Rupiah Belum Menjauh dari Level Rp18.068 per USD, Intip 2 Sentimen Penyebabnya
Rabu, 15 Juli 2026 - 18:43 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, Indeks Harga Konsumen bulan Juni meleset dari perkiraan, turun dari 4,2% menjadi 3,5% YoY, dan di bawah perkiraan perlambatan sebesar 3,8%. Sebuah indikasi bahwa kenaikan suku bunga agresif oleh The Fed saat ini tidak diperlukan, sementara Inflasi inti turun dari 2,9% menjadi 2,6%, juga di bawah perkiraan sebesar 2,8%.
Baca Juga: IHSG Ditutup Menguat Tipis, Rupiah Masih Bertengger di Atas Rp18.000
Para pelaku pasar mengurangi taruhan kenaikan suku bunga The Fed. Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan Juli turun menjadi 16%dari 40 persen, sementara peluang kenaikan suku bunga pada bulan September turun menjadi 60 persen dari 74 persen.
Dari sentimen domestik, meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah seiring pelebaran defisit APBN 2026, kebutuhan penarikan utang baru secara bruto pada tahun ini diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp1.768 triliun. Penerimaan terbesar selama ini berasal dari utang, yang disebut sebagai pembiayaan utang.
Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan defisit sekaligus pembiayaan anggaran sebesar Rp689,15 triliun. Nilai tersebut terdiri atas pembiayaan utang neto sebesar Rp832,21 triliun dan pembiayaan nonutang sebesar Rp143,06 triliun yang antara lain digunakan untuk pembiayaan investasi dan pemberian pinjaman.
Namun, berdasarkan outlook pemerintah, defisit APBN 2026 diproyeksikan melebar menjadi Rp734,32 triliun. Sejalan dengan itu, kebutuhan pembiayaan anggaran juga meningkat dengan pembiayaan utang neto diperkirakan mencapai Rp868,12 triliun.
Berdasarkan data utang jatuh tempo dan realisasi tahun sebelumnya, pemerintah harus membayar pokok utang sekitar Rp900 triliun tahun ini. Posisi utang pemerintah pada 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp9.638 triliun.
Baca Juga: IHSG Ditutup Menguat Tipis, Rupiah Masih Bertengger di Atas Rp18.000
Para pelaku pasar mengurangi taruhan kenaikan suku bunga The Fed. Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan Juli turun menjadi 16%dari 40 persen, sementara peluang kenaikan suku bunga pada bulan September turun menjadi 60 persen dari 74 persen.
Dari sentimen domestik, meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah seiring pelebaran defisit APBN 2026, kebutuhan penarikan utang baru secara bruto pada tahun ini diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp1.768 triliun. Penerimaan terbesar selama ini berasal dari utang, yang disebut sebagai pembiayaan utang.
Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan defisit sekaligus pembiayaan anggaran sebesar Rp689,15 triliun. Nilai tersebut terdiri atas pembiayaan utang neto sebesar Rp832,21 triliun dan pembiayaan nonutang sebesar Rp143,06 triliun yang antara lain digunakan untuk pembiayaan investasi dan pemberian pinjaman.
Namun, berdasarkan outlook pemerintah, defisit APBN 2026 diproyeksikan melebar menjadi Rp734,32 triliun. Sejalan dengan itu, kebutuhan pembiayaan anggaran juga meningkat dengan pembiayaan utang neto diperkirakan mencapai Rp868,12 triliun.
Berdasarkan data utang jatuh tempo dan realisasi tahun sebelumnya, pemerintah harus membayar pokok utang sekitar Rp900 triliun tahun ini. Posisi utang pemerintah pada 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp9.638 triliun.
Lihat Juga :