Skenario Terburuk Pasar Energi 2026: Exxon Peringatkan Harga Minyak Dunia Bakal Tembus USD160/Barel
Kamis, 11 Juni 2026 - 08:18 WIB
loading...
Pergerakan harga minyak dunia diprediksi menjadi bom waktu bagi ekonomi, ketika cadangan minyak dunia berada dalam posisi darurat. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia diprediksi menjadi bom waktu bagi ekonomi, meski di pasar berjangka tampak landai. Cadangan minyak dunia berada dalam posisi darurat usai dilaporkan sedang terkuras habis dalam senyap.
Dua petinggi tertinggi raksasa minyak dunia, ExxonMobil merilis peringatan mengenai arah ekonomi global. Mereka menegaskan bahwa pasar saat ini sedang hidup dalam "waktu pinjaman" (borrowed time) sejak perang di Iran dan penutupan Selat Hormuz meletus akhir Februari lalu.
CEO ExxonMobil, Darren Woods membongkar rahasia mengapa harga minyak sejauh ini masih tertahan di kisaran USD90 hingga USD110 per barel. "Ada banyak minyak yang transit di atas air, banyak inventaris di laut yang telah dikerahkan pada bulan pertama konflik. Cadangan minyak strategis negara (Strategic Petroleum Reserves) telah dilepaskan, dan persediaan komersial telah dikuras habis," ungkap Woods.
Baca Juga: Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Namun Woods memperingatkan dengan tegas, begitu salah satu sumber cadangan darurat ini habis, harga minyak dunia dipastikan akan meledak tanpa kendali selama Selat Hormuz tetap ditutup. Diprediksi bahwa kurang dari satu bulan, minyak mentah bakal mengalami lonjakan harga yang mengerikan.
Melanjutkan peringatan sang CEO, Wakil Presiden Senior ExxonMobil, Neil Chapman memberikan estimasi waktu yang jauh lebih spesifik dan mengerikan. Menurutnya, stok minyak mentah, bensin, diesel, hingga avtur global kini sudah menyusut ke titik yang sangat kritis.
"Kita sedang mendekati tingkat persediaan minyak yang tidak pernah terdengar sebelumnya. Maksud saya, tingkat yang sangat, sangat rendah," ujar Chapman dalam sebuah konferensi strategi di New York.
"Anda bisa berdebat apakah titik nadir itu akan tercapai dalam dua minggu atau tiga minggu lagi."
"Begitu kita sampai pada titik kritis tersebut, Anda akan melihat harga minyak melonjak tajam. Model kami menunjukkan bahwa harga minyak mentah jenis Brent akan melesat naik hingga menyentuh USD150 atau bahkan USD160 per barel!" cetus Chapman.
Selama ini, dampak mengerikan dari tersumbatnya Selat Hormuz-yang biasanya mengalirkan 20% pasokan minyak harian dunia-sempat tersamarkan karena pasar dibanjiri oleh minyak-minyak "terlarang" (sanctioned crude) yang tidak terjual dari Rusia, Venezuela, dan Iran.
ExxonMobil sendiri mendeteksi potensi besar ini dan bahkan telah menerjunkan timnya langsung ke lapangan di Venezuela untuk pertama kalinya dalam dua dekade guna menjajaki peluang investasi baru. Namun pasokan dari sisa tangki dunia tersebut ada batasnya.
Menurut data International Energy Agency (IEA), total kerugian kumulatif pasokan minyak dari kawasan Teluk kini telah melampaui angka 1 miliar barel akibat arus kapal tanker di Selat Hormuz merosot hingga di bawah 10% dari volume normal.
Harga bensin bakal melambung tinggi, di Amerika Serikat, lonjakan Brent ke angka USD160 diproyeksikan bakal mengerek harga bensin reguler mendekati USD6 per galon dalam waktu dua hingga empat minggu, memotong porsi pendapatan bersih rumah tangga secara drastis.
Baca Juga: Panel Energi SPIEF 2026 Bahas Prospek Harga Minyak Tahun Depan, Bakal Tembus USD170 per Barel?
Lalu efek dominonya bakal ikut mengerek harga bahan pangan. Perusahaan truk dan logistik akan langsung memberlakukan biaya tambahan bahan bakar (fuel levies), yang otomatis akan menaikkan harga bahan pokok di supermarket dan produk manufaktur.
Ini adalah ancaman terbesar bagi dunia usaha. Lonjakan inflasi energi ini akan memaksa bank sentral (seperti The Fed) untuk menunda pemangkasan suku bunga atau bahkan memperketatnya kembali. Akibatnya biaya KPR membengkak, kredit konsumen tersendat, dan pertumbuhan ekonomi global tertekan di tengah pasar tenaga kerja yang mulai melemah.
IEA memperkirakan permintaan minyak global akan menyusut sebesar 420.000 barel per hari pada tahun 2026 karena masyarakat akan dipaksa mengurangi aktivitas menyetir dan terbang akibat harga yang terlampau mahal. Fenomena demand destruction (kehancuran permintaan) inilah yang dinilai Chapman sebagai satu-satunya rem alami yang akan memaksa pasar kembali seimbang.
Kalaupun besok pagi Selat Hormuz mendadak dibuka kembali, Darren Woods mengingatkan adanya jeda waktu (lag) selama 1 hingga 2 bulan sebelum aliran pasokan fisik benar-benar kembali normal. Artinya, harga energi akan tetap bertengger di level tertinggi selama berminggu-minggu setelah konflik usai.
