Membangun Revolusi Pembiayaan Sosial Nasional Tanpa Membebani APBN

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:21 WIB
loading...
A A A
Baca Juga: Kolaborasi IBCSD dan BEI Dorong Akses Pembiayaan Berkelanjutan melalui Sustainable Bonds & Sukuk

Jika keuntungan perusahaan diperoleh dari aktivitas ekonomi yang memanfaatkan sumber daya bangsa, kata dia, maka sudah sewajarnya sebagian manfaat ekonomi tersebut dikembalikan kepada masyarakat melalui investasi sosial yang terukur dan berkelanjutan. Dia mengatakan, Indonesia sebenarnya memiliki potensi CSR yang luar biasa besar.

"Ribuan perusahaan nasional dan multinasional setiap tahun mengalokasikan dana CSR dalam jumlah yang sangat signifikan. Apabila diasumsikan total laba perusahaan nasional mencapai Rp2.000 triliun per tahun dan rata-rata alokasi CSR sebesar 2 persen, maka potensi dana CSR nasional dapat mencapai sekitar Rp40 triliun setiap tahun," ungkapnya.

Dia mengatakan, angka tersebut bahkan melebihi APBD banyak provinsi di Indonesia. Sayangnya, ujar dia, besarnya potensi tersebut belum menghasilkan dampak sosial yang optimal. "Masalah utama CSR Indonesia bukan terletak pada kekurangan dana, melainkan pada lemahnya integrasi dan koordinasi," ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pelaksanaan CSR masih bersifat: parsial, terfragmentasi, tidak terukur, tumpang tindih, dan tidak merata antar wilayah. Menurut dia, Daerah industri besar menikmati limpahan program CSR, sementara wilayah tertinggal sering kali tidak memperoleh manfaat yang memadai.

"Banyak perusahaan menjalankan program yang serupa di lokasi yang sama, sementara daerah lain sama sekali tidak tersentuh. Akibatnya, potensi besar CSR nasional belum mampu menjadi instrumen strategis pembangunan kesejahteraan masyarakat," jelasnya.

Dia berpendapat, kehadiran Danantara membuka ruang lahirnya paradigma baru dalam pembiayaan pembangunan sosial Indonesia. Dia melanjutkan, sebagai sovereign strategic holding, Danantara memiliki kapasitas yang tidak dimiliki lembaga lain.

"Danantara berpotensi menjadi simpul koordinasi nasional yang menghubungkan investasi, pembangunan ekonomi, tata kelola BUMN, dan agenda kesejahteraan sosial. Dalam konteks tersebut, Danantara dapat dikembangkan sebagai National Coordinating Holding untuk integrasi dana CSR nasional," ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, peran yang dapat dijalankan antara lain, Membangun basis data CSR nasional, Mengintegrasikan perencanaan program sosial, Menyusun peta kebutuhan masyarakat, Mengawasi distribusi bantuan secara digital. Menyediakan dashboard transparansi publik, dan Mengukur dampak sosial secara nasional.

"Model ini tidak berarti mengambil seluruh dana CSR perusahaan dan menjadikannya sebagai pajak baru. Sebaliknya, perusahaan tetap memiliki ruang menjalankan program CSR secara mandiri, sementara sebagian dana dapat disinergikan untuk mendukung program strategis nasional seperti MBG," jelasnya.

Dia menilai pendekatan ini menciptakan keseimbangan antara kepentingan korporasi dan kepentingan pembangunan nasional. "Jika gagasan ini dikembangkan lebih jauh, Indonesia dapat membentuk sebuah mekanisme yang disebut sebagai CSR Sovereign Social Fund," ujar dia.

Ia berpendapat, konsep ini menyerupai dana abadi sosial nasional yang bersumber dari kontribusi dunia usaha untuk mendukung pembangunan manusia Indonesia. Dana tersebut dapat difokuskan pada sektor-sektor strategis seperti Program Makan Bergizi Gratis, Pencegahan stunting, Pendidikan anak, Pemberdayaan UMKM, dan Ketahanan pangan, Pelayanan kesehatan masyarakat, serta Pengentasan kemiskinan ekstrem.

"Dengan sistem yang terintegrasi, manfaat CSR tidak lagi bergantung pada lokasi perusahaan beroperasi, melainkan dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia berdasarkan kebutuhan objektif masyarakat. Inilah bentuk nyata pemerataan keadilan sosial sebagaimana dicita-citakan oleh para pendiri bangsa," ungkapnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pegadaian Gelar Khitanan...
Pegadaian Gelar Khitanan Massal 2026, Langkah Riil Peduli Sesama Berbasis ESG
Wakil Kepala BPS Canangkan...
Wakil Kepala BPS Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Jawa Tengah: Ada Jutaan Harapan di Balik Data Statistik
Purbaya Temui Menkeu...
Purbaya Temui Menkeu China, Perkuat Kerja Sama Pembiayaan dan Investasi
RupiahCepat dan Bank...
RupiahCepat dan Bank DBS Kolaborasi Perluas Akses Pembiayaan
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
Lippoland Raih Top CSR...
Lippoland Raih Top CSR Awards 2026, Perkuat Komitmen Implementasi ESG
Perkuat Akuntabilitas...
Perkuat Akuntabilitas Keuangan Daerah, BSKDN Libatkan Akademisi dalam Validasi IPKD
Pegadaian Kanwil IX...
Pegadaian Kanwil IX Jakarta 2 Gelar Khitanan Massal Gratis di Dua Lokasi
Ratusan Kepsek di Sulsel...
Ratusan Kepsek di Sulsel Mundur Buntut Temuan BPK Terkait Dana BOS, DPR Dorong Evaluasi
Rekomendasi
Portugal Difavoritkan,...
Portugal Difavoritkan, Ronaldo Dituntut Pecah Telur
Asfinawati: Ujaran Kebencian...
Asfinawati: Ujaran Kebencian dalam HAM Menyangkut Ras hingga Agama Bukan Orang per Orang
Mengapa Harga Beras...
Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?
Berita Terkini
Persaingan Pasar Game...
Persaingan Pasar Game Valorant, Intip Strategi Ekspansi Tokovalorant
Damessa Perluas Layanan...
Damessa Perluas Layanan lewat Cabang Baru di Cileungsi
Membangun Revolusi Pembiayaan...
Membangun Revolusi Pembiayaan Sosial Nasional Tanpa Membebani APBN
SIG Sulap 60 Ton Sampah...
SIG Sulap 60 Ton Sampah Kelapa Jadi Pakan Ternak, Peternak di Aceh Hemat 60%
Kemenko PM Gelar Global...
Kemenko PM Gelar Global Talent Day, Buka Akses Kerja ke Jepang-Jerman
Selamatkan Petani, Peran...
Selamatkan Petani, Peran DSI dalam Tata Niaga Sawit Disebut Perlu Evaluasi Ulang
Infografis
6 Fakta Garda Revolusi...
6 Fakta Garda Revolusi Iran, Pasukan Elite Pendukung Ali Khamenei
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved