Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
Rabu, 08 Juli 2026 - 20:36 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Revolusi Islam di Iran Akan Terus Berlanjut, Ini 3 Indikasi Utamanya
Dari dalam negeri, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) turut memengaruhi sentimen pasar. Hingga semester I-2026, APBN tercatat mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun. Pelemahan nilai tukar dinilai mempercepat kenaikan belanja pemerintah dibandingkan penerimaan negara sehingga mempersempit ruang fiskal.
Meski demikian, Ibrahim menilai Bank Indonesia masih memiliki ruang yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Hal itu tercermin dari posisi cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026, didukung oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar yang dilakukan bank sentral.
Menurut data Bank Indonesia, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sehingga dinilai mampu menopang ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Ibrahim memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah seiring pasar yang terus mencermati perkembangan konflik geopolitik dan arah kebijakan moneter AS. Untuk perdagangan Kamis (9/7), rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) turut memengaruhi sentimen pasar. Hingga semester I-2026, APBN tercatat mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun. Pelemahan nilai tukar dinilai mempercepat kenaikan belanja pemerintah dibandingkan penerimaan negara sehingga mempersempit ruang fiskal.
Meski demikian, Ibrahim menilai Bank Indonesia masih memiliki ruang yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Hal itu tercermin dari posisi cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026, didukung oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar yang dilakukan bank sentral.
Menurut data Bank Indonesia, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sehingga dinilai mampu menopang ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Ibrahim memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah seiring pasar yang terus mencermati perkembangan konflik geopolitik dan arah kebijakan moneter AS. Untuk perdagangan Kamis (9/7), rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS.
(nng)
Lihat Juga :