Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi

Jum'at, 05 Juni 2026 - 22:16 WIB
loading...
Purbaya Belum Percaya...
Menkeu Purbaya menanggapi fenomena penurunan daya beli masyarakat di sejumlah warung tegal (warteg), di mana konsumen dilaporkan mulai memangkas porsi pembelian lauk-pauk berharga mahal. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi fenomena penurunan daya beli masyarakat di sejumlah warung tegal ( warteg ), di mana konsumen dilaporkan mulai memangkas porsi pembelian lauk-pauk berharga mahal. Purbaya mengaku terkejut mendengar kabar tersebut, mengingat indikator data agregat yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sejauh ini masih merekam performa konsumsi yang cukup solid.

"Nanti saya cek lagi, tapi harus hati-hati. Saya baru dengar sekarang tuh ada fenomena lesunya daya beli di warteg," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Jumat (5/6/2026).

Kemenkeu berkomitmen untuk menelusuri lebih dalam guna memvalidasi kebenaran dari pergeseran pola konsumsi tersebut, di mana para pelanggan warteg dikabarkan beralih ke menu yang lebih ramah di kantong demi penghematan.

Baca Juga: Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional

"Saya sih akan investigasi, betul enggak kondisinya seperti itu. Tapi harus hati-hati. Karena kalau data yang lain kan kelihatan yang agregat tuh tumbuhnya kencang semua. Belanja juga tumbuhnya masih kencang," jelas Purbaya.



Purbaya membandingkan isu tersebut dengan pengamatan langsungnya di area pedesaan, di mana aktivitas konsumsi dinilai masih bergeliat tinggi yang ditandai oleh padatnya pengunjung di beberapa tempat makan.

"Tapi kalau kita jalan ke kampung-kampung, semuanya rame loh. Kemarin saya makan cabai hijau masih rame," kenang Purbaya.

Baca Juga: Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi

Oleh karena itu, ia mengingatkan semua pihak agar tidak tergesa-gesa dalam menggeneralisasi sebuah temuan kasus berskala mikro di lapangan menjadi kesimpulan kondisi ekonomi secara nasional.

"Jadi hati-hati menerjemahkan data. Saya bukannya anti, tetap saya akan periksa. Tapi jangan sampai simpulkan satu atau dua di tempat, terus artinya semuanya seperti itu. Belum tentu. Saya pernah dikritik sama profesor-profesor saya, ketika melakukan hal seperti itu," papar Purbaya dengan tegas.

Kendati demikian, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam jika hasil investigasi internal nantinya benar-benar menemukan adanya pelemahan daya beli pada sektor riil tersebut.

"Kalau memang benar ada fenomena itu, di warteg ada perubahan konsumsi, saya akan tambah lagi stimulus kepada perekonomian, itu akan memberi daya beli tambahan ke masyarakat," janji Purbaya.

Sebelumnya, keresahan melanda para pemilik usaha warteg akibat merosotnya omzet penjualan. Dampak dari kenaikan harga bahan pangan dan barang-barang kebutuhan lainnya memaksa konsumen memutar otak dalam mengatur anggaran makan mereka.

Pembeli kini cenderung mematok harga makanan di kisaran Rp10.000-an dan sudah mulai jarang yang bertransaksi di atas Rp20.000.

Konsumen lebih memilih paket lauk pauk di bawah rentang Rp15.000 hingga Rp20.000, seperti menu tahu, tempe, telur balado, aneka gorengan, serta menyiasatinya dengan memperbanyak porsi sayuran.

Menu-menu dengan bahan dasar yang mahal seperti rendang daging sapi, semur sapi, ayam goreng, cumi-cumi hitam, hingga olahan udang kini mulai jarang dilirik oleh pembeli.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Purbaya Buka Peluang...
Purbaya Buka Peluang Kerek Dana Transfer ke Daerah di 2027 hingga Rp90 Triliun
Purbaya Pede Harga BBM...
Purbaya Pede Harga BBM Pertamax Bakal Turun Efek Damai AS-Iran
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Jaksa Agung Serahkan...
Jaksa Agung Serahkan Hasil Pemulihan Aset Rp1,22 Triliun ke Purbaya
Prabowo Panggil Purbaya...
Prabowo Panggil Purbaya hingga Bahlil ke Kertanegara, Ini yang Dibahas
Dubes Wang Lutong Ungkap...
Dubes Wang Lutong Ungkap Purbaya Bakal ke China Pekan Depan, Bahas Apa?
Rekomendasi
Sepak Pojok Jadi Mimpi...
Sepak Pojok Jadi Mimpi Buruk! Aljazair Comeback Dramatis, Yordania Tersingkir
Prabowo Bakal Resmikan...
Prabowo Bakal Resmikan 1.151 Km Jalan serta Hadiri Munas-Konbes NU
Tingkatkan Layanan Kesehatan...
Tingkatkan Layanan Kesehatan di Rumah Sakit, RS Pelni Gelar Pelatihan AI
Berita Terkini
Komut Pertamina Mochamad...
Komut Pertamina Mochamad Iriawan: Investasi Terbaik Bangsa pada Manusia
Uang Beredar di Mei...
Uang Beredar di Mei 2026 Capai Rp10.415,9 Triliun, BI: Tumbuh 10,8 Persen
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan...
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Baju Bekas Ilegal Senilai Rp37,4 Miliar
Bangun SDM Unggul, Pertamina...
Bangun SDM Unggul, Pertamina Gandeng Kemnaker Perkuat Kompetensi dan Budaya K3
Kebijakan Ekspor Satu...
Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Reform Syndicate Sodorkan 5 Rekomendasi Taktis
Kilau Emas Antam Kembali,...
Kilau Emas Antam Kembali, Hari Ini Naik Tipis Rp5 Ribu ke Rp2.673.000 per Gram
Infografis
9 Madrasah Terbaik di...
9 Madrasah Terbaik di Indonesia 2025, Cek Sekolahmu Nomor Berapa
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved