Media Asing Soroti Mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo, Uji Independensi Bank Indonesia
Selasa, 28 Juli 2026 - 07:58 WIB
loading...
Media internasional Reuters menyoroti pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. FOTO/Reuters
A
A
A
SINGAPURA - Media internasional Reuters menyoroti pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) di tengah upaya pemulihan kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia. Pergantian kepemimpinan bank sentral tersebut dinilai menjadi ujian bagi independensi BI sekaligus memunculkan kembali kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan moneter dan stabilitas ekonomi nasional.
"Pertanyaan yang lebih besar adalah mengenai independensi bank sentral, karena masa jabatan tetap dirancang untuk melindungi gubernur dari tekanan politik dan pengunduran diri sebelum masa jabatan berakhir menjadi ujian bagi prinsip tersebut," kata Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas Rangga Cipta, seperti dikutip Reuters, Selasa (28/7/2026).
Perry Warjiyo mengundurkan diri pada Senin (27/7), setelah memimpin BI selama delapan tahun karena alasan pribadi. Pemerintah Indonesia kemudian menunjuk Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas (Plt.) Gubernur BI guna menjaga kesinambungan kebijakan moneter selama proses penunjukan gubernur definitif.
Baca Juga: Breaking News! Gubernur BI Perry Warjiyo Mengundurkan Diri
Menurut Rangga, pengunduran diri gubernur bank sentral di tengah masa jabatan dipersepsikan negatif oleh investor karena dapat menimbulkan ketidakpastian arah kebijakan. Meski demikian, ia menilai faktor yang lebih menentukan bagi pasar adalah sosok yang akan dipilih sebagai pengganti Perry Warjiyo.
Adapun Indonesia kehilangan dua figur ekonomi yang selama ini dianggap menjadi pilar kredibilitas kebijakan dalam waktu kurang dari satu tahun. Setelah Sri Mulyani Indrawati tidak lagi menjabat Menteri Keuangan pada September lalu, pengunduran diri Perry Warjiyo dinilai semakin memperkuat kekhawatiran investor terhadap kesinambungan kebijakan ekonomi.
Sesuai mekanisme yang berlaku, Presiden Prabowo Subianto akan mengajukan calon Gubernur BI kepada DPR untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan sebelum memperoleh persetujuan. Hingga kini, pemerintah belum mengumumkan nama calon pengganti Perry Warjiyo.
Manajer Portofolio Grasshopper Asset Management Daniel Tan mengatakan kebijakan moneter BI menjadi kurang independen dan kurang kredibel berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah maupun aset-aset keuangan Indonesia.
Sementara, Sekretaris Kabinet meminta pelaku pasar tetap tenang selama masa transisi kepemimpinan BI dan menegaskan pergantian tersebut tidak akan mengganggu kebijakan moneter maupun stabilitas ekonomi. Reuters juga mencatat independensi BI kembali menjadi sorotan setelah Thomas Djiwandono diangkat sebagai Deputi Gubernur BI pada Januari serta disahkannya perubahan undang-undang pada Juni yang memperkuat peran BI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
Rupiah Melemah
Pascapengumuman pengunduran diri Perry Warjiyo, rupiah melemah sekitar 0,3% menjadi Rp17.990 per dolar AS, tidak jauh dari rekor terendah Rp18.190 per dolar AS yang terjadi pada Juni. Sepanjang 2026, nilai tukar rupiah telah melemah lebih dari 7%, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia meskipun BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin dalam beberapa bulan terakhir.
Reuters menilai kondisi tersebut terjadi setelah pasar sempat memperoleh sentimen positif dari keputusan S&P Global Ratings pada awal Juli yang mempertahankan peringkat utang Indonesia dengan prospek stabil. Sebaliknya, Moody's dan Fitch sebelumnya telah merevisi prospek peringkat Indonesia menjadi negatif sehingga kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dan stabilitas makroekonomi masih membayangi.
Baca Juga: Soal Pengganti Perry Warjiyo, DPR Tunggu Usulan Prabowo
Direktur Sovereigns Fitch Ratings George Xu mengatakan lembaganya terus memantau perkembangan tersebut karena masih terdapat risiko tekanan eksternal akibat rapuhnya sentimen investor di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter dan persepsi terhadap independensi bank sentral.
Sementara itu, Kepala Riset Asia ANZ Khoon Goh menilai pasar sebelumnya mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah berbagai sentimen negatif sejak awal tahun, namun perkembangan terbaru kembali meningkatkan ketidakpastian bagi investor.
Kepala Strategi Makro Asia dan Investasi BNY Investments Aninda Mitra mengatakan pelaku pasar akan mencermati siapa yang akan dicalonkan Presiden Prabowo sebagai Gubernur BI berikutnya untuk menilai apakah bank sentral tetap mempertahankan independensinya atau lebih berorientasi mendukung target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 8% pada 2029.
