Kurs Rupiah Makin Parah, Hari Ini Sentuh Rp17.706 per Dolar AS
Selasa, 19 Mei 2026 - 16:19 WIB
loading...
A
A
A
Seorang pejabat Pakistan, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan Islamabad telah menyampaikan proposal baru antara kedua pihak tetapi mencatat kemajuan yang lambat. Baca Juga: Rupiah Jeblok ke Rekor Terendah, Ekonomi RI dalam Bahaya?
Sementara itu kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim melaporkan bahwa Washington telah setuju untuk mencabut sanksi atas ekspor minyak Teheran selama negosiasi, tetapi seorang pejabat AS membantah klaim tersebut.
Secara terpisah, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperpanjang pengecualian sanksi selama 30 hari untuk memungkinkan negara-negara yang "rentan terhadap energi" terus membeli minyak Rusia yang diangkut melalui laut.
Selain itu seorang pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan melantik Kevin Warsh sebagai Ketua Fed pada hari Jumat, setelah Senat memberikan suara untuk menyetujuinya untuk masa jabatan empat tahun, menggantikan Jerome Powell. Investor tetap berhati-hati karena pasar mengevaluasi bagaimana arah kebijakan Fed dapat berkembang di bawah kepemimpinan baru.
Dari sentimen domestik, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menguji ketahanan harga pangan nasional. Ketergantungan tinggi terhadap impor pangan membuat tekanan kurs berpotensi cepat merambat ke harga makanan yang dikonsumsi masyarakat seperti mi instan, roti, tahu-tempe, susu, hingga makanan olahan lainnya pada semester II/2026.
Ketergantungan impor Indonesia terhadap sejumlah komoditas pangan masih sangat tinggi. Gandum sepenuhnya impor, kedelai sekitar 90% masih dipenuhi dari impor. Selain itu bawang putih 95% impor, gula sekitar 60%, serta daging sapi dan kerbau sekitar 54%.
Kondisi pelemahan rupiah ini otomatis meningkatkan biaya impor karena mayoritas transaksi dilakukan menggunakan dolar AS. Pada akhirnya, peningkatan biaya impor ini berisiko menimbulkan kenaikan harga pangan di dalam negeri.
Sementara itu kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim melaporkan bahwa Washington telah setuju untuk mencabut sanksi atas ekspor minyak Teheran selama negosiasi, tetapi seorang pejabat AS membantah klaim tersebut.
Secara terpisah, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperpanjang pengecualian sanksi selama 30 hari untuk memungkinkan negara-negara yang "rentan terhadap energi" terus membeli minyak Rusia yang diangkut melalui laut.
Selain itu seorang pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan melantik Kevin Warsh sebagai Ketua Fed pada hari Jumat, setelah Senat memberikan suara untuk menyetujuinya untuk masa jabatan empat tahun, menggantikan Jerome Powell. Investor tetap berhati-hati karena pasar mengevaluasi bagaimana arah kebijakan Fed dapat berkembang di bawah kepemimpinan baru.
Dari sentimen domestik, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menguji ketahanan harga pangan nasional. Ketergantungan tinggi terhadap impor pangan membuat tekanan kurs berpotensi cepat merambat ke harga makanan yang dikonsumsi masyarakat seperti mi instan, roti, tahu-tempe, susu, hingga makanan olahan lainnya pada semester II/2026.
Ketergantungan impor Indonesia terhadap sejumlah komoditas pangan masih sangat tinggi. Gandum sepenuhnya impor, kedelai sekitar 90% masih dipenuhi dari impor. Selain itu bawang putih 95% impor, gula sekitar 60%, serta daging sapi dan kerbau sekitar 54%.
Kondisi pelemahan rupiah ini otomatis meningkatkan biaya impor karena mayoritas transaksi dilakukan menggunakan dolar AS. Pada akhirnya, peningkatan biaya impor ini berisiko menimbulkan kenaikan harga pangan di dalam negeri.
Lihat Juga :