Dominasi Dolar AS Terkikis, Transaksi Yuan di ASEAN Tembus Rp22.000 Triliun
Sabtu, 04 April 2026 - 21:00 WIB
loading...
Bank Pembangunan BRICS (New Development Bank/NDB) menyebut yuan sebagai masa depan pembiayaan berbasis mata uang lokal. FOTO/SCMP
A
A
A
JAKARTA - Bank Pembangunan BRICS (New Development Bank/NDB) menyebut yuan sebagai masa depan pembiayaan berbasis mata uang lokal di tengah meningkatnya upaya negara-negara berkembang mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tren ini tercermin dari lonjakan signifikan transaksi lintas batas menggunakan yuan, khususnya di kawasan Asia Tenggara.
Data terbaru menunjukkan nilai penyelesaian transaksi lintas batas renminbi antara China dan negara ASEAN mencapai 8,9 triliun yuan atau sekitar USD1,3 triliun pada 2024 atau setara Rp22.000 triliun meningkat lebih dari 50% secara tahunan.
"Kami tidak hanya melihat pasar obligasi China sebagai sumber pembiayaan murah, tetapi sebagai masa depan keuangan berbasis mata uang lokal," kata Direktur Jenderal Treasury dan Manajemen Portofolio New Development Bank (NDB), Zhongxia Jin dikutip dari The Hindu Business Line, Sabtu (4/4/2026).
Baca Juga: Dedolarisasi Kian Nyata, BRICS Uji Sistem Pembayaran Baru Tanpa Dolar AS
Dari total transaksi tersebut, sekitar 2,4 triliun yuan berasal dari perdagangan barang, sementara sekitar 900 miliar yuan berasal dari investasi langsung. Penguatan peran yuan juga terlihat dari semakin banyaknya bank sentral yang memasukkan mata uang tersebut ke dalam cadangan devisa mereka, yang kini mencapai 23 negara.
Di sisi lain, Bank Rakyat China melaporkan bahwa total pembayaran dan penerimaan lintas batas dalam yuan meningkat 21,1% dalam delapan bulan pertama 2024, mencapai 41,6 triliun yuan. Hal ini menunjukkan percepatan internasionalisasi yuan di tengah dinamika geopolitik global.
NDB juga terus mendorong penggunaan yuan melalui penerbitan obligasi. Sepanjang 2025, NDB menerbitkan obligasi berdenominasi yuan senilai 25 miliar yuan atau sekitar USD3,6 miliar, yang menjadi penerbitan terbesar sejak pertama kali masuk pasar pada 2016.
Baca Juga: Ajukan Gencatan Senjata 48 Jam dengan Iran, AS Hampir Menyerah?
Sementara itu, tren diversifikasi cadangan devisa juga terlihat di Brasil. Bank sentral negara tersebut mencatat porsi aset dalam dolar AS turun menjadi 72% pada akhir 2025 dari 78,45% pada tahun sebelumnya, level terendah sepanjang sejarah.
Meski Presiden AS Donald Trump sempat mengancam tarif hingga 100% bagi negara-negara BRICS yang mengurangi penggunaan dolar, data menunjukkan tren dedolarisasi tetap berlanjut. Sejumlah analis menilai pergeseran ini bersifat struktural, seiring berkembangnya pasar keuangan alternatif dan meningkatnya peran ekonomi negara-negara berkembang dalam sistem global.
Data terbaru menunjukkan nilai penyelesaian transaksi lintas batas renminbi antara China dan negara ASEAN mencapai 8,9 triliun yuan atau sekitar USD1,3 triliun pada 2024 atau setara Rp22.000 triliun meningkat lebih dari 50% secara tahunan.
"Kami tidak hanya melihat pasar obligasi China sebagai sumber pembiayaan murah, tetapi sebagai masa depan keuangan berbasis mata uang lokal," kata Direktur Jenderal Treasury dan Manajemen Portofolio New Development Bank (NDB), Zhongxia Jin dikutip dari The Hindu Business Line, Sabtu (4/4/2026).
Baca Juga: Dedolarisasi Kian Nyata, BRICS Uji Sistem Pembayaran Baru Tanpa Dolar AS
Dari total transaksi tersebut, sekitar 2,4 triliun yuan berasal dari perdagangan barang, sementara sekitar 900 miliar yuan berasal dari investasi langsung. Penguatan peran yuan juga terlihat dari semakin banyaknya bank sentral yang memasukkan mata uang tersebut ke dalam cadangan devisa mereka, yang kini mencapai 23 negara.
Di sisi lain, Bank Rakyat China melaporkan bahwa total pembayaran dan penerimaan lintas batas dalam yuan meningkat 21,1% dalam delapan bulan pertama 2024, mencapai 41,6 triliun yuan. Hal ini menunjukkan percepatan internasionalisasi yuan di tengah dinamika geopolitik global.
NDB juga terus mendorong penggunaan yuan melalui penerbitan obligasi. Sepanjang 2025, NDB menerbitkan obligasi berdenominasi yuan senilai 25 miliar yuan atau sekitar USD3,6 miliar, yang menjadi penerbitan terbesar sejak pertama kali masuk pasar pada 2016.
Baca Juga: Ajukan Gencatan Senjata 48 Jam dengan Iran, AS Hampir Menyerah?
Sementara itu, tren diversifikasi cadangan devisa juga terlihat di Brasil. Bank sentral negara tersebut mencatat porsi aset dalam dolar AS turun menjadi 72% pada akhir 2025 dari 78,45% pada tahun sebelumnya, level terendah sepanjang sejarah.
Meski Presiden AS Donald Trump sempat mengancam tarif hingga 100% bagi negara-negara BRICS yang mengurangi penggunaan dolar, data menunjukkan tren dedolarisasi tetap berlanjut. Sejumlah analis menilai pergeseran ini bersifat struktural, seiring berkembangnya pasar keuangan alternatif dan meningkatnya peran ekonomi negara-negara berkembang dalam sistem global.
(nng)
Lihat Juga :