Selama ketidakpastian kebijakan moneter masih berlangsung dan belum diimbangi kejutan positif dari sisi fiskal, premi risiko terhadap aset berdenominasi rupiah diperkirakan tetap tinggi sehingga kepemimpinan transisi akan menghadapi dilema antara menjaga pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar rupiah.
"Pertanyaan yang lebih besar adalah mengenai independensi bank sentral, karena masa jabatan tetap dirancang untuk melindungi gubernur dari tekanan politik dan pengunduran diri sebelum masa jabatan berakhir menjadi ujian bagi prinsip tersebut," kata Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas Rangga Cipta, seperti dikutip Reuters, Selasa (28/7/2026).
Perry Warjiyo mengundurkan diri pada Senin (27/7), setelah memimpin BI selama delapan tahun karena alasan pribadi. Pemerintah Indonesia kemudian menunjuk Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas (Plt.) Gubernur BI guna menjaga kesinambungan kebijakan moneter selama proses penunjukan gubernur definitif.
Baca Juga: Breaking News! Gubernur BI Perry Warjiyo Mengundurkan Diri
Menurut Rangga, pengunduran diri gubernur bank sentral di tengah masa jabatan dipersepsikan negatif oleh investor karena dapat menimbulkan ketidakpastian arah kebijakan. Meski demikian, ia menilai faktor yang lebih menentukan bagi pasar adalah sosok yang akan dipilih sebagai pengganti Perry Warjiyo.
Adapun Indonesia kehilangan dua figur ekonomi yang selama ini dianggap menjadi pilar kredibilitas kebijakan dalam waktu kurang dari satu tahun. Setelah Sri Mulyani Indrawati tidak lagi menjabat Menteri Keuangan pada September lalu, pengunduran diri Perry Warjiyo dinilai semakin memperkuat kekhawatiran investor terhadap kesinambungan kebijakan ekonomi.
Sesuai mekanisme yang berlaku, Presiden Prabowo Subianto akan mengajukan calon Gubernur BI kepada DPR untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan sebelum memperoleh persetujuan. Hingga kini, pemerintah belum mengumumkan nama calon pengganti Perry Warjiyo.
Manajer Portofolio Grasshopper Asset Management Daniel Tan mengatakan kebijakan moneter BI menjadi kurang independen dan kurang kredibel berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah maupun aset-aset keuangan Indonesia.
Sementara, Sekretaris Kabinet meminta pelaku pasar tetap tenang selama masa transisi kepemimpinan BI dan menegaskan pergantian tersebut tidak akan mengganggu kebijakan moneter maupun stabilitas ekonomi. Reuters juga mencatat independensi BI kembali menjadi sorotan setelah Thomas Djiwandono diangkat sebagai Deputi Gubernur BI pada Januari serta disahkannya perubahan undang-undang pada Juni yang memperkuat peran BI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
Rupiah Melemah
Pascapengumuman pengunduran diri Perry Warjiyo, rupiah melemah sekitar 0,3% menjadi Rp17.990 per dolar AS, tidak jauh dari rekor terendah Rp18.190 per dolar AS yang terjadi pada Juni. Sepanjang 2026, nilai tukar rupiah telah melemah lebih dari 7%, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia meskipun BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin dalam beberapa bulan terakhir.
Reuters menilai kondisi tersebut terjadi setelah pasar sempat memperoleh sentimen positif dari keputusan S&P Global Ratings pada awal Juli yang mempertahankan peringkat utang Indonesia dengan prospek stabil. Sebaliknya, Moody's dan Fitch sebelumnya telah merevisi prospek peringkat Indonesia menjadi negatif sehingga kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dan stabilitas makroekonomi masih membayangi.
Baca Juga: Soal Pengganti Perry Warjiyo, DPR Tunggu Usulan Prabowo
Direktur Sovereigns Fitch Ratings George Xu mengatakan lembaganya terus memantau perkembangan tersebut karena masih terdapat risiko tekanan eksternal akibat rapuhnya sentimen investor di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter dan persepsi terhadap independensi bank sentral.
Sementara itu, Kepala Riset Asia ANZ Khoon Goh menilai pasar sebelumnya mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah berbagai sentimen negatif sejak awal tahun, namun perkembangan terbaru kembali meningkatkan ketidakpastian bagi investor.
Kepala Strategi Makro Asia dan Investasi BNY Investments Aninda Mitra mengatakan pelaku pasar akan mencermati siapa yang akan dicalonkan Presiden Prabowo sebagai Gubernur BI berikutnya untuk menilai apakah bank sentral tetap mempertahankan independensinya atau lebih berorientasi mendukung target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 8% pada 2029.
Selama ketidakpastian kebijakan moneter masih berlangsung dan belum diimbangi kejutan positif dari sisi fiskal, premi risiko terhadap aset berdenominasi rupiah diperkirakan tetap tinggi sehingga kepemimpinan transisi akan menghadapi dilema antara menjaga pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar rupiah.
(nng)
Lihat Juga :