Dua petinggi tertinggi raksasa minyak dunia, ExxonMobil merilis peringatan mengenai arah ekonomi global. Mereka menegaskan bahwa pasar saat ini sedang hidup dalam "waktu pinjaman" (borrowed time) sejak perang di Iran dan penutupan Selat Hormuz meletus akhir Februari lalu.
CEO ExxonMobil, Darren Woods membongkar rahasia mengapa harga minyak sejauh ini masih tertahan di kisaran USD90 hingga USD110 per barel. "Ada banyak minyak yang transit di atas air, banyak inventaris di laut yang telah dikerahkan pada bulan pertama konflik. Cadangan minyak strategis negara (Strategic Petroleum Reserves) telah dilepaskan, dan persediaan komersial telah dikuras habis," ungkap Woods.
Baca Juga: Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Namun Woods memperingatkan dengan tegas, begitu salah satu sumber cadangan darurat ini habis, harga minyak dunia dipastikan akan meledak tanpa kendali selama Selat Hormuz tetap ditutup. Diprediksi bahwa kurang dari satu bulan, minyak mentah bakal mengalami lonjakan harga yang mengerikan.
Melanjutkan peringatan sang CEO, Wakil Presiden Senior ExxonMobil, Neil Chapman memberikan estimasi waktu yang jauh lebih spesifik dan mengerikan. Menurutnya, stok minyak mentah, bensin, diesel, hingga avtur global kini sudah menyusut ke titik yang sangat kritis.
"Kita sedang mendekati tingkat persediaan minyak yang tidak pernah terdengar sebelumnya. Maksud saya, tingkat yang sangat, sangat rendah," ujar Chapman dalam sebuah konferensi strategi di New York.
"Anda bisa berdebat apakah titik nadir itu akan tercapai dalam dua minggu atau tiga minggu lagi."
"Begitu kita sampai pada titik kritis tersebut, Anda akan melihat harga minyak melonjak tajam. Model kami menunjukkan bahwa harga minyak mentah jenis Brent akan melesat naik hingga menyentuh USD150 atau bahkan USD160 per barel!" cetus Chapman.
Selama ini, dampak mengerikan dari tersumbatnya Selat Hormuz-yang biasanya mengalirkan 20% pasokan minyak harian dunia-sempat tersamarkan karena pasar dibanjiri oleh minyak-minyak "terlarang" (sanctioned crude) yang tidak terjual dari Rusia, Venezuela, dan Iran.
ExxonMobil sendiri mendeteksi potensi besar ini dan bahkan telah menerjunkan timnya langsung ke lapangan di Venezuela untuk pertama kalinya dalam dua dekade guna menjajaki peluang investasi baru. Namun pasokan dari sisa tangki dunia tersebut ada batasnya.
Menurut data International Energy Agency (IEA), total kerugian kumulatif pasokan minyak dari kawasan Teluk kini telah melampaui angka 1 miliar barel akibat arus kapal tanker di Selat Hormuz merosot hingga di bawah 10% dari volume normal.
Siap-siap Harga Bensin dan Suku Bunga Meroket
Angka USD160 per barel mungkin terdengar seperti statistik abstrak bagi sebagian orang. Namun, efek domino dari skenario ini akan langsung menghantam kehidupan sehari-hari konsumen di seluruh dunia dalam hitungan minggu.Harga bensin bakal melambung tinggi, di Amerika Serikat, lonjakan Brent ke angka USD160 diproyeksikan bakal mengerek harga bensin reguler mendekati USD6 per galon dalam waktu dua hingga empat minggu, memotong porsi pendapatan bersih rumah tangga secara drastis.
Baca Juga: Panel Energi SPIEF 2026 Bahas Prospek Harga Minyak Tahun Depan, Bakal Tembus USD170 per Barel?
Lalu efek dominonya bakal ikut mengerek harga bahan pangan. Perusahaan truk dan logistik akan langsung memberlakukan biaya tambahan bahan bakar (fuel levies), yang otomatis akan menaikkan harga bahan pokok di supermarket dan produk manufaktur.
Ini adalah ancaman terbesar bagi dunia usaha. Lonjakan inflasi energi ini akan memaksa bank sentral (seperti The Fed) untuk menunda pemangkasan suku bunga atau bahkan memperketatnya kembali. Akibatnya biaya KPR membengkak, kredit konsumen tersendat, dan pertumbuhan ekonomi global tertekan di tengah pasar tenaga kerja yang mulai melemah.
IEA memperkirakan permintaan minyak global akan menyusut sebesar 420.000 barel per hari pada tahun 2026 karena masyarakat akan dipaksa mengurangi aktivitas menyetir dan terbang akibat harga yang terlampau mahal. Fenomena demand destruction (kehancuran permintaan) inilah yang dinilai Chapman sebagai satu-satunya rem alami yang akan memaksa pasar kembali seimbang.
Kalaupun besok pagi Selat Hormuz mendadak dibuka kembali, Darren Woods mengingatkan adanya jeda waktu (lag) selama 1 hingga 2 bulan sebelum aliran pasokan fisik benar-benar kembali normal. Artinya, harga energi akan tetap bertengger di level tertinggi selama berminggu-minggu setelah konflik usai.
(akr)
Lihat Juga :