Kelas Menengah Terus Menyusut, Mampukah RI Jadi Negara Maju di 2045?

Kamis, 16 April 2026 - 20:59 WIB
loading...
Kelas Menengah Terus...
Menyusutnya jumlah kelas menengah menjadi sorotan, dimana Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan kelas menengah mulai turun sejak 2019 (21,5%), hingga mencapai 16,9% di 2024. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Menyusutnya jumlah kelas menengah menjadi sorotan, dimana Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan kelas menengah mulai turun sejak 2019 (21,5%), hingga mencapai 16,9% di 2024. Pada saat yang sama, golongan menuju kelas menengah (aspiring middle class) terus menunjukkan peningkatan hingga mencapai 48,8% di 2024.

Padahal, Bappenas pernah memperkirakan Indonesia berpeluang menjadi negara maju pada 2045 jika proporsi kelas menengah mencapai 70% dari total penduduk. Kelas menengah sendiri punya peranan yang krusial dalam perekonomian Indonesia .

Pada 2024, kelompok ini tercatat menyumbang 81,5% dari total konsumsi rumah tangga. Sementara, konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang utama (58,8%) produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Baca Juga: Fenomena Makan Tabungan Warga RI Belum Berakhir, Habis Buat Makan dan Bayar Cicilan

"Middle class merupakan kunci perubahan negara dan society," ujar Co-founder & CEO Katadata Indonesia, Metta Dharmasaputra.



Laporan flagship Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) membedah kondisi kelas menengah di Indonesia. Metta berharap riset KIMCI bisa menjadi acuan bagi berbagai pemangku kepentingan dalam memahami kondisi kelompok kelas menengah di Indonesia.

"Mudah-mudahan KIMCI di tahun keduanya bisa menjadi acuan untuk memahami peta lanskap middle class di Indonesia," ujar Metta saat membuka acara IDE Katadata Future Forum 2026 bertema "Adapting to What Comes Next" di Djakarta Theatre, Jakarta, Rabu (15/4).

Baca Juga: Kelas Menengah Masih Jadi Kelompok Paling Rentan Kena Tekanan Ekonomi

Dalam acara peluncuran KIMCI, diungkapkan juga temuan bahwa banyak kelas menengah yang tidak merasa cukup dengan memiliki satu pekerjaan. “Bagi kelas menengah satu sumber pendapatan tidak lagi cukup untuk memberikan kepastian karena itu pekerjaan sampingan bukan sekedar tambahan melainkan sebuah lapisan pengaman,” ujar Vice President Finance & Business Development Katadata Ivan Triyogo Priambodo.

Menurutnya, hal ini sebagai sebuah pertanda jika kelas menengah sedang membangun strategi hidup yang lebih adaptif dan lebih tahan terhadap ketidakpastian. “Pada saat yang sama pola konsumsi semakin bijak, keputusan belanja tidak semata-mata ditentukan harga yang paling murah. Yang semakin penting bagi mereka adalah nilai,” katanya.

Sementara itu, Research Analyst Katadata Insight Center Kholis Dana P. yang juga menyampaikan hasil temuan riset. Menurutnya, kebijakan publik memiliki peran penting mulai dari menjaga daya beli, mengendalikan biaya hidup, memperluas akses terhadap pekerjaan, hingga perlindungan sosial yang adaptif.

"Kelas menengah bukan hanya tentang perlindungan, tetapi tentang memastikan mereka tetap tumbuh dan berkontribusi secara berkelanjutan," kata Kholis.

Dalam riset KIMCI dibahas sejumlah solusi bagaimana kelas menengah tetap bisa bangkit atau setidaknya bertahan di tengah berbagai impitan ekonomi. Termasuk, mulai memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung produktivitas, mencari informasi, mempelajari keterampilan baru, hingga menyelesaikan pekerjaan profesional.

KIMCI 2026 memotret kondisi terkini kelas menengah secara mendalam mulai dari perilaku konsumsi hingga sentimen ekonomi secara komprehensif.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Imbas BI Rate Naik,...
Imbas BI Rate Naik, Pasar Rumah Kelas Menengah Mulai Ngerem
Menakar Efek Domino...
Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
Harga Pertamax Melejit...
Harga Pertamax Melejit Jadi Rp16.250, Kelas Menengah Kian Terjepit
Beban Berat Kelas Menengah...
Beban Berat Kelas Menengah di Tengah Kenaikan Pertamax jadi Rp16.250/Liter
Jelajahi 197 Negara,...
Jelajahi 197 Negara, Peneliti Temukan Kesederhanaan Jadi Kunci Kebahagiaan
Tekan Risiko Turun Kelas,...
Tekan Risiko Turun Kelas, 51,8% Kelas Menengah Pisahkan Pos Pengeluaran
Fenomena Krisis Merayap...
Fenomena Krisis Merayap dan Kelas Menengah Indonesia
Menggugat Ilusi Kapitalisme...
Menggugat Ilusi Kapitalisme Negara
Saat Harga Energi Melonjak,...
Saat Harga Energi Melonjak, Kelas Menengah Menanggung Beban Terpanjang
Rekomendasi
Kelakar Prabowo soal...
Kelakar Prabowo soal Nama Panglima TNI dan Kapolri: Susah Diganti
Simak jadwal Timnas...
Simak jadwal Timnas Futsal U-17 Indonesia di VI Nation U-17 Futsal Tournament 2026
Israel Anggap Turki...
Israel Anggap Turki Lebih Berbahaya Dibandingkan Iran
Berita Terkini
Prabowo Prediksi Indonesia...
Prabowo Prediksi Indonesia Swasembada BBM 3 Tahun Lagi
Potongan Aplikasi Gojek...
Potongan Aplikasi Gojek Turun Jadi 8% Mulai 1 Juli 2026, Manajemen GOTO Angkat Suara
Biaya Medis Meningkat,...
Biaya Medis Meningkat, Allianz Ajak Pahami Pentingnya Perlindungan Kesehatan
Pascapengumuman MSCI,...
Pascapengumuman MSCI, IHSG Sesi Siang Ambruk 1,62% ke Level 6.002
Harga Emas Terjun Rp18...
Harga Emas Terjun Rp18 Ribu, Hari Ini 1 Gram Dijual Rp2.655.000 per Gram
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved