Skenario Terburuk Pasar Energi 2026: Exxon Peringatkan Harga Minyak Dunia Bakal Tembus USD160/Barel
Kamis, 11 Juni 2026 - 08:18 WIB
loading...
A
A
A
Harga bensin bakal melambung tinggi, di Amerika Serikat, lonjakan Brent ke angka USD160 diproyeksikan bakal mengerek harga bensin reguler mendekati USD6 per galon dalam waktu dua hingga empat minggu, memotong porsi pendapatan bersih rumah tangga secara drastis.
Baca Juga: Panel Energi SPIEF 2026 Bahas Prospek Harga Minyak Tahun Depan, Bakal Tembus USD170 per Barel?
Lalu efek dominonya bakal ikut mengerek harga bahan pangan. Perusahaan truk dan logistik akan langsung memberlakukan biaya tambahan bahan bakar (fuel levies), yang otomatis akan menaikkan harga bahan pokok di supermarket dan produk manufaktur.
Ini adalah ancaman terbesar bagi dunia usaha. Lonjakan inflasi energi ini akan memaksa bank sentral (seperti The Fed) untuk menunda pemangkasan suku bunga atau bahkan memperketatnya kembali. Akibatnya biaya KPR membengkak, kredit konsumen tersendat, dan pertumbuhan ekonomi global tertekan di tengah pasar tenaga kerja yang mulai melemah.
IEA memperkirakan permintaan minyak global akan menyusut sebesar 420.000 barel per hari pada tahun 2026 karena masyarakat akan dipaksa mengurangi aktivitas menyetir dan terbang akibat harga yang terlampau mahal. Fenomena demand destruction (kehancuran permintaan) inilah yang dinilai Chapman sebagai satu-satunya rem alami yang akan memaksa pasar kembali seimbang.
Kalaupun besok pagi Selat Hormuz mendadak dibuka kembali, Darren Woods mengingatkan adanya jeda waktu (lag) selama 1 hingga 2 bulan sebelum aliran pasokan fisik benar-benar kembali normal. Artinya, harga energi akan tetap bertengger di level tertinggi selama berminggu-minggu setelah konflik usai.
Baca Juga: Panel Energi SPIEF 2026 Bahas Prospek Harga Minyak Tahun Depan, Bakal Tembus USD170 per Barel?
Lalu efek dominonya bakal ikut mengerek harga bahan pangan. Perusahaan truk dan logistik akan langsung memberlakukan biaya tambahan bahan bakar (fuel levies), yang otomatis akan menaikkan harga bahan pokok di supermarket dan produk manufaktur.
Ini adalah ancaman terbesar bagi dunia usaha. Lonjakan inflasi energi ini akan memaksa bank sentral (seperti The Fed) untuk menunda pemangkasan suku bunga atau bahkan memperketatnya kembali. Akibatnya biaya KPR membengkak, kredit konsumen tersendat, dan pertumbuhan ekonomi global tertekan di tengah pasar tenaga kerja yang mulai melemah.
IEA memperkirakan permintaan minyak global akan menyusut sebesar 420.000 barel per hari pada tahun 2026 karena masyarakat akan dipaksa mengurangi aktivitas menyetir dan terbang akibat harga yang terlampau mahal. Fenomena demand destruction (kehancuran permintaan) inilah yang dinilai Chapman sebagai satu-satunya rem alami yang akan memaksa pasar kembali seimbang.
Kalaupun besok pagi Selat Hormuz mendadak dibuka kembali, Darren Woods mengingatkan adanya jeda waktu (lag) selama 1 hingga 2 bulan sebelum aliran pasokan fisik benar-benar kembali normal. Artinya, harga energi akan tetap bertengger di level tertinggi selama berminggu-minggu setelah konflik usai.
(akr)
Lihat Juga :