Rupiah Ambruk Tembus Rp17.900, IHSG Tiba-tiba Anjlok 2,35%
Rabu, 03 Juni 2026 - 10:50 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah tajam hingga menembus level Rp17.900 per dolar AS. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah tajam hingga menembus level Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi, memicu tekanan di pasar keuangan domestik. Kondisi tersebut turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 2,35% ke posisi 6.049.
"Rupiah melemah 0,39% ke level Rp17.900 per dolar AS pada pukul 09.26 WIB, yang menjadi level terendah sepanjang sejarah," berdasarkan data pasar yang dihimpun dari Refinitiv, Rabu (3/6/2026).
Baca Juga: Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Pelemahan rupiah tersebut memperdalam tekanan terhadap pasar saham, dengan IHSG bergerak di rentang 6.213 hingga titik terendah 6.046 sepanjang sesi pagi. Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama indeks.
Sektor-sektor utama seperti barang baku, infrastruktur, dan transportasi mencatatkan penurunan paling dalam, masing-masing sebesar 5,61%, 3,77%, dan 2,95%. Kondisi ini mencerminkan tekanan luas di berbagai sektor industri.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp7,16 triliun dengan volume 11,97 miliar saham dan frekuensi transaksi sekitar 909 ribu kali. Sebanyak 549 saham melemah, 111 saham menguat, dan 144 saham stagnan.
Tekanan terhadap rupiah terjadi sejak pembukaan perdagangan, ketika mata uang domestik sudah melemah 0,22% ke level Rp17.870 per dolar AS. Pelemahan kemudian berlanjut hingga menembus rekor terendah baru.
Baca Juga: Rupiah Pagi Ini Ambruk ke Rp17.885 per Dolar AS, Apa Pemicunya?
Mengacu data Bloomberg, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.912 per dolar AS atau melemah 0,42% di pasar spot. Level ini mendekatkan rupiah ke batas psikologis berikutnya di Rp18.000 per dolar AS.
Pelaku pasar mencermati sejumlah faktor yang membebani rupiah, termasuk pelebaran defisit fiskal dan transaksi berjalan. Bank Indonesia mencatat Neraca Pembayaran Indonesia pada kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar USD9,15 miliar, lebih dalam dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar USD6,07 miliar.
Jika tekanan berlanjut, pelaku pasar menilai level Rp17.950 hingga Rp18.000 per dolar AS menjadi area yang perlu diwaspadai sebagai batas psikologis berikutnya.
"Rupiah melemah 0,39% ke level Rp17.900 per dolar AS pada pukul 09.26 WIB, yang menjadi level terendah sepanjang sejarah," berdasarkan data pasar yang dihimpun dari Refinitiv, Rabu (3/6/2026).
Baca Juga: Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Pelemahan rupiah tersebut memperdalam tekanan terhadap pasar saham, dengan IHSG bergerak di rentang 6.213 hingga titik terendah 6.046 sepanjang sesi pagi. Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama indeks.
Sektor-sektor utama seperti barang baku, infrastruktur, dan transportasi mencatatkan penurunan paling dalam, masing-masing sebesar 5,61%, 3,77%, dan 2,95%. Kondisi ini mencerminkan tekanan luas di berbagai sektor industri.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp7,16 triliun dengan volume 11,97 miliar saham dan frekuensi transaksi sekitar 909 ribu kali. Sebanyak 549 saham melemah, 111 saham menguat, dan 144 saham stagnan.
Tekanan terhadap rupiah terjadi sejak pembukaan perdagangan, ketika mata uang domestik sudah melemah 0,22% ke level Rp17.870 per dolar AS. Pelemahan kemudian berlanjut hingga menembus rekor terendah baru.
Baca Juga: Rupiah Pagi Ini Ambruk ke Rp17.885 per Dolar AS, Apa Pemicunya?
Mengacu data Bloomberg, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.912 per dolar AS atau melemah 0,42% di pasar spot. Level ini mendekatkan rupiah ke batas psikologis berikutnya di Rp18.000 per dolar AS.
Pelaku pasar mencermati sejumlah faktor yang membebani rupiah, termasuk pelebaran defisit fiskal dan transaksi berjalan. Bank Indonesia mencatat Neraca Pembayaran Indonesia pada kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar USD9,15 miliar, lebih dalam dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar USD6,07 miliar.
Jika tekanan berlanjut, pelaku pasar menilai level Rp17.950 hingga Rp18.000 per dolar AS menjadi area yang perlu diwaspadai sebagai batas psikologis berikutnya.
(nng)
Lihat Juga :