi biaya produksi industri tepung beras. Terutama apabila pihak industri harus sepenuhnya menggunakan beras pecah lokal yang berdampak pada kenaikan harga tepung beras di pasaran.
Dampak penggunaan beras pecah lokal untuk pembuatan tepung beras mulai dirasakan para pelaku UMKM yang memproduksi kue rumahan di berbagai daerah. Kenaikan harga bahan baku memaksa mereka melakukan penyesuaian agar usaha kuenya tetap berjalan.
Jumiati, pemilik usaha kue “Berkah Snack” di Kliwonan, Sugihan, Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, memaparkan, bahwa harga tepung beras kemasan yang biasa ia gunakan mengalami kenaikan cukup signifikan. Harga per karton isi 20 bungkus kemasan 500 gram saat ini mencapai Rp158.500 atau Rp15.850 per kg, dari semula Rp14.000 per kg.
Kenaikan ini terasa memberatkan karena tepung beras merupakan bahan baku utama berbagai produk camilan keripik yang ia produksi, seperti keripik tempe, keripik pare dan keripik bayam dengan kebutuhan mencapai sekitar dua kuintal per hari.
“Tepung beras naik sejak akhir Januari 2025. Kami terpaksa menaikkan harga jual keripik sebesar Rp 2.000 per bal,” ujarnya.
Baca Juga: Harga Singkong Ditetapkan Rp1.350/Kg untuk Industri Tepung
Jumiati mematok harga Rp90.000 per bal untuk keripik bayam (berat 2,5 kg), dan Rp75.000 per bal untuk keripik tempe dan keripik pare (berat 1,75 kg). Produk Berkah Snack dipasarkan ke sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Solo, Semarang, Ungaran, dan Boyolali, dengan pendapatan rata-rata Rp20 juta per minggu dengan mempekerjakan 12 karyawan.
Lihat Juga :