Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Rabu, 10 Juni 2026 - 22:01 WIB
loading...
Sebuah kapal tanker minyak mentah di terminal minyak lepas pantai Pulau Waidiao di Zhoushan, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, pada 4 Januari 2023. FOTO/China Daily via REUTERS
A
A
A
WASHINGTON - Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (The U.S Energy Information Administration/EIA) memangkas proyeksi permintaan minyak global pada 2026 dan memperkirakan konsumsi minyak dunia akan turun sekitar 1,1 juta barel per hari dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan Reuters, revisi tersebut mencerminkan dampak tingginya harga bahan bakar minyak, berkurangnya ketersediaan pasokan, serta berbagai kebijakan pemerintah yang menekan konsumsi energi di sejumlah negara.
"Tingginya harga bahan bakar, terbatasnya ketersediaan pasokan, dan berbagai inisiatif pemerintah mengurangi konsumsi minyak tahun ini, terutama di Asia, sehingga dunia mengonsumsi rata-rata 1 juta barel minyak per hari lebih sedikit dibandingkan tahun lalu," tulis EIA dalam laporan Short-Term Energy Outlook (STEO) edisi Juni 2026.
Baca Juga: Gencatan Senjata Gagal! Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi Hampir 1% saat AS Kembali Gempur Iran
EIA menilai pelemahan permintaan tersebut berpotensi membatasi kenaikan harga minyak yang dipicu gangguan pasokan jangka pendek di Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut sebelumnya menyalurkan hampir 20% pasokan minyak dunia sebelum konflik militer yang pecah pada akhir Februari lalu mengganggu arus perdagangan energi global.
Revisi terbaru ini memperpanjang tren penurunan proyeksi permintaan minyak dunia. Pada laporan Mei 2026, EIA masih memperkirakan konsumsi minyak global tumbuh 200 ribu barel per hari pada 2026, meskipun angka tersebut telah dipangkas tajam dari estimasi Februari yang mencapai 1,2 juta barel per hari.
Penutupan de facto Selat Hormuz telah memperketat pasokan minyak global dan mendorong harga minyak Brent rata-rata mencapai USD117 per barel pada April 2026. Dalam laporan sebelumnya, EIA memperkirakan sekitar 10,5 juta barel per hari produksi minyak mentah di kawasan Timur Tengah terdampak gangguan pasokan selama periode tersebut.
Di sisi lain, EIA justru menaikkan proyeksi produksi gas alam kering Amerika Serikat pada 2026 menjadi 111 miliar kaki kubik per hari, meningkat dari 107 miliar kaki kubik per hari pada 2025. Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya produksi gas ikutan seiring tingginya harga minyak serta bertambahnya rasio produksi gas terhadap minyak di kawasan Permian Basin.
Lembaga tersebut juga menaikkan proyeksi produksi minyak mentah Amerika Serikat menjadi 13,72 juta barel per hari pada 2026, naik sekitar 0,53% dibandingkan estimasi bulan sebelumnya. Harga minyak yang masih relatif tinggi dinilai mendorong aktivitas pengeboran di berbagai wilayah produksi utama Negeri Paman Sam.
Baca Juga: Israel Ternyata Ditolong AS saat Dihujani Rudal Iran
Proyeksi terbaru EIA semakin mendekati pandangan sejumlah lembaga energi internasional. Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya memperkirakan pasokan minyak global akan berkurang rata-rata 3,9 juta barel per hari pada 2026 akibat gangguan di Selat Hormuz. Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun depan menjadi 1,17 juta barel per hari dari sebelumnya 1,38 juta barel per hari.
Meski saat ini pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, EIA memperkirakan harga minyak Brent akan turun secara bertahap menjadi rata-rata USD89 per barel pada kuartal IV 2026 dan USD79 per barel pada 2027. Penurunan tersebut didorong oleh pulihnya produksi minyak di Timur Tengah serta lemahnya pertumbuhan permintaan global.
"Tingginya harga bahan bakar, terbatasnya ketersediaan pasokan, dan berbagai inisiatif pemerintah mengurangi konsumsi minyak tahun ini, terutama di Asia, sehingga dunia mengonsumsi rata-rata 1 juta barel minyak per hari lebih sedikit dibandingkan tahun lalu," tulis EIA dalam laporan Short-Term Energy Outlook (STEO) edisi Juni 2026.
Baca Juga: Gencatan Senjata Gagal! Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi Hampir 1% saat AS Kembali Gempur Iran
EIA menilai pelemahan permintaan tersebut berpotensi membatasi kenaikan harga minyak yang dipicu gangguan pasokan jangka pendek di Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut sebelumnya menyalurkan hampir 20% pasokan minyak dunia sebelum konflik militer yang pecah pada akhir Februari lalu mengganggu arus perdagangan energi global.
Revisi terbaru ini memperpanjang tren penurunan proyeksi permintaan minyak dunia. Pada laporan Mei 2026, EIA masih memperkirakan konsumsi minyak global tumbuh 200 ribu barel per hari pada 2026, meskipun angka tersebut telah dipangkas tajam dari estimasi Februari yang mencapai 1,2 juta barel per hari.
Penutupan de facto Selat Hormuz telah memperketat pasokan minyak global dan mendorong harga minyak Brent rata-rata mencapai USD117 per barel pada April 2026. Dalam laporan sebelumnya, EIA memperkirakan sekitar 10,5 juta barel per hari produksi minyak mentah di kawasan Timur Tengah terdampak gangguan pasokan selama periode tersebut.
Di sisi lain, EIA justru menaikkan proyeksi produksi gas alam kering Amerika Serikat pada 2026 menjadi 111 miliar kaki kubik per hari, meningkat dari 107 miliar kaki kubik per hari pada 2025. Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya produksi gas ikutan seiring tingginya harga minyak serta bertambahnya rasio produksi gas terhadap minyak di kawasan Permian Basin.
Lembaga tersebut juga menaikkan proyeksi produksi minyak mentah Amerika Serikat menjadi 13,72 juta barel per hari pada 2026, naik sekitar 0,53% dibandingkan estimasi bulan sebelumnya. Harga minyak yang masih relatif tinggi dinilai mendorong aktivitas pengeboran di berbagai wilayah produksi utama Negeri Paman Sam.
Baca Juga: Israel Ternyata Ditolong AS saat Dihujani Rudal Iran
Proyeksi terbaru EIA semakin mendekati pandangan sejumlah lembaga energi internasional. Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya memperkirakan pasokan minyak global akan berkurang rata-rata 3,9 juta barel per hari pada 2026 akibat gangguan di Selat Hormuz. Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun depan menjadi 1,17 juta barel per hari dari sebelumnya 1,38 juta barel per hari.
Meski saat ini pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, EIA memperkirakan harga minyak Brent akan turun secara bertahap menjadi rata-rata USD89 per barel pada kuartal IV 2026 dan USD79 per barel pada 2027. Penurunan tersebut didorong oleh pulihnya produksi minyak di Timur Tengah serta lemahnya pertumbuhan permintaan global.
(nng)
Lihat Juga :