Pakar Ingatkan Galon Guna Ulang Jangan Dipakai Lebih dari Setahun
Senin, 08 Juni 2026 - 17:26 WIB
loading...
A
A
A
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa usia galon menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam pembahasan BPA. Semakin lama sebuah galon berada dalam siklus penggunaan, semakin lama pula BPA memiliki peluang untuk terlepas dari material polikarbonat dan berpindah ke air yang dikonsumsi masyarakat.
Persoalannya, konsumen hampir tidak pernah tahu usia galon yang mereka terima. Saat membeli air minum dalam galon, konsumen hanya melihat airnya jernih dan galonnya masih bisa digunakan. Padahal, galon itu bisa saja sudah berulang kali keluar-masuk pabrik, dipakai di banyak rumah, lalu kembali lagi ke pasar.
Akibatnya, konsumen tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah galon yang diterima masih berada dalam masa pakai yang aman atau justru sudah terlalu lama beredar. Padahal, jika usia galon terus bertambah tanpa pengendalian yang ketat, risiko peluruhan BPA yang disampaikan para ahli menjadi semakin relevan untuk diperhatikan.
Dr. Djaja menyebut, galon lama masih banyak ditemukan. Bahkan, ada galon yang dipakai sampai belasan tahun. Ini yang menurutnya perlu menjadi perhatian serius, karena galon yang terlalu lama digunakan bisa mengalami perubahan fisik dan berpotensi meningkatkan risiko peluruhan BPA.
“Kemarin belum lama tuh ada survei ternyata sampai ada yang 11 tahun, ada yang 13 tahun masih dipakai isi ulang. Itu sampai bolak-balik, sampai galonnya itu buram,” kata dr. Djaja.
Temuan adanya galon berusia 11 hingga 13 tahun menunjukkan bahwa sebagian galon dapat beredar jauh melampaui batas satu tahun yang disarankan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting mengenai besarnya peluang paparan BPA pada galon-galon yang telah digunakan berulang kali selama bertahun-tahun.
Persoalannya, konsumen hampir tidak pernah tahu usia galon yang mereka terima. Saat membeli air minum dalam galon, konsumen hanya melihat airnya jernih dan galonnya masih bisa digunakan. Padahal, galon itu bisa saja sudah berulang kali keluar-masuk pabrik, dipakai di banyak rumah, lalu kembali lagi ke pasar.
Akibatnya, konsumen tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah galon yang diterima masih berada dalam masa pakai yang aman atau justru sudah terlalu lama beredar. Padahal, jika usia galon terus bertambah tanpa pengendalian yang ketat, risiko peluruhan BPA yang disampaikan para ahli menjadi semakin relevan untuk diperhatikan.
Dr. Djaja menyebut, galon lama masih banyak ditemukan. Bahkan, ada galon yang dipakai sampai belasan tahun. Ini yang menurutnya perlu menjadi perhatian serius, karena galon yang terlalu lama digunakan bisa mengalami perubahan fisik dan berpotensi meningkatkan risiko peluruhan BPA.
“Kemarin belum lama tuh ada survei ternyata sampai ada yang 11 tahun, ada yang 13 tahun masih dipakai isi ulang. Itu sampai bolak-balik, sampai galonnya itu buram,” kata dr. Djaja.
Temuan adanya galon berusia 11 hingga 13 tahun menunjukkan bahwa sebagian galon dapat beredar jauh melampaui batas satu tahun yang disarankan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting mengenai besarnya peluang paparan BPA pada galon-galon yang telah digunakan berulang kali selama bertahun-tahun.
Lihat Juga :