Dulu Dijajah Belanda, Kini Digerus Impor? Mantan Menkeu Ungkap Jurus Jitu Cetak Ekonomi Tumbuh 8%
Sabtu, 18 Juli 2026 - 22:47 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
Menurutnya ini bakal menjadi jurus konkret untuk mengurangi pembelian impor BBM dan menghemat dolar. Dalam sejarahnya Indonesia resmi bergabung menjadi anggota OPEC pada tahun 1962, namun status tersebut telah berakhir.
Indonesia keluar pertama kali pada tahun 2008 karena berubah menjadi negara pengimpor minyak, sempat aktif kembali di tahun 2016, dan akhirnya membekukan keanggotaannya secara permanen pada tahun yang sama akibat penurunan produksi.
Di sana, Eropa mengolahnya dan menjual kembali barang jadi tersebut ke Indonesia dengan harga berkali-kali lipat lebih mahal. Maka terang Fuad, ketika Indonesia mulai berani menghentikan ekspor nikel dan sawit, membuat negara-negara Eropa marah besar.
"Biasanya bodoh-bodoh, kok sekarang jadi pintar gitu. Makanya kita sekarang mulai mengolah di dalam negeri, supaya ada peningkatan nilai tambah, value-added (nilai tambah) ada di tangan kita," seru Fuad.
Untuk mempercepat kebangkitan ekonomi, Ia juga merumuskan 3 rekomendasi kebijakan ekonomi paling prioritas yang harus dijalankan tanpa perlu membuat program baru yang tumpang tindih:
Jurus 1: Perkuat Kedaulatan Energi (B50 & Energi Terbarukan)
Menurutnya ini bakal menjadi jurus konkret untuk mengurangi pembelian impor BBM dan menghemat dolar. Dalam sejarahnya Indonesia resmi bergabung menjadi anggota OPEC pada tahun 1962, namun status tersebut telah berakhir.
Indonesia keluar pertama kali pada tahun 2008 karena berubah menjadi negara pengimpor minyak, sempat aktif kembali di tahun 2016, dan akhirnya membekukan keanggotaannya secara permanen pada tahun yang sama akibat penurunan produksi.
3 Rekomendasi Kebijakan Prioritas demi Lepas Pola Penjajah
Sementara itu Fuad Bawazier mengkritik keras mentalitas ekonomi lama yang dinilainya masih mempraktikkan pola kolonialisme. Sejak zaman Hindia Belanda, kekayaan alam Indonesia dikeruk, lalu bahan mentahnya diekspor mentah-mentah ke Eropa.Di sana, Eropa mengolahnya dan menjual kembali barang jadi tersebut ke Indonesia dengan harga berkali-kali lipat lebih mahal. Maka terang Fuad, ketika Indonesia mulai berani menghentikan ekspor nikel dan sawit, membuat negara-negara Eropa marah besar.
"Biasanya bodoh-bodoh, kok sekarang jadi pintar gitu. Makanya kita sekarang mulai mengolah di dalam negeri, supaya ada peningkatan nilai tambah, value-added (nilai tambah) ada di tangan kita," seru Fuad.
Untuk mempercepat kebangkitan ekonomi, Ia juga merumuskan 3 rekomendasi kebijakan ekonomi paling prioritas yang harus dijalankan tanpa perlu membuat program baru yang tumpang tindih:
Jurus 1: Perkuat Kedaulatan Energi (B50 & Energi Terbarukan)
Lihat Juga :