Rupiah Membaik Tinggalkan Level Rp18.000 per USD, Ini Sentimennya
Rabu, 10 Juni 2026 - 16:08 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (10/6/2026), naik 114 poin atau sekitar 0,63% ke level Rp17.944 per dolar AS. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (10/6/2026), naik 114 poin atau sekitar 0,63% ke level Rp17.944 per dolar AS. Tren pemulihan kurs rupiah juga terlihat pada data JISDOR BI, yang hari ini menyentuh Rp17.971/USD, atau membaik dari sebelumnya Rp18.141.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa salah satu sentimen datang dari Washington yang melancarkan serangan baru terhadap target Iran pada hari Selasa setelah jatuhnya helikopter militer AS di dekat Selat Hormuz, yang kembali memicu kekhawatiran akan gangguan yang lebih luas terhadap pasokan energi global.
“Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka telah menargetkan pangkalan AS di Yordania dan beberapa negara Teluk sebagai tanggapan atas serangan AS,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: Darurat Rupiah, BI Kembali Kerek Suku Bunga Acuan Jadi 5,50% dan Rilis 4 Operasi Moneter
Eskalasi terbaru ini mengancam untuk menggagalkan kemajuan sementara menuju deeskalasi setelah Iran dan Israel sepakat awal pekan ini untuk menghentikan serangan setelah seruan dari Trump. Para pedagang sebelumnya menafsirkan jeda dalam permusuhan sebagai tanda bahwa konflik mungkin bergerak menuju resolusi diplomatik, yang memicu aksi jual minyak mentah.
Perhatian tetap terfokus pada Selat Hormuz, jalur penting untuk pasokan energi global yang dilalui sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia. Meskipun Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lalu lintas kapal dan ekspor minyak melalui Teluk telah membaik dalam beberapa pekan terakhir, ia memperingatkan bahwa aliran energi masih di bawah normal dan mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih sepenuhnya.
Baca Juga: BI Rate Naik Demi Menahan Tekanan Rupiah dan Capital Outflow
Harga minyak naik sekitar 1% pada hari Rabu, menambah kekhawatiran bahwa biaya bahan bakar yang lebih tinggi dapat memicu inflasi dan mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve. Prospek inflasi yang terus-menerus telah mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga AS.
Lebih dari 70% pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga Fed pada bulan Desember. Imbal hasil obligasi pemerintah tetap mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir sementara dolar tetap kuat menjelang laporan inflasi.
Investor mengamati dengan saksama data CPI untuk melihat tanda-tanda apakah tekanan inflasi meningkat. Para ekonom memperkirakan inflasi konsumen tahunan akan naik menjadi sekitar 4,2% pada bulan Mei, yang akan menandai angka tertinggi sejak April 2023 dan dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan yang ketat.
Dari sentimen domestik, pelaku pasar menyambut baik kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 25bp menjadi 5,5% pada hari Selasa, yang bertujuan untuk menstabilkan rupiah setelah berulang kali mencapai rekor terendah.
Kenaikan suku bunga acuan juga membantu pemerintah dalam lelang obligasi bertenor 10 tahun, dengan bunga obligasi 7,4% sehingga investor asing maupun domestik diharapkan bisa kembali menyerbu lelang Surat Utang Negara (SUN).
Kepercayaan semakin diperkuat oleh janji dana kekayaan negara Danantara untuk tidak mengambil margin keuntungan pada ekspor komoditas strategis dan untuk menghormati kontrak yang ada di bawah kerangka sentralisasi baru.
Kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pintu tunggal ekspor komoditas strategis dirancang untuk memperkuat tata kelola, menjamin kepastian hukum, dan mengoptimalkan penerimaan negara tanpa mengganggu kelangsungan bisnis eksportir. Langkah ini diharapkan mampu meredam volatilitas ekonomi dengan mengedepankan transparansi.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.900-Rp18.950 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa salah satu sentimen datang dari Washington yang melancarkan serangan baru terhadap target Iran pada hari Selasa setelah jatuhnya helikopter militer AS di dekat Selat Hormuz, yang kembali memicu kekhawatiran akan gangguan yang lebih luas terhadap pasokan energi global.
“Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka telah menargetkan pangkalan AS di Yordania dan beberapa negara Teluk sebagai tanggapan atas serangan AS,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: Darurat Rupiah, BI Kembali Kerek Suku Bunga Acuan Jadi 5,50% dan Rilis 4 Operasi Moneter
Eskalasi terbaru ini mengancam untuk menggagalkan kemajuan sementara menuju deeskalasi setelah Iran dan Israel sepakat awal pekan ini untuk menghentikan serangan setelah seruan dari Trump. Para pedagang sebelumnya menafsirkan jeda dalam permusuhan sebagai tanda bahwa konflik mungkin bergerak menuju resolusi diplomatik, yang memicu aksi jual minyak mentah.
Perhatian tetap terfokus pada Selat Hormuz, jalur penting untuk pasokan energi global yang dilalui sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia. Meskipun Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lalu lintas kapal dan ekspor minyak melalui Teluk telah membaik dalam beberapa pekan terakhir, ia memperingatkan bahwa aliran energi masih di bawah normal dan mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih sepenuhnya.
Baca Juga: BI Rate Naik Demi Menahan Tekanan Rupiah dan Capital Outflow
Harga minyak naik sekitar 1% pada hari Rabu, menambah kekhawatiran bahwa biaya bahan bakar yang lebih tinggi dapat memicu inflasi dan mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve. Prospek inflasi yang terus-menerus telah mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga AS.
Lebih dari 70% pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga Fed pada bulan Desember. Imbal hasil obligasi pemerintah tetap mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir sementara dolar tetap kuat menjelang laporan inflasi.
Investor mengamati dengan saksama data CPI untuk melihat tanda-tanda apakah tekanan inflasi meningkat. Para ekonom memperkirakan inflasi konsumen tahunan akan naik menjadi sekitar 4,2% pada bulan Mei, yang akan menandai angka tertinggi sejak April 2023 dan dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan yang ketat.
Dari sentimen domestik, pelaku pasar menyambut baik kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 25bp menjadi 5,5% pada hari Selasa, yang bertujuan untuk menstabilkan rupiah setelah berulang kali mencapai rekor terendah.
Kenaikan suku bunga acuan juga membantu pemerintah dalam lelang obligasi bertenor 10 tahun, dengan bunga obligasi 7,4% sehingga investor asing maupun domestik diharapkan bisa kembali menyerbu lelang Surat Utang Negara (SUN).
Kepercayaan semakin diperkuat oleh janji dana kekayaan negara Danantara untuk tidak mengambil margin keuntungan pada ekspor komoditas strategis dan untuk menghormati kontrak yang ada di bawah kerangka sentralisasi baru.
Kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pintu tunggal ekspor komoditas strategis dirancang untuk memperkuat tata kelola, menjamin kepastian hukum, dan mengoptimalkan penerimaan negara tanpa mengganggu kelangsungan bisnis eksportir. Langkah ini diharapkan mampu meredam volatilitas ekonomi dengan mengedepankan transparansi.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.900-Rp18.950 per dolar AS.
(akr)
Lihat Juga :