BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
Jum'at, 17 Juli 2026 - 22:44 WIB
loading...
Berdasarkan data BI hingga posisi Kamis (16/7), akumulasi ekspansi likuiditas yang diguyurkan BI ke pasar melalui operasi moneter telah menembus Rp837,11 triliun. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melakukan injeksi likuiditas ke dalam sistem keuangan melalui pemanfaatan berbagai instrumen moneter strategis, seperti transaksi repurchase agreement (repo), valuta asing (swap), serta aksi pembelian Surat Berharga Nasional (SBN) di pasar sekunder. Berdasarkan data BI hingga posisi Kamis (16/7/2026), akumulasi ekspansi likuiditas yang diguyurkan BI ke pasar melalui operasi moneter telah menembus Rp837,11 triliun.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan, langkah ini terbukti efektif menjaga momentum pertumbuhan uang primer (M0) tetap melaju di zona double digit, yakni tumbuh sebesar 12,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada akhir Juni 2026.
"Kondisi ini dipengaruhi strategi ekspansi likuiditas oleh Bank Indonesia melalui berbagai instrumen moneter seperti repo, swap, dan pembelian SBN di pasar sekunder, dimana per 16 Juli ekspansi likuiditas BI melalui operasi moneter tercatat sebesar Rp837,11 triliun,” kata Destry dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga: Dana Pemerintah Rp281 Triliun Dijamin Parkir di Bank BUMN hingga Desember 2026
Adapun BI menegaskan bahwa ketahanan kondisi likuiditas di industri perbankan domestik saat ini tetap berada dalam posisi yang terjaga dengan baik. Ketersediaan likuiditas yang memadai ini dinilai sangat penting untuk menopang pencapaian target intermediasi perbankan serta memperkuat stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Destry, indikator stabilitas ini salah satunya tecermin dari pergerakan indeks INDONIA (Indonesia Overnight Index Average) yang merepresentasikan dinamika suku bunga transaksional antarbank di pasar uang.
Data BI menunjukkan indeks INDONIA yang sempat melonjak hingga menyentuh level 6,62% pada 18 Juni 2026, kini dilaporkan telah melandai ke posisi 6,17% pada pemantauan per 16 Juli 2026. BI menilai penurunan indeks ini menjadi sinyal positif bahwa tensi kebutuhan pendanaan jangka pendek di kalangan perbankan mulai berkurang.
"Penurunan INDONIA mencerminkan berkurangnya tekanan permintaan likuiditas di pasar uang antarbank sehingga kebutuhan pendanaan jangka pendek dapat dipenuhi dengan biaya yang lebih rendah. Kondisi tersebut mengindikasikan likuiditas pasar uang yang tetap memadai,” jelas Destry.
Pelonggaran tekanan di pasar uang tersebut merupakan dampak langsung dari strategi intervensi yang dijalankan secara aktif oleh bank sentral. Baca Juga: Purbaya Bakal Tempatkan Dana Rp400 Triliun Lagi di Himbara
BI melakukan injeksi likuiditas ke dalam sistem keuangan melalui pemanfaatan berbagai instrumen moneter strategis, seperti transaksi repurchase agreement (repo), valuta asing (swap), serta aksi pembelian Surat Berharga Nasional (SBN) di pasar sekunder.
Untuk mengantisipasi adanya sumbatan aliran dana di pasar riil, Bank Indonesia terus membangun komunikasi intensif dengan jajaran manajemen perbankan. Upaya ini difokuskan untuk mengurai setiap hambatan distribusi likuiditas antarbank dengan tetap mengedepankan manajemen risiko yang terkelola secara ketat.
Di samping itu, BI berkomitmen mempercepat pendalaman pasar uang melalui kemitraan strategis bersama asosiasi pelaku pasar, sektor perbankan, dan otoritas terkait lainnya agar tercipta pasar uang domestik yang dalam, likuid, serta efisien.
Sebagai fungsi kontrol, bank sentral memastikan bakal terus memperketat pengawasan dan surveilans guna menegakkan kepatuhan terhadap seluruh regulasi yang berlaku, sekaligus memastikan perilaku para pelaku pasar tetap bergerak dalam koridor batas kewajaran.
