Krisis Energi Global, Moody's Prediksi Harga Minyak Bertahan di Kisaran USD100 per Barel
Senin, 18 Mei 2026 - 09:26 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Jenderal Iran Balas Ancaman Agresi AS: Amerika Akan Menerima Pukulan Menghancurkan!
Di sisi lain, krisis geopolitik telah mengubah peta arus perdagangan minyak global karena memicu lonjakan ekspor minyak mentah dan produk petroleum AS ke rekor tertinggi akibat beralihnya pembeli Asia dan Eropa dari pasokan Timur Tengah. Berdasarkan data S&P Global, ekspor elpiji (LPG) dari AS menyentuh angka 3,3 juta barel per hari pada April dengan pasar China dan Jepang sebagai penyerap terbesar, sementara Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan selisih harga Brent-WTI akan melebar hingga USD15 per barel seiring langkah produsen AS memacu produksi demi mengisi kekosongan pasar.
Sementara itu, kebuntuan jalur logistik menyebabkan sekitar 1.600 kapal dagang terjebak di dalam Teluk Persia dan memangkas volume transit harian di selat tersebut hingga tersisa sebagian kecil dibanding sebelum perang. Upaya diplomasi pun kian menemui jalan buntu setelah kunjungan Presiden Donald Trump ke China gagal menghasilkan terobosan, terlebih kini Iran telah membentuk "Otoritas Selat Persia" secara sepihak untuk mengatur seluruh perlintasan kapal dengan syarat jaminan keamanan serta pencabutan sanksi ekonomi.
Menipisnya cadangan minyak global di tengah gangguan yang terus berlanjut ini dinilai para analis dari UBS berisiko memicu aksi pembelian panik (panic buying) di pasar jika dislokasi fisik pasokan energi semakin hebat.
Di sisi lain, krisis geopolitik telah mengubah peta arus perdagangan minyak global karena memicu lonjakan ekspor minyak mentah dan produk petroleum AS ke rekor tertinggi akibat beralihnya pembeli Asia dan Eropa dari pasokan Timur Tengah. Berdasarkan data S&P Global, ekspor elpiji (LPG) dari AS menyentuh angka 3,3 juta barel per hari pada April dengan pasar China dan Jepang sebagai penyerap terbesar, sementara Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan selisih harga Brent-WTI akan melebar hingga USD15 per barel seiring langkah produsen AS memacu produksi demi mengisi kekosongan pasar.
Sementara itu, kebuntuan jalur logistik menyebabkan sekitar 1.600 kapal dagang terjebak di dalam Teluk Persia dan memangkas volume transit harian di selat tersebut hingga tersisa sebagian kecil dibanding sebelum perang. Upaya diplomasi pun kian menemui jalan buntu setelah kunjungan Presiden Donald Trump ke China gagal menghasilkan terobosan, terlebih kini Iran telah membentuk "Otoritas Selat Persia" secara sepihak untuk mengatur seluruh perlintasan kapal dengan syarat jaminan keamanan serta pencabutan sanksi ekonomi.
Menipisnya cadangan minyak global di tengah gangguan yang terus berlanjut ini dinilai para analis dari UBS berisiko memicu aksi pembelian panik (panic buying) di pasar jika dislokasi fisik pasokan energi semakin hebat.
(nng)
Lihat Juga :