1 Miliar Barel Minyak Terguncang Selat Hormuz, Dunia Terancam Resesi
Senin, 27 April 2026 - 22:38 WIB
loading...
Gangguan pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz diperkirakan telah mencapai 1 miliar barel mulai menekan keseimbangan pasar energi global. FOTO/AP
A
A
A
JAKARTA - Gangguan pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz diperkirakan telah mencapai 1 miliar barel mulai menekan keseimbangan pasar energi global. Para pelaku pasar memperingatkan, tanpa pembukaan jalur tersebut, penurunan permintaan minyak secara signifikan tidak terhindarkan.
"Permintaan mulai tergerus di sektor-sektor yang tidak langsung terlihat di pusat harga. Penyesuaian ini sudah terjadi, dan jika kondisi berlanjut, dampaknya akan semakin besar," ujar Kepala Ekonom Trafigura Group, Saad Rahim dikutip Yahoo Finance dari Bloomberg, Senin (27/4/2026).
Seiring memasuki pekan kesembilan penutupan Selat Hormuz, pasokan minyak global diperkirakan turun 10%. Untuk menyeimbangkan kondisi tersebut, konsumsi diproyeksikan harus menyesuaikan melalui kenaikan harga yang menekan daya beli atau intervensi pemerintah dalam bentuk pembatasan penggunaan energi.
Sejumlah negara maju saat ini masih mampu menahan gejolak dengan memanfaatkan cadangan energi strategis. Namun, langkah ini dinilai hanya bersifat sementara karena stok darurat global mulai menipis setelah pelepasan ratusan juta barel sejak konflik memuncak pada akhir Februari.
Dampak awal terlihat pada sektor industri yang sangat bergantung pada energi, seperti petrokimia di Asia dan Timur Tengah, serta distribusi gas minyak cair (LPG) di India. Kini, tekanan mulai merambah ke sektor yang lebih luas, termasuk transportasi dan konsumsi rumah tangga.
Baca Juga: Penumpukan Kapal di Selat Hormuz Picu Defisit Minyak Global 700 Juta Barel
Maskapai penerbangan di Eropa dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan mulai memangkas ribuan jadwal penerbangan akibat lonjakan biaya bahan bakar. Sementara itu, konsumsi bahan bakar seperti bensin dan diesel juga menunjukkan pelemahan seiring harga yang terus meningkat.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan minyak global pada bulan ini akan mencatat penurunan terbesar dalam lima tahun terakhir. Penurunan ini menjadi indikasi awal dari potensi "demand destruction" atau penurunan konsumsi akibat tekanan harga dan keterbatasan pasokan.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa jika gangguan berlanjut, harga minyak berpotensi melonjak tajam. Dalam skenario tertentu, harga minyak mentah Brent diproyeksikan dapat menembus USD145 per barel, bahkan mencapai USD200 hingga USD250 dalam kondisi ekstrem.
Baca Juga: Tak Punya Strategi Keluar Perang, Kanselir Jerman: AS Dipermalukan Iran
Dampak ekonomi juga mulai terasa, dengan beberapa negara memangkas proyeksi pertumbuhan akibat lonjakan harga energi. Risiko resesi global meningkat seiring kebutuhan penyesuaian permintaan yang semakin besar untuk menyeimbangkan pasar.
Para pelaku pasar menilai, tanpa solusi cepat untuk membuka kembali Selat Hormuz, tekanan terhadap ekonomi global akan semakin dalam. Penurunan konsumsi energi dinilai menjadi mekanisme utama untuk menyesuaikan pasar, meski konsekuensinya adalah perlambatan aktivitas ekonomi secara luas.
"Permintaan mulai tergerus di sektor-sektor yang tidak langsung terlihat di pusat harga. Penyesuaian ini sudah terjadi, dan jika kondisi berlanjut, dampaknya akan semakin besar," ujar Kepala Ekonom Trafigura Group, Saad Rahim dikutip Yahoo Finance dari Bloomberg, Senin (27/4/2026).
Seiring memasuki pekan kesembilan penutupan Selat Hormuz, pasokan minyak global diperkirakan turun 10%. Untuk menyeimbangkan kondisi tersebut, konsumsi diproyeksikan harus menyesuaikan melalui kenaikan harga yang menekan daya beli atau intervensi pemerintah dalam bentuk pembatasan penggunaan energi.
Sejumlah negara maju saat ini masih mampu menahan gejolak dengan memanfaatkan cadangan energi strategis. Namun, langkah ini dinilai hanya bersifat sementara karena stok darurat global mulai menipis setelah pelepasan ratusan juta barel sejak konflik memuncak pada akhir Februari.
Dampak awal terlihat pada sektor industri yang sangat bergantung pada energi, seperti petrokimia di Asia dan Timur Tengah, serta distribusi gas minyak cair (LPG) di India. Kini, tekanan mulai merambah ke sektor yang lebih luas, termasuk transportasi dan konsumsi rumah tangga.
Baca Juga: Penumpukan Kapal di Selat Hormuz Picu Defisit Minyak Global 700 Juta Barel
Maskapai penerbangan di Eropa dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan mulai memangkas ribuan jadwal penerbangan akibat lonjakan biaya bahan bakar. Sementara itu, konsumsi bahan bakar seperti bensin dan diesel juga menunjukkan pelemahan seiring harga yang terus meningkat.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan minyak global pada bulan ini akan mencatat penurunan terbesar dalam lima tahun terakhir. Penurunan ini menjadi indikasi awal dari potensi "demand destruction" atau penurunan konsumsi akibat tekanan harga dan keterbatasan pasokan.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa jika gangguan berlanjut, harga minyak berpotensi melonjak tajam. Dalam skenario tertentu, harga minyak mentah Brent diproyeksikan dapat menembus USD145 per barel, bahkan mencapai USD200 hingga USD250 dalam kondisi ekstrem.
Baca Juga: Tak Punya Strategi Keluar Perang, Kanselir Jerman: AS Dipermalukan Iran
Dampak ekonomi juga mulai terasa, dengan beberapa negara memangkas proyeksi pertumbuhan akibat lonjakan harga energi. Risiko resesi global meningkat seiring kebutuhan penyesuaian permintaan yang semakin besar untuk menyeimbangkan pasar.
Para pelaku pasar menilai, tanpa solusi cepat untuk membuka kembali Selat Hormuz, tekanan terhadap ekonomi global akan semakin dalam. Penurunan konsumsi energi dinilai menjadi mekanisme utama untuk menyesuaikan pasar, meski konsekuensinya adalah perlambatan aktivitas ekonomi secara luas.
(nng)
Lihat Juga :