Destry menegaskan, Bank Indonesia juga terus melakukan komunikasi intensif dengan perbankan agar hambatan distribusi likuiditas antar bank dapat teratasi dengan risiko yang terkelola dengan baik. Selain itu, upaya pengembangan pasar uang juga terus dilakukan berkolaborasi dengan asosiasi pasar, perbankan, dan otoritas lainnya, agar tercipta pasar uang yang dalam, likuid, dan efisien.
“Surveilans dan pengawasan terus diperkuat dalam penegakan ketentuan dan memastikan perilaku pasar selalu dalam koridor yang wajar,” katanya.
Melihat dinamika ke depan, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memantau pergerakan pasar secara real-time guna memastikan kecukupan pasokan dana di sistem keuangan.
Kebijakan pemantauan berlapis ini diperkuat agar proses pembentukan suku bunga di pasar dapat berjalan secara efisien sekaligus mengoptimalkan efektivitas transmisi kebijakan moneter dalam mendukung pertumbuhan ekonomi makro.
"Ke depan, Bank Indonesia akan terus memonitor dan memastikan kecukupan likuiditas untuk mendukung efektivitas transmisi kebijakan moneter dalam memperkuat stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi. Strategi ini juga terus diperkuat agar distribusi likuiditas antar bank terjaga baik sehingga dapat mendukung proses proses pembentukan suku bunga secara efisien dan memperkuat efektivitas kebijakan moneter," pungkas Destry.
Purbaya Sebut Data Likuiditas Bank Tak Akurat
Pernyataan Bank Indonesia (BI) seakan menjawab pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang mempertanyakan akurasi data kondisi likuiditas perbankan. BI menegaskan likuiditas perbankan nasional tetap memadai, tercermin dari meredanya tekanan di pasar uang antarbank dan berbagai indikator likuiditas yang masih berada jauh di atas ambang batas.
Sebelumnya, Purbaya menyebut data yang digunakan BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Kementerian Keuangan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan. Menurutnya, sejumlah bank masih menghadapi kesulitan memperoleh likuiditas meski indikator industri menunjukkan kondisi yang baik.
“Kalau Bapak tanya LPS, OJK, BI, Keuangan, semua bilang (likuiditas) ample. Tapi itu data mereka salah semua,” kata Purbaya dalam rapat kerja Komisi XI DPR bersama pemerintah di Kompleks Parlemen, Jakarta, sebagaimana dikutip pada Kamis (16/7).
Purbaya menilai tekanan likuiditas masih terlihat dari meningkatnya suku bunga deposito dan pergerakan suku bunga pasar uang antarbank (interbank) yang mencerminkan tingginya kebutuhan pendanaan di kalangan perbankan.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan, langkah ini terbukti efektif menjaga momentum pertumbuhan uang primer (M0) tetap melaju di zona double digit, yakni tumbuh sebesar 12,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada akhir Juni 2026.
"Kondisi ini dipengaruhi strategi ekspansi likuiditas oleh Bank Indonesia melalui berbagai instrumen moneter seperti repo, swap, dan pembelian SBN di pasar sekunder, dimana per 16 Juli ekspansi likuiditas BI melalui operasi moneter tercatat sebesar Rp837,11 triliun,” kata Destry dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga: Dana Pemerintah Rp281 Triliun Dijamin Parkir di Bank BUMN hingga Desember 2026
Adapun BI menegaskan bahwa ketahanan kondisi likuiditas di industri perbankan domestik saat ini tetap berada dalam posisi yang terjaga dengan baik. Ketersediaan likuiditas yang memadai ini dinilai sangat penting untuk menopang pencapaian target intermediasi perbankan serta memperkuat stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Destry, indikator stabilitas ini salah satunya tecermin dari pergerakan indeks INDONIA (Indonesia Overnight Index Average) yang merepresentasikan dinamika suku bunga transaksional antarbank di pasar uang.
Data BI menunjukkan indeks INDONIA yang sempat melonjak hingga menyentuh level 6,62% pada 18 Juni 2026, kini dilaporkan telah melandai ke posisi 6,17% pada pemantauan per 16 Juli 2026. BI menilai penurunan indeks ini menjadi sinyal positif bahwa tensi kebutuhan pendanaan jangka pendek di kalangan perbankan mulai berkurang.
"Penurunan INDONIA mencerminkan berkurangnya tekanan permintaan likuiditas di pasar uang antarbank sehingga kebutuhan pendanaan jangka pendek dapat dipenuhi dengan biaya yang lebih rendah. Kondisi tersebut mengindikasikan likuiditas pasar uang yang tetap memadai,” jelas Destry.
Pelonggaran tekanan di pasar uang tersebut merupakan dampak langsung dari strategi intervensi yang dijalankan secara aktif oleh bank sentral. Baca Juga: Purbaya Bakal Tempatkan Dana Rp400 Triliun Lagi di Himbara
BI melakukan injeksi likuiditas ke dalam sistem keuangan melalui pemanfaatan berbagai instrumen moneter strategis, seperti transaksi repurchase agreement (repo), valuta asing (swap), serta aksi pembelian Surat Berharga Nasional (SBN) di pasar sekunder.
Untuk mengantisipasi adanya sumbatan aliran dana di pasar riil, Bank Indonesia terus membangun komunikasi intensif dengan jajaran manajemen perbankan. Upaya ini difokuskan untuk mengurai setiap hambatan distribusi likuiditas antarbank dengan tetap mengedepankan manajemen risiko yang terkelola secara ketat.
Di samping itu, BI berkomitmen mempercepat pendalaman pasar uang melalui kemitraan strategis bersama asosiasi pelaku pasar, sektor perbankan, dan otoritas terkait lainnya agar tercipta pasar uang domestik yang dalam, likuid, serta efisien.
Sebagai fungsi kontrol, bank sentral memastikan bakal terus memperketat pengawasan dan surveilans guna menegakkan kepatuhan terhadap seluruh regulasi yang berlaku, sekaligus memastikan perilaku para pelaku pasar tetap bergerak dalam koridor batas kewajaran.
Destry menegaskan, Bank Indonesia juga terus melakukan komunikasi intensif dengan perbankan agar hambatan distribusi likuiditas antar bank dapat teratasi dengan risiko yang terkelola dengan baik. Selain itu, upaya pengembangan pasar uang juga terus dilakukan berkolaborasi dengan asosiasi pasar, perbankan, dan otoritas lainnya, agar tercipta pasar uang yang dalam, likuid, dan efisien.
“Surveilans dan pengawasan terus diperkuat dalam penegakan ketentuan dan memastikan perilaku pasar selalu dalam koridor yang wajar,” katanya.
Melihat dinamika ke depan, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memantau pergerakan pasar secara real-time guna memastikan kecukupan pasokan dana di sistem keuangan.
Kebijakan pemantauan berlapis ini diperkuat agar proses pembentukan suku bunga di pasar dapat berjalan secara efisien sekaligus mengoptimalkan efektivitas transmisi kebijakan moneter dalam mendukung pertumbuhan ekonomi makro.
"Ke depan, Bank Indonesia akan terus memonitor dan memastikan kecukupan likuiditas untuk mendukung efektivitas transmisi kebijakan moneter dalam memperkuat stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi. Strategi ini juga terus diperkuat agar distribusi likuiditas antar bank terjaga baik sehingga dapat mendukung proses proses pembentukan suku bunga secara efisien dan memperkuat efektivitas kebijakan moneter," pungkas Destry.
Purbaya Sebut Data Likuiditas Bank Tak Akurat
Pernyataan Bank Indonesia (BI) seakan menjawab pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang mempertanyakan akurasi data kondisi likuiditas perbankan. BI menegaskan likuiditas perbankan nasional tetap memadai, tercermin dari meredanya tekanan di pasar uang antarbank dan berbagai indikator likuiditas yang masih berada jauh di atas ambang batas.
Sebelumnya, Purbaya menyebut data yang digunakan BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Kementerian Keuangan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan. Menurutnya, sejumlah bank masih menghadapi kesulitan memperoleh likuiditas meski indikator industri menunjukkan kondisi yang baik.
“Kalau Bapak tanya LPS, OJK, BI, Keuangan, semua bilang (likuiditas) ample. Tapi itu data mereka salah semua,” kata Purbaya dalam rapat kerja Komisi XI DPR bersama pemerintah di Kompleks Parlemen, Jakarta, sebagaimana dikutip pada Kamis (16/7).
Purbaya menilai tekanan likuiditas masih terlihat dari meningkatnya suku bunga deposito dan pergerakan suku bunga pasar uang antarbank (interbank) yang mencerminkan tingginya kebutuhan pendanaan di kalangan perbankan.
(akr)
Lihat Juga :