Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
Rabu, 08 Juli 2026 - 20:36 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah cenderung melamah dan semakin betah di kisaran Rp18.000 per dolar AS. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah cenderung melamah dan semakin betah di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya tekanan dari faktor global maupun domestik. Memanasnya konflik di Timur Tengah, kenaikan imbal hasil obligasi AS, serta tantangan fiskal dalam negeri menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang Garuda.
"Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran, yang bertujuan untuk memberikan apa yang digambarkan sebagai 'biaya berat' atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam pernyataannya, Rabu (8/7/2026).
Baca Juga: Lagi-lagi, Rupiah Kembali Tembus Rp18.000 per Dolar AS
Pada penutupan perdagangan Rabu, rupiah ditutup melemah 34 poin menjadi Rp18.014 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.980 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global akibat memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut Ibrahim, ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan minyak dunia. Situasi itu diperburuk oleh keputusan AS yang menarik konsesi penjualan minyak Iran sehingga menambah ketidakpastian di pasar keuangan global. "Kembalinya permusuhan dan tanda-tanda masalah pelayaran yang lebih besar di Hormuz kembali memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah," ujarnya.
Selain faktor geopolitik, rupiah juga tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang membuat aset berbasis dolar semakin menarik bagi investor global. Ibrahim mencatat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen, sementara pelaku pasar masih menantikan risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Juni 2026 untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
Baca Juga: Revolusi Islam di Iran Akan Terus Berlanjut, Ini 3 Indikasi Utamanya
Dari dalam negeri, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) turut memengaruhi sentimen pasar. Hingga semester I-2026, APBN tercatat mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun. Pelemahan nilai tukar dinilai mempercepat kenaikan belanja pemerintah dibandingkan penerimaan negara sehingga mempersempit ruang fiskal.
Meski demikian, Ibrahim menilai Bank Indonesia masih memiliki ruang yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Hal itu tercermin dari posisi cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026, didukung oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar yang dilakukan bank sentral.
Menurut data Bank Indonesia, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sehingga dinilai mampu menopang ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Ibrahim memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah seiring pasar yang terus mencermati perkembangan konflik geopolitik dan arah kebijakan moneter AS. Untuk perdagangan Kamis (9/7), rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS.
"Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran, yang bertujuan untuk memberikan apa yang digambarkan sebagai 'biaya berat' atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam pernyataannya, Rabu (8/7/2026).
Baca Juga: Lagi-lagi, Rupiah Kembali Tembus Rp18.000 per Dolar AS
Pada penutupan perdagangan Rabu, rupiah ditutup melemah 34 poin menjadi Rp18.014 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.980 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global akibat memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut Ibrahim, ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan minyak dunia. Situasi itu diperburuk oleh keputusan AS yang menarik konsesi penjualan minyak Iran sehingga menambah ketidakpastian di pasar keuangan global. "Kembalinya permusuhan dan tanda-tanda masalah pelayaran yang lebih besar di Hormuz kembali memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah," ujarnya.
Selain faktor geopolitik, rupiah juga tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang membuat aset berbasis dolar semakin menarik bagi investor global. Ibrahim mencatat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen, sementara pelaku pasar masih menantikan risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Juni 2026 untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
Baca Juga: Revolusi Islam di Iran Akan Terus Berlanjut, Ini 3 Indikasi Utamanya
Dari dalam negeri, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) turut memengaruhi sentimen pasar. Hingga semester I-2026, APBN tercatat mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun. Pelemahan nilai tukar dinilai mempercepat kenaikan belanja pemerintah dibandingkan penerimaan negara sehingga mempersempit ruang fiskal.
Meski demikian, Ibrahim menilai Bank Indonesia masih memiliki ruang yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Hal itu tercermin dari posisi cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026, didukung oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar yang dilakukan bank sentral.
Menurut data Bank Indonesia, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sehingga dinilai mampu menopang ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Ibrahim memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah seiring pasar yang terus mencermati perkembangan konflik geopolitik dan arah kebijakan moneter AS. Untuk perdagangan Kamis (9/7), rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS.
(nng)
Lihat Juga :