5 Data Ini Perlihatkan Bagaimana Tarif Impor Terbaru Trump Berdampak ke Ekonomi
Selasa, 28 Juli 2026 - 22:08 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan riset Yale Budget Lab, kebijakan tarif impor Trump diperkirakan membebani rata-rata rumah tangga di AS sebesar USD1.100 (sekitar Rp17,8 juta) per tahun.
Barang-barang konsumsi harian yang mencatatkan kenaikan harga paling tinggi akibat tarif ini meliputi pakaian, kopi, karpet, hingga bahan bangunan rumah. Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling terpukul karena harus mengalokasikan porsi pendapatan terbesar untuk kebutuhan pokok.
Akibat pembatalan oleh Mahkamah Agung, pemerintah AS bahkan mencatatkan defisit penerimaan tarif pada bulan Juni 2026, karena harus mengembalikan dana sebesar USD26 miliar. Angka tersebut lebih banyak daripada yang berhasil dipungut.
Ditambah belanja konstruksi pabrik anjlok hingga 26%. Tingginya harga bahan baku impor dan ketidakpastian hukum membuat banyak pelaku usaha menahan investasi baru di sektor manufaktur.
Dengan potensi tambahan tarif untuk sektor otomotif, obat-obatan generik, dan barang manufaktur dari Asia serta Eropa dalam waktu dekat, perang tarif ini diprediksi masih akan terus menjadi penekan utama pertumbuhan ekonomi global sepanjang tahun 2026.
Barang-barang konsumsi harian yang mencatatkan kenaikan harga paling tinggi akibat tarif ini meliputi pakaian, kopi, karpet, hingga bahan bangunan rumah. Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling terpukul karena harus mengalokasikan porsi pendapatan terbesar untuk kebutuhan pokok.
4. Janji Kaya Raya vs Realita Refund USD81 Miliar
Trump berulang kali mengklaim bahwa tarif impor akan membuat kas negara melimpah dan menjanjikan pengembalian pajak USD2.000 bagi warga AS. Namun, data resmi menunjukkan realita yang berbeda.Akibat pembatalan oleh Mahkamah Agung, pemerintah AS bahkan mencatatkan defisit penerimaan tarif pada bulan Juni 2026, karena harus mengembalikan dana sebesar USD26 miliar. Angka tersebut lebih banyak daripada yang berhasil dipungut.
5. Kemerosotan Sektor Manufaktur
Meskipun tarif dirancang untuk melindungi dan menghidupkan kembali industri dalam negeri, data ekonomi belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan (manufacturing renaissance). Sejak Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, lapangan kerja manufaktur menyusut sebanyak 75.000 pekerjaan.Ditambah belanja konstruksi pabrik anjlok hingga 26%. Tingginya harga bahan baku impor dan ketidakpastian hukum membuat banyak pelaku usaha menahan investasi baru di sektor manufaktur.
Dengan potensi tambahan tarif untuk sektor otomotif, obat-obatan generik, dan barang manufaktur dari Asia serta Eropa dalam waktu dekat, perang tarif ini diprediksi masih akan terus menjadi penekan utama pertumbuhan ekonomi global sepanjang tahun 2026.
(akr)
Lihat Juga :