Rupiah Masih Berkutat di Rp17.168 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Senin, 20 April 2026 - 15:56 WIB
loading...
Rupiah Masih Berkutat...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat tipis pada akhir perdagangan Senin (20/4/2026), dengan kenaikan 21 poin atau sekitar 0,12%. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat tipis pada akhir perdagangan Senin (20/4/2026), dengan kenaikan 21 poin atau sekitar 0,12% ke level Rp17.168 per dolar AS. Penguatan mata uang Garuda juga terlihat pada data JISDOR BI, dimana hari ini kurs rupiah bertengger ke posisi Rp17.176/USD.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa sentimen datang dari Selat Hormuz yang dikabarkan kembali ditutup setelah Amerika Serikat atau AS dan Iran sama-sama mengatakan pihak lain telah melanggar kesepakatan gencatan senjata mereka dengan menyerang kapal-kapal selama akhir pekan.

"Karena AS menembaki dan menangkap kapal Iran yang mencoba menghindari blokade, kata Presiden Donald Trump," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Baca Juga: Rupiah Masih Rapuh, Hari Ini Sentuh Level Rp17.104 per USD

Militer AS telah menyita sebuah kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade, kata Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu. Sementara Iran mengatakan, tidak akan berpartisipasi dalam putaran kedua pembicaraan damai meskipun Trump mengancam akan melakukan serangan udara lagi.



Adapun Amerika telah mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Iran telah mencabut dan kemudian memberlakukan kembali blokade terhadap Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang dimulai hampir dua bulan lalu.

Disisi lain, harga minyak melonjak hingga 7% pada hari Senin, membuat pasar sebagian besar tegang karena efek inflasi dari perang Iran. Kekhawatiran atas inflasi yang dipicu oleh energi merupakan beban utama pada harga logam sejak dimulainya konflik pada akhir Februari.

Selain itu ketegangan baru ini membuat ekspektasi penurunan suku bunga AS tahun ini telah bergeser secara signifikan ke arah sikap "lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama" sebagai akibat dari inflasi yang masih tinggi akibat tingginya harga energi dan ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp17.100 per Dolar AS, Menko Airlangga Singgung Mata Uang Lain

Dari sentimen domestik, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mewanti-wanti agar pemerintah tidak belanja berlebihan di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah. Peringatan ini muncul sejalan dengan adanya risiko resesi jika perang terus berkecamuk di Iran dan menekan harga bahan bakar minyak.

IMF pun melihat tidak adanya solusi yang jelas untuk mengatasi permasalahan ini. Penutupan Selat Hormuz dan kerusakan serius pada fasilitas energi penting di Timur Tengah meningkatkan prospek krisis energi besar, jika solusi jangka panjang tidak segera ditemukan.

Dengan meningkatnya lintasan utang publik, ruang fiskal jauh lebih sempit daripada sebelumnya. Batasan harga, subsidi, dan intervensi menjadi kebijakan populer, tetapi hal itu mendistorsi harga dan kerap dirancang dengan buruk karena menyebabkan ketergantungan serta 'berbiaya mahal'.

Dalam skenario terburuk, kebijakan moneter dan fiskal harus siap untuk beralih mendukung perekonomian dan melindungi sistem keuangan, bersamaan dengan kebijakan keuangan dan likuiditas yang tepat.

Namun bank sentral tidak akan bisa berbuat banyak dalam hal memengaruhi harga energi yang akan mendorong inflasi naik. Pasar pun akan memperhitungkan kenaikan suku bunga.

Dalam situasi ini, IMF juga meminta bank sentral yaitu Bank Indonesia tidak buru-buru menaikkan suku bunga selama ekspektasi inflasi tetap terkendali.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.160-Rp17.200 per dolar AS.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Tembus 18.009...
Rupiah Tembus 18.009 per Dolar AS, Pasar Respons Negatif Mundurnya Bos BI
Efek Gubernur BI Mundur,...
Efek Gubernur BI Mundur, Rupiah Melemah ke Rp17.972 per Dolar AS
Sepekan ke Depan, Rupiah...
Sepekan ke Depan, Rupiah Masih Akan Dibayangi Tekanan
Pasar Cemas Tarif Baru...
Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
EskaIasi Laut Merah...
EskaIasi Laut Merah Tekan Rupiah, Dolar AS Ditutup ke Rp17.936 Sore Ini
Uang Beredar Tumbuh...
Uang Beredar Tumbuh 8,7%,  Per Juni 2026 Tembus Rp10.432,8 Triliun
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Secret Service hingga...
Secret Service hingga FBI Dilibatkan Uji Keaslian Dolar Sitaan Kasus Febrie Adriansyah, Ini Alasannya
Stabilitas Harga Rupiah...
Stabilitas Harga Rupiah Pasca BI Rate Naik (Lagi)
Rekomendasi
Link Live Streaming...
Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026, Kick-off Malam Ini!
Kaus Jimin BTS Lampaui...
Kaus Jimin BTS Lampaui Jersey Lionel Messi di Lelang Amal FIFA
iCAR V27 REEV Mendarat...
iCAR V27 REEV Mendarat Mulus di Indonesia 3 Hari Jelang GIIAS 2026?
Berita Terkini
BPDP dan RPN Dorong...
BPDP dan RPN Dorong UMKM Jadi Penggerak Hilirisasi Pangan Berbasis Sawit
AS-Iran Mendadak Gencatan...
AS-Iran Mendadak Gencatan Senjata, Harga Minyak Merosot Tajam hingga 5%
Rights Issue, cashUP...
Rights Issue, cashUP Siapkan Modal Baru untuk Perluasan Ekosistem Merchant
PLN EPI Dorong Standardisasi...
PLN EPI Dorong Standardisasi Biomassa, Efisiensi Rantai Pasok Jadi Penentu
Pengusaha Minta Transisi...
Pengusaha Minta Transisi Gubernur BI Berjalan Transparan dan Kredibel
Prioritaskan Lingkungan,...
Prioritaskan Lingkungan, PT Dairi Prima Mineral Pilih Tambang Bawah Tanah
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved