Blokade Selat Hormuz, Pendapatan Minyak Arab Saudi Anjlok Rp1,6 Triliun per Hari
Jum'at, 24 April 2026 - 08:06 WIB
loading...
A
A
A
Lembaga keuangan Goldman Sachs bahkan memproyeksikan defisit fiskal Arab Saudi pada 2026 bisa mencapai 6,6% dari produk domestik bruto (PDB), jauh di atas proyeksi resmi pemerintah. Defisit tersebut diperkirakan mencapai USD80-USD90 miliar lebih tinggi dari anggaran sebelumnya sekitar USD44 miliar.
Baca Juga: Blokade AS Runtuh, 34 Kapal Hantu Iran Menyelinap Bawa Minyak Senilai Rp15,6 Triliun
Di sisi lain, Oman mencatat kinerja yang relatif lebih baik. Pendapatan minyak negara tersebut dilaporkan meningkat seiring lonjakan harga minyak patokan Oman yang sempat menyentuh USD124 per barel. Meski demikian, volume ekspor kawasan Teluk secara keseluruhan masih terbatas.
Sementara itu, Amerika Serikat justru memanfaatkan situasi ini dengan meningkatkan ekspor minyak mentah. Data menunjukkan ekspor minyak AS berpotensi mencapai rekor baru sekitar 5,44 juta barel per hari, didorong permintaan dari Asia dan Eropa yang mencari alternatif pasokan.
Meski sejumlah perusahaan energi global menikmati keuntungan besar akibat lonjakan harga, kondisi ini tidak merata bagi semua produsen. Arab Saudi menghadapi tekanan fiskal akibat kombinasi harga tinggi dan volume produksi yang rendah, memperlihatkan kompleksitas dampak konflik terhadap pasar energi global.
Baca Juga: Blokade AS Runtuh, 34 Kapal Hantu Iran Menyelinap Bawa Minyak Senilai Rp15,6 Triliun
Di sisi lain, Oman mencatat kinerja yang relatif lebih baik. Pendapatan minyak negara tersebut dilaporkan meningkat seiring lonjakan harga minyak patokan Oman yang sempat menyentuh USD124 per barel. Meski demikian, volume ekspor kawasan Teluk secara keseluruhan masih terbatas.
Sementara itu, Amerika Serikat justru memanfaatkan situasi ini dengan meningkatkan ekspor minyak mentah. Data menunjukkan ekspor minyak AS berpotensi mencapai rekor baru sekitar 5,44 juta barel per hari, didorong permintaan dari Asia dan Eropa yang mencari alternatif pasokan.
Meski sejumlah perusahaan energi global menikmati keuntungan besar akibat lonjakan harga, kondisi ini tidak merata bagi semua produsen. Arab Saudi menghadapi tekanan fiskal akibat kombinasi harga tinggi dan volume produksi yang rendah, memperlihatkan kompleksitas dampak konflik terhadap pasar energi global.
(nng)
Lihat Juga :