Rupiah Semringah Sambut Akhir Pekan, Menjauh dari Level Rp18 Ribu per Dolar AS

Jum'at, 17 Juli 2026 - 18:48 WIB
loading...
Rupiah Semringah Sambut...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat (17/7/2026), usai naik 65 poin atau sekitar 0,36%. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat (17/7/2026), usai naik 65 poin atau sekitar 0,36% ke level Rp17.921 per dolar AS. Analis pasar uang , Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal.

Diantaranya yakni gelombang serangan AS lain yang terjadi lagi terhadap Iran pada hari Kamis, sehari setelah serangan merusak sebuah kapal tanker minyak di dekat terminal ekspor utama Iran.

“Permusuhan yang diperbarui telah memperpanjang konflik Timur Tengah hingga bulan kelima, menjaga harga minyak mentah tetap tinggi dan menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi dapat memicu kembali inflasi,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Baca Juga: Bukan Cuma Harga Minyak, Tata Kelola APBN yang Buruk Jadi Biang Kerok Lemahnya Rupiah

Teheran membalas dengan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer AS di negara-negara tetangga, termasuk serangan gencar di pangkalan udara yang baru diperluas di Yordania.



Menambah kekhawatiran pasokan minyak, kepemimpinan Iran telah memberi tahu sekutu Houthi-nya untuk bersiap menutup jalur minyak Laut Merah jika AS menyerang infrastruktur listrik Iran, tiga sumber mengatakan kepada Reuters.

Harga minyak yang lebih tinggi berisiko mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve dengan meningkatkan kemungkinan bahwa inflasi tetap di atas target. Walaupun data inflasi konsumen dan produsen AS minggu ini menunjukkan penurunan tekanan harga yang mendasarinya.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.986 per Dolar AS, Apa Saja Penyebabnya?

Akan tetapi pasar sebagian besar mengabaikan data retrospektif tersebut di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi terbaru dapat membalikkan tren disinflasi. Pejabat Federal Reserve terus menekankan bahwa risiko inflasi tetap ada, meskipun data terbaru menunjukkan tekanan harga sedang mereda.

Para pembuat kebijakan berulang kali memperingatkan bahwa harga minyak yang lebih tinggi akibat konflik di Timur Tengah dapat memperumit prospek inflasi dan mengatakan bahwa mereka membutuhkan beberapa bulan lagi data harga yang rendah sebelum mempertimbangkan pemotongan suku bunga.

Dari sentimen domestik, Bank Indonesia (BI) merilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) periode kuartal II 2026. Aktivitas dunia usaha terpantau meningkat. BI melaporkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II 2026 berada di 12,97%, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yakni 10,11%.

Meningkatnya kegiatan usaha tersebut didorong oleh kenaikan kinerja mayoritas Lapangan Usaha (LU) utama, antara lain LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Konstruksi, dan LU Pertambangan dan Penggalian sejalan dengan aktivitas usahanya, serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sejalan dengan permintaan terjaga pada rangkaian periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan high season liburan sekolah pada kuartal II 2026.

Sejalan dengan itu, kapasitas produksi terpakai pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 73,8%. Lebih tinggi ketimbang realisasi kuartal sebelumnya 73,33%.

Peningkatan kapasitas produksi terpakai terutama ditopang oleh LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Pertambangan dan Penggalian, dan LU Pengadaan Listrik. Sementara itu, kondisi keuangan dunia usaha secara umum tetap baik pada aspek likuiditas maupun rentabilitas, dengan akses kredit yang tetap mudah.

Untuk kuartal III 2026, responden memperkirakan aktivitas dunia usaha sedikit melambat dengan SBT di 11,75 persen. Kinerja lapangan usaha yang diperkirakan meningkat adalah LU Industri Pengolahan, LU Perdagangan Besar dan Eceran, serta Reparasi Mobil dan Motor sejalan dengan prakiraan terjaganya permintaan masyarakat, serta LU Konstruksi seiring dengan berlanjutnya pengerjaan sejumlah proyek pemerintah dan swasta.

Selain itu, kinerja kegiatan usaha pada LU Pertambangan dan Penggalian juga diprakirakan meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan curah hujan sehingga mendorong kenaikan aktivitas pertambangan.

Dalam survei lain, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI) mencatatkan kinerja industri pengolahan berada di level 51,43% pada kuartal II 2026, lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 52,03%.

BI mencatat bahwa PMI BI itu didorong oleh ekspansi (>50%) pada beberapa komponen, seperti Volume Produksi (53,81%), Volume Persediaan Barang Jadi (53,00%), serta Volume Total Pesanan (52,77%).

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.870-Rp17.930 per dolar AS. Sedangkan dalam perdagangan pekan depan diprediksi pada level Rp17.750-Rp18.050 per dolar AS.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bukan Cuma Harga Minyak,...
Bukan Cuma Harga Minyak, Tata Kelola APBN yang Buruk Jadi Biang Kerok Lemahnya Rupiah
Rupiah Ditutup Menguat...
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.986 per Dolar AS, Apa Saja Penyebabnya?
Rupiah Belum Menjauh...
Rupiah Belum Menjauh dari Level Rp18.068 per USD, Intip 2 Sentimen Penyebabnya
Rupiah Ambruk Diterpa...
Rupiah Ambruk Diterpa Mega Korupsi hingga Konflik AS-Iran, Hari ini Tembus Rp18.109 per USD
Rupiah Tembus Rp18.000...
Rupiah Tembus Rp18.000 Lagi, Airlangga Tegaskan Fundamental Ekonomi Masih Kuat
Bagaimana Kebijakan...
Bagaimana Kebijakan Bank Sentral Berpengaruh terhadap Pasar Mata Uang?
Stabilitas Harga Rupiah...
Stabilitas Harga Rupiah Pasca BI Rate Naik (Lagi)
Soal Rupiah, Tomkur:...
Soal Rupiah, Tomkur: Perlu Koordinasi Kebijakan Lintas Sektor
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Rekomendasi
FKGI Dukung Arah Kebijakan...
FKGI Dukung Arah Kebijakan Kemenhut, Infrastruktur Diminta Lindungi Koridor Gajah
Ramalan Juni Indonesia...
Ramalan Juni Indonesia Kolaps, Prabowo: Ini Udah Juli!
Kelakar Prabowo: Nanti...
Kelakar Prabowo: Nanti Ada Pertandingan Jenderal-Jenderal, Saya Wasitnya
Berita Terkini
Misteri Brankas Rahasia:...
Misteri Brankas Rahasia: Mengapa Banyak Negara Pilih Simpan Cadangan Emasnya di Luar Negeri?
BRI Hadirkan KKB Expo...
BRI Hadirkan KKB Expo Serentak di 131 Titik, Tawarkan Berbagai Promo Spesial untuk Masyarakat
Rupiah Semringah Sambut...
Rupiah Semringah Sambut Akhir Pekan, Menjauh dari Level Rp18 Ribu per Dolar AS
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Sumbagut dan Polda Sumut Sinergi Percepat Normalisasi Distribusi BBM
Yamaha Grand Filano...
Yamaha Grand Filano Hybrid Tawarkan Gaya Kalcer, Konsumsi BBM Diklaim Capai 60 Km per Liter
Produktivitas Kebun...
Produktivitas Kebun Sawit Sitaan Negara Menurun, Muncul Desakan Audit Total
Infografis
7 Wilayah AS yang Diperoleh...
7 Wilayah AS yang Diperoleh dengan Membeli dan Merebut dari Negara Lain
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved