Jangan Terlewat, Siapkan Dana Darurat di Masa Gawat

Minggu, 04 Oktober 2020 - 09:30 WIB
loading...
Jangan Terlewat, Siapkan...
Situasi yang serba tak pasti di tengah masa pandemi perlu disikapi dengan menyiapkan dana darurat yang akan sangat berguna di saat yang gawat. Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Pandemi Covid-19 diakui telah menimbulkan tekanan luar biasa bagi perekonomian di dalam negeri. Pada kuartal III, Indonesia bahkan diproyeksi sudah masuk ke jurang resesi .

Berdasarkan survei dari McKinsey and Company, Lifepal.co.id menilai situasi ini mulai diantisipasi oleh masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dari kenyataan menurunnya aktivitas konsumsi di masa pandemi yang lantas berdampak pada minusnya pertumbuhan ekonomi di kuartal II lalu.

Survei McKinsey and Company itu menunjukkan, 83% masyarakat Indonesia akan lebih berhati-hati saat mengeluarkan uang di era pandemi ini. Terkait pandemi ini, 62% responden juga setuju bahwa ketidakpastian ekonomi cukup mengganggu keputusannya untuk belanja.

(Baca Juga: Ini Tips Mengelola Keuangan Keluarga di Tengah Pandemi COVID-19)

Selanjutnya, yang cukup mengkhawatirkan adalah 55% responden merasa bahwa pekerjaannya menjadi kurang aman. Sementara itu, 59% lainnya merasa bahwa penghasilannya mengalami penurunan.

Survei McKinsey mengindikasikan adanya masalah yang cukup besar dan mengancam keamanan finansial individu atau sebuah keluarga. Masalah yang dimaksud adalah risiko hilangnya pendapatan di tengah pandemi.

Jangan Terlewat, Siapkan Dana Darurat di Masa Gawat


Salah satu cara untuk memitigasi risiko ini adalah dengan menyediakan dana darurat. Memiliki dana darurat akan sangat berguna untuk menutupi pengeluaran bulanan di saat tidak ada pemasukan. Lantas, bagaimana caranya agar kita dapat menyiapkan dana darurat ini? Boleh disimak tips dari Lifepal.co.id berikut ini:

(Baca Juga: Kondisi Tak Pasti, Pastikan Punya Dana Darurat dan Aset Likuid) Langkah pertama, kenali berapa besar kebutuhan dana darurat kita. Dalam perencanaan keuangan, dana darurat atau kerap kali disebut dengan istilah basic liquidity ratio atau rasio likuiditas.

Rumus untuk mengenali rasio likuiditas kita adalah Total Aset Lancar/Pengeluaran bulanan. Nilai minimum dari rasio likuiditas adalah, 3 hingga 6. Hal itu menandakan bahwa, kita mampu bertahan hidup tanpa adanya pendapatan bulanan hingga 3 atau 6 bulan ke depan.

Akan tetapi, besaran kebutuhan dana darurat untuk seseorang memang tidak bisa dipukul rata. Lantas berapa besarkah kebutuhan dana darurat Anda?

a. Lajang tanpa tanggungan
Seorang lajang tanpa tanggungan tentu memiliki beban finansial yang cukup ringan. Selain itu, mereka pun memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam manajemen keuangan. Oleh karena itu, menyediakan dana