Proyek Fatty Acid Rp3,77 Triliun di Bontang Ditawarkan ke Investor
Kamis, 21 Mei 2026 - 11:58 WIB
loading...
Pemerintah Kota Bontang menawarkan proyek industri fatty acid kepada investor melalui skema IPRO. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah Kota Bontang menawarkan proyek industri fatty acid senilai Rp3,77 triliun kepada investor melalui skema Investment Project Ready to Offer (IPRO). Proyek hilirisasi berbasis kelapa sawit ini diharapkan memperkuat industri oleokimia nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.
"Kami menargetkan proyek ini mampu mendongkrak nilai tambah kelapa sawit Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor produk oleokimia," ujar Kepala DPMPTSP Kota Bontang Muhammad Aspian Nur dalam keterangan pers, Kamis (21/5/2026).
Baca Juga: Pemkot Bontang Buka Karpet Merah Industri Pengalengan Ikan
Bontang terus mendorong sebagai pusat investasi industri hijau dengan menawarkan proyek strategis pengembangan fatty acid kepada investor domestik maupun global. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat hilirisasi industri kelapa sawit di tingkat nasional.
Proyek tersebut direncanakan berlokasi di kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang yang dinilai memiliki keunggulan infrastruktur dan konektivitas. Kawasan ini terhubung dengan Pelabuhan Lok Tuan dan Pelabuhan LNG Badak, serta didukung fasilitas utilitas lengkap, mulai dari pasokan listrik hingga 80 MW, air bersih, telekomunikasi, hingga pengolahan limbah.
Industri fatty acid merupakan sektor hilir oleokimia dengan permintaan global yang terus meningkat. Produk ini digunakan sebagai bahan baku berbagai industri, seperti kosmetik, sabun, deterjen, tekstil, pelumas, hingga produk perawatan pribadi.
Dengan potensi bahan baku yang melimpah, produksi Crude Palm Oil (CPO) di wilayah tersebut mencapai sekitar 3,8 juta ton per tahun. Pabrik yang direncanakan memiliki kapasitas produksi 91,2 ribu ton per tahun dengan kebutuhan bahan baku sekitar 45 ribu ton CPO.
Baca Juga: IPC TPK Bukukan Arus Petikemas 1,15 Juta TEUs hingga April 2026
Dari sisi kelayakan investasi, proyek ini menawarkan indikator finansial yang kompetitif, antara lain nilai Net Present Value (NPV) mencapai sekitar USD 985 juta, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 14,60%, serta periode pengembalian modal (payback period) sekitar 6 tahun 8 bulan.
Pemerintah juga menyiapkan berbagai insentif untuk menarik minat investor, termasuk kemudahan perizinan melalui sistem OSS berbasis risiko, insentif fiskal, serta dukungan regulasi lainnya. Selain itu, proyek ini diperkirakan dapat menyerap sekitar 300 tenaga kerja lokal.
Aspian menegaskan, pihaknya berkomitmen mengawal realisasi investasi tersebut agar memberikan dampak ekonomi nyata, baik bagi daerah maupun nasional. "Kehadiran industri ini diharapkan memperkuat posisi Bontang sebagai kota industri strategis, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kontribusi ekspor produk hilir bernilai tambah," ujarnya.
"Kami menargetkan proyek ini mampu mendongkrak nilai tambah kelapa sawit Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor produk oleokimia," ujar Kepala DPMPTSP Kota Bontang Muhammad Aspian Nur dalam keterangan pers, Kamis (21/5/2026).
Baca Juga: Pemkot Bontang Buka Karpet Merah Industri Pengalengan Ikan
Bontang terus mendorong sebagai pusat investasi industri hijau dengan menawarkan proyek strategis pengembangan fatty acid kepada investor domestik maupun global. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat hilirisasi industri kelapa sawit di tingkat nasional.
Proyek tersebut direncanakan berlokasi di kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang yang dinilai memiliki keunggulan infrastruktur dan konektivitas. Kawasan ini terhubung dengan Pelabuhan Lok Tuan dan Pelabuhan LNG Badak, serta didukung fasilitas utilitas lengkap, mulai dari pasokan listrik hingga 80 MW, air bersih, telekomunikasi, hingga pengolahan limbah.
Industri fatty acid merupakan sektor hilir oleokimia dengan permintaan global yang terus meningkat. Produk ini digunakan sebagai bahan baku berbagai industri, seperti kosmetik, sabun, deterjen, tekstil, pelumas, hingga produk perawatan pribadi.
Dengan potensi bahan baku yang melimpah, produksi Crude Palm Oil (CPO) di wilayah tersebut mencapai sekitar 3,8 juta ton per tahun. Pabrik yang direncanakan memiliki kapasitas produksi 91,2 ribu ton per tahun dengan kebutuhan bahan baku sekitar 45 ribu ton CPO.
Baca Juga: IPC TPK Bukukan Arus Petikemas 1,15 Juta TEUs hingga April 2026
Dari sisi kelayakan investasi, proyek ini menawarkan indikator finansial yang kompetitif, antara lain nilai Net Present Value (NPV) mencapai sekitar USD 985 juta, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 14,60%, serta periode pengembalian modal (payback period) sekitar 6 tahun 8 bulan.
Pemerintah juga menyiapkan berbagai insentif untuk menarik minat investor, termasuk kemudahan perizinan melalui sistem OSS berbasis risiko, insentif fiskal, serta dukungan regulasi lainnya. Selain itu, proyek ini diperkirakan dapat menyerap sekitar 300 tenaga kerja lokal.
Aspian menegaskan, pihaknya berkomitmen mengawal realisasi investasi tersebut agar memberikan dampak ekonomi nyata, baik bagi daerah maupun nasional. "Kehadiran industri ini diharapkan memperkuat posisi Bontang sebagai kota industri strategis, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kontribusi ekspor produk hilir bernilai tambah," ujarnya.
(nng)
Lihat Juga :