Lebih Ngeri dari Blokade Selat Hormuz, Penutupan Laut Merah Ancam Energi Global
Senin, 20 Juli 2026 - 08:40 WIB
loading...
A
A
A
Situasi makin diperparah oleh runtuhnya gencatan senjata empat tahun antara Houthi dan Arab Saudi. Houthi baru saja meluncurkan rudal ke wilayah Saudi setelah menuduh kerajaan tersebut membom bandara di bawah kendali mereka.
Jika kawasan Laut Merah ikut menjadi zona perang, Arab Saudi tidak lagi memiliki jalur aman untuk menjual minyaknya ke pasar internasional.
Torbjorn Soltvedt, analis utama Timur Tengah dari perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft, memperingatkan bahwa eskalasi ini terjadi di waktu yang sangat krusial. "Jika pertempuran meluas ke infrastruktur ekspor dan perkapalan Laut Merah, ini akan menghancurkan satu-satunya rute alternatif utama bagi ekspor minyak dari wilayah tersebut," jelasnya.
Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri Iran dan juru bicara kelompok Houthi masih belum memberikan respons resmi terkait laporan tersebut. Namun satu hal yang pasti: dunia kini sedang menahan napas menunggu apakah AS akan memicu tombol perang yang bisa memadamkan aliran minyak dunia.
Arab Saudi Siaga Satu, Jalur Alternatif Yanbu Terancam
Ancaman ini menjadi mimpi buruk bagi Riyadh. Setelah Selat Hormuz tidak bisa dilewati, Arab Saudi telah mengalihkan sekitar 70% ekspor energinya melalui jaringan pipa menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Jalur alternatif ini mencakup sekitar 7% dari pasokan energi dunia saat ini.Jika kawasan Laut Merah ikut menjadi zona perang, Arab Saudi tidak lagi memiliki jalur aman untuk menjual minyaknya ke pasar internasional.
Torbjorn Soltvedt, analis utama Timur Tengah dari perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft, memperingatkan bahwa eskalasi ini terjadi di waktu yang sangat krusial. "Jika pertempuran meluas ke infrastruktur ekspor dan perkapalan Laut Merah, ini akan menghancurkan satu-satunya rute alternatif utama bagi ekspor minyak dari wilayah tersebut," jelasnya.
Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri Iran dan juru bicara kelompok Houthi masih belum memberikan respons resmi terkait laporan tersebut. Namun satu hal yang pasti: dunia kini sedang menahan napas menunggu apakah AS akan memicu tombol perang yang bisa memadamkan aliran minyak dunia.
(akr)
Lihat Juga :