Pemanfaatan Big Data Analytics di Perusahaan Reasuransi
Selasa, 14 Juli 2026 - 18:03 WIB
loading...
Indonesia Re melalui Divisi Reinsurance Product Underwriting Property & Casualty (P&C) menggelar Sharing Session with Ceding Companies di Madiun, Jawa Timur pada 25–27 Juni 2026. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
MADIUN - PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re melalui Divisi Reinsurance Product Underwriting Property & Casualty (P&C) menggelar Sharing Session with Ceding Companies di Madiun, Jawa Timur pada 25–27 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk membahas perkembangan terkini pasar asuransi dan reasuransi umum, sekaligus memperkuat sinergi antara Indonesia Re dan perusahaan asuransi dalam menghadapi dinamika di industri asuransi .
Forum tersebut menghadirkan berbagai pembahasan mengenai General Reinsurance Market Update 2026, yang mengulas kondisi pasar reasuransi umum lintas lini bisnis, seperti property, engineering, marine, dan casualty. Indonesia Re mengajak seluruh ceding companies untuk tetap menjaga disiplin underwriting meskipun pasar tengah berada dalam kondisi soft market. Baca juga: Indonesia Re Perkuat Transparansi lewat Forum Edukasi KIP 2025
Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Direktur Teknik dan Operasi Indonesia Re, Delil Khairat, di mana kondisi soft market ini memberikan tantangan yang berbeda bagi industri reasuransi nasional. "Kondisi soft market memberikan peluang sekaligus tantangan bagi industri. Sebagai buyer, kondisi ini tentu memberikan manfaat, namun sebagai seller kita menghadapi tekanan yang semakin besar," katanya dalam siaran pers, Selasa (14/7/2026).
Lebih lanjut, Delil menjelaskan berdasarkan perkembangan industri pada kuartal I 2026, premi asuransi umum memang masih mencatat pertumbuhan sekitar 1,92% secara year-on-year. Namun, pertumbuhan tersebut belum mampu mengimbangi kenaikan klaim yang terjadi di hampir seluruh lini bisnis.
Menurutnya, peningkatan premi secara nominal masih relatif terbatas jika dibandingkan dengan inflasi maupun pertumbuhan ekonomi nasional. “Industri juga masih menghadapi tantangan berupa penetrasi asuransi yang cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir, tingginya expense ratio, serta persaingan pasar yang semakin ketat sehingga mendorong perusahaan mengejar pertumbuhan volume bisnis,” jelasnya.
Delil menambahkan, saat ini perlu dipastikan bahwa pertumbuhan bisnis tidak hanya berorientasi pada peningkatan premi, tetapi juga diimbangi dengan kualitas seleksi risiko. ”Kenaikan klaim yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan premi juga tingginya biaya operasional jadi pengingat bahwa industri perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas," tambah.
Selain menjadi forum diskusi, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyampaikan underwriting guidance and risk appetite, parameter akseptasi, serta perspektif teknis Indonesia Re kepada ceding companies. Langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan proses underwriting yang semakin konsisten, prudent, dan selaras dengan perkembangan kondisi pasar. Baca juga: Konsolidasi Jadi Momentum Perbaikan Fondasi Industri Asuransi
Untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap eksposur risiko di sektor industri, rangkaian kegiatan juga disinergikan dengan kunjungan teknis ke fasilitas perakitan kereta api di Madiun. Dalam kunjungan tersebut, peserta melakukan observasi secara langsung terhadap proses engineering, sistem keselamatan, pengendalian operasional, serta berbagai potensi risiko yang terdapat pada rantai produksi dan operasional industri perkeretaapian.
Melalui penyelenggaraan sharing session ini, Indonesia Re menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kapabilitas teknis industri reasuransi nasional melalui kolaborasi, transfer pengetahuan, serta penerapan praktik underwriting yang sehat. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung terciptanya industri asuransi dan reasuransi Indonesia yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan dalam menghadapi dinamika risiko yang terus berkembang.
Forum tersebut menghadirkan berbagai pembahasan mengenai General Reinsurance Market Update 2026, yang mengulas kondisi pasar reasuransi umum lintas lini bisnis, seperti property, engineering, marine, dan casualty. Indonesia Re mengajak seluruh ceding companies untuk tetap menjaga disiplin underwriting meskipun pasar tengah berada dalam kondisi soft market. Baca juga: Indonesia Re Perkuat Transparansi lewat Forum Edukasi KIP 2025
Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Direktur Teknik dan Operasi Indonesia Re, Delil Khairat, di mana kondisi soft market ini memberikan tantangan yang berbeda bagi industri reasuransi nasional. "Kondisi soft market memberikan peluang sekaligus tantangan bagi industri. Sebagai buyer, kondisi ini tentu memberikan manfaat, namun sebagai seller kita menghadapi tekanan yang semakin besar," katanya dalam siaran pers, Selasa (14/7/2026).
Lebih lanjut, Delil menjelaskan berdasarkan perkembangan industri pada kuartal I 2026, premi asuransi umum memang masih mencatat pertumbuhan sekitar 1,92% secara year-on-year. Namun, pertumbuhan tersebut belum mampu mengimbangi kenaikan klaim yang terjadi di hampir seluruh lini bisnis.
Menurutnya, peningkatan premi secara nominal masih relatif terbatas jika dibandingkan dengan inflasi maupun pertumbuhan ekonomi nasional. “Industri juga masih menghadapi tantangan berupa penetrasi asuransi yang cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir, tingginya expense ratio, serta persaingan pasar yang semakin ketat sehingga mendorong perusahaan mengejar pertumbuhan volume bisnis,” jelasnya.
Delil menambahkan, saat ini perlu dipastikan bahwa pertumbuhan bisnis tidak hanya berorientasi pada peningkatan premi, tetapi juga diimbangi dengan kualitas seleksi risiko. ”Kenaikan klaim yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan premi juga tingginya biaya operasional jadi pengingat bahwa industri perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas," tambah.
Selain menjadi forum diskusi, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyampaikan underwriting guidance and risk appetite, parameter akseptasi, serta perspektif teknis Indonesia Re kepada ceding companies. Langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan proses underwriting yang semakin konsisten, prudent, dan selaras dengan perkembangan kondisi pasar. Baca juga: Konsolidasi Jadi Momentum Perbaikan Fondasi Industri Asuransi
Untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap eksposur risiko di sektor industri, rangkaian kegiatan juga disinergikan dengan kunjungan teknis ke fasilitas perakitan kereta api di Madiun. Dalam kunjungan tersebut, peserta melakukan observasi secara langsung terhadap proses engineering, sistem keselamatan, pengendalian operasional, serta berbagai potensi risiko yang terdapat pada rantai produksi dan operasional industri perkeretaapian.
Melalui penyelenggaraan sharing session ini, Indonesia Re menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kapabilitas teknis industri reasuransi nasional melalui kolaborasi, transfer pengetahuan, serta penerapan praktik underwriting yang sehat. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung terciptanya industri asuransi dan reasuransi Indonesia yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan dalam menghadapi dinamika risiko yang terus berkembang.
(poe)
Lihat Juga :