Hadapi Potensi El Nino 2026, APHI Dorong Antisipasi Dini Karhutla
Kamis, 23 April 2026 - 11:54 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, Tenaga Ahli APHI Asep Karsidi menjelaskan bahwa dinamika iklim 2026 menunjukkan adanya transisi menuju El Niño yang berpotensi menurunkan curah hujan secara signifikan, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Kondisi tersebut akan meningkatkan risiko kekeringan dan memperbesar potensi terjadinya karhutla jika tidak diantisipasi sejak dini.
Menurut Asep, periode April hingga awal Mei 2026 menjadi fase krusial untuk melakukan intervensi pencegahan sebelum kondisi memasuki musim kemarau penuh. Ia menekankan pentingnya pergeseran pendekatan dari reaktif menjadi antisipatif berbasis prediksi iklim, termasuk melalui penguatan sistem pemantauan dan pengelolaan sumber daya air. Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dinilai dapat menjadi instrumen strategis untuk menjaga kelembaban lingkungan apabila dilakukan pada waktu yang tepat.
Baca Juga: BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Berlangsung Lebih Panjang
Lebih lanjut, Asep menilai bahwa karhutla merupakan fenomena sistemik yang dipengaruhi oleh interaksi faktor atmosfer, hidrologi, dan aktivitas manusia. Karena itu, pencegahan tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui pendekatan terpadu yang mencakup prediksi iklim, pengelolaan air, intervensi teknologi, serta pengendalian aktivitas pembukaan lahan.
APHI menegaskan komitmennya mendorong kolaborasi multipihak antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam memperkuat pencegahan karhutla, dengan menekankan peran penting pemerintah pusat dan daerah dalam sosialisasi dini terkait potensi musim kemarau yang lebih panjang agar masyarakat menahan praktik pembukaan lahan dengan membakar, serta perlunya peningkatan peran Masyarakat Peduli Api (MPA) melalui penguatan kapasitas dan dukungan insentif agar upaya pencegahan lebih efektif dan berkelanjutan.
Menurut Asep, periode April hingga awal Mei 2026 menjadi fase krusial untuk melakukan intervensi pencegahan sebelum kondisi memasuki musim kemarau penuh. Ia menekankan pentingnya pergeseran pendekatan dari reaktif menjadi antisipatif berbasis prediksi iklim, termasuk melalui penguatan sistem pemantauan dan pengelolaan sumber daya air. Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dinilai dapat menjadi instrumen strategis untuk menjaga kelembaban lingkungan apabila dilakukan pada waktu yang tepat.
Baca Juga: BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Berlangsung Lebih Panjang
Lebih lanjut, Asep menilai bahwa karhutla merupakan fenomena sistemik yang dipengaruhi oleh interaksi faktor atmosfer, hidrologi, dan aktivitas manusia. Karena itu, pencegahan tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui pendekatan terpadu yang mencakup prediksi iklim, pengelolaan air, intervensi teknologi, serta pengendalian aktivitas pembukaan lahan.
APHI menegaskan komitmennya mendorong kolaborasi multipihak antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam memperkuat pencegahan karhutla, dengan menekankan peran penting pemerintah pusat dan daerah dalam sosialisasi dini terkait potensi musim kemarau yang lebih panjang agar masyarakat menahan praktik pembukaan lahan dengan membakar, serta perlunya peningkatan peran Masyarakat Peduli Api (MPA) melalui penguatan kapasitas dan dukungan insentif agar upaya pencegahan lebih efektif dan berkelanjutan.
(nng)
Lihat Juga :