Ramalan Goldman Sachs soal Harga Minyak Dunia Diwarnai Skenario Buruk Tembus USD145 per Barel
Minggu, 26 Juli 2026 - 08:56 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: AS Gempur Iran 12 Malam Beruntun & Houthi Tembak Tanker Saudi, Harga Minyak Dunia Tembus USD96/Barel
Lalu ada lonjakan konsumsi musim panas, lonjakan aktivitas perjalanan menambah permintaan hingga 0,8 juta barel per hari pada Q3. Terakhir pemberhentian rilis cadangan strategis, dimana negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan kini berhenti melepas Strategic Petroleum Reserve (SPR) dan beralih membeli minyak untuk mengisi ulang cadangan nasional mereka.
Hal ini disebabkan oleh aksi penimbunan cadangan strategis pemerintah dunia sebesar 1,2 juta bpd serta biaya produksi minyak shale AS yang secara alami membatasi penurunan harga.
Bagi investor dan pengamat ekonomi global, Goldman Sachs menyimpulkan satu hal: keseimbangan risiko pasar minyak saat ini cenderung mengarah ke atas, bukan ke bawah. Apakah harus bersiap menghadapi dampak potensi lonjakan harga BBM dunia di akhir tahun ini?.
Lalu ada lonjakan konsumsi musim panas, lonjakan aktivitas perjalanan menambah permintaan hingga 0,8 juta barel per hari pada Q3. Terakhir pemberhentian rilis cadangan strategis, dimana negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan kini berhenti melepas Strategic Petroleum Reserve (SPR) dan beralih membeli minyak untuk mengisi ulang cadangan nasional mereka.
Proyeksi 2027: Surplus Minyak Tak Bikin Harga Anjlok
Untuk tahun 2027, Goldman memproyeksikan surplus minyak global sebesar 3,2 juta barel per hari dengan harga Brent rata-rata USD75 dan WTI USD70 per barel, namun dengan asumsi Hormuz tetap buka. Meskipun terdapat surplus masif yang biasanya memicu penurunan harga (price collapse), Goldman menilai harga tidak akan jatuh ke bawah USD60-an.Hal ini disebabkan oleh aksi penimbunan cadangan strategis pemerintah dunia sebesar 1,2 juta bpd serta biaya produksi minyak shale AS yang secara alami membatasi penurunan harga.
Bagi investor dan pengamat ekonomi global, Goldman Sachs menyimpulkan satu hal: keseimbangan risiko pasar minyak saat ini cenderung mengarah ke atas, bukan ke bawah. Apakah harus bersiap menghadapi dampak potensi lonjakan harga BBM dunia di akhir tahun ini?.
(akr)
Lihat Juga :