S&P Dow Jones Indices Ancam Turunkan Status Pasar Saham RI, OJK Sebut Efek Arus Modal Keluar Kecil

Senin, 13 Juli 2026 - 15:11 WIB
loading...
S&P Dow Jones Indices...
OJK menilai dampak dari adanya evaluasi indeks oleh S&P Dow Jones Index (DJI) yang mengancam turunkan klasifikasi pasar modal RI ke frontier market relatif lebih kecil. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai dampak dari adanya evaluasi indeks oleh S&P Dow Jones Index (DJI) yang mengancam turunkan klasifikasi pasar modal RI ke frontier market relatif lebih kecil. Seperti diketahui belakangan pasar saham Indonesia tertekan setelah disorot oleh lembaga penyedia indeks global.

Setelah MSCI, kini giliran S&P Dow Jones Indices yang menempatkan pasar saham Indonesia sebagai salah satu negara yang berpotensi turun kasta ke dalam kategori pasar perbatasan (frontier market). Baca Juga: Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan, kalaupun ada outflow atau arus keluar modal asing, maka jumlahnya relatif tidak besar. Sebab aset kelolaan oleh indeks provider global itu punya porsi yang lebih kecil di Indonesia.

Sebab Hasan Fawzi mengatakan, dana kelolaan (asset under management/AUM) yang mengikuti indeks S&P dan berinvestasi di pasar saham Indonesia juga relatif lebih kecil dibandingkan dana yang mengacu pada indeks MSCI maupun FTSE.



"Kalau kita lihat memang dibandingkan dengan indeks provider lainnya seperti MSCI dan FTSE, besaran nilai total asset under management di bawah indeks S&P yang terkait dengan bursa kita relatif lebih kecil," kata Hasan saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia, Senin (13/7/2026).

Menurutnya, manajer investasi yang mengelola dana pasif wajib menyesuaikan portofolionya dengan komposisi indeks acuan. Oleh karena itu, arus dana baru akan terjadi apabila penyedia indeks memutuskan menghapus atau menurunkan bobot saham tertentu dalam indeksnya.

"Di titik saat ini belum ada keputusan men-downgrade atau mengeluarkan konstituennya. Jadi tentu belum ada potensi exit dimaksud," ujarnya.

Baca Juga: S&P Dow Jones Ancam Turunkan Status Pasar Saham Indonesia, BEI Buka Suara

Hasan menegaskan OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) terus membangun komunikasi dengan berbagai penyedia indeks global, termasuk S&P, sebagaimana sebelumnya dilakukan dengan MSCI dan FTSE. Menurut dia, komunikasi tersebut bertujuan memahami berbagai masukan dan perhatian dari penyedia indeks agar regulator dapat memberikan respons melalui kebijakan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

"Kita akan betul-betul mendengarkan apa yang menjadi concern mereka, yang sekiranya dapat kemudian kita berikan jawabannya secara utuh dan sesuai dengan ketentuan yang ada," katanya.

Sebelumnya OJK telah menggulirkan sejumlah reformasi pasar modal untuk meningkatkan daya saing Bursa Efek Indonesia. Langkah tersebut antara lain melalui peningkatan transparansi struktur kepemilikan saham, pengungkapan konsentrasi kepemilikan, serta mendorong peningkatan porsi free float emiten guna memperdalam likuiditas pasar.

Hasan menegaskan berbagai pembenahan tersebut akan terus dikawal secara konsisten sebagai upaya memperkuat kepercayaan investor domestik maupun global terhadap pasar modal Indonesia.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
IHSG Cetak Rebound,...
IHSG Cetak Rebound, Kembali Lagi ke Level 6.000 usai Pengumuman S&P Global Ratings
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 0,17% ke 5.934
RANS Resmi Jadi Perusahaan...
RANS Resmi Jadi Perusahaan Terbuka, Investor Sambut Positif Debut di Bursa
IHSG Sepekan Naik 0,83%,...
IHSG Sepekan Naik 0,83%, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp10.340 Triliun
IHSG Ditutup Menguat...
IHSG Ditutup Menguat Tipis, Rupiah Masih Bertengger di Atas Rp18.000
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Merayap Naik ke 5.936, Transaksi Awal Cetak Rp629 M
IHSG Akhir Pekan Ditutup...
IHSG Akhir Pekan Ditutup Menguat 2,28 Persen
Rapat Paripurna RAPBN...
Rapat Paripurna RAPBN 2027 hingga Calon Anggota BS OJK Dihadiri 298 Anggota DPR
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Rekomendasi
Polri Gandeng FBI Cek...
Polri Gandeng FBI Cek Dolar yang Disita dari Kasus Dugaan Korupsi Febrie Adriansyah
Iran Ancam Negara-negara...
Iran Ancam Negara-negara Teluk untuk Tidak Jadi Arena bagi Serangan AS
Kapolri dan Pejabat...
Kapolri dan Pejabat Utama Polri Sambangi Kejagung, Ada Apa?
Berita Terkini
Kepala BPS Ungkap Progres...
Kepala BPS Ungkap Progres Sensus Ekonomi 2026 DKI Jakarta: Capai 45,17%
IHSG Cetak Rebound,...
IHSG Cetak Rebound, Kembali Lagi ke Level 6.000 usai Pengumuman S&P Global Ratings
S&P Rilis Peringkat...
S&P Rilis Peringkat Kredit Terbaru Indonesia: Outlook Stabil di BBB/A-2
Rupiah Ambruk Diterpa...
Rupiah Ambruk Diterpa Mega Korupsi hingga Konflik AS-Iran, Hari ini Tembus Rp18.109 per USD
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung Nasabah Wujudkan Cinta Lewat Mahar Saham
S&P Dow Jones Indices...
S&P Dow Jones Indices Ancam Turunkan Status Pasar Saham RI, OJK Sebut Efek Arus Modal Keluar Kecil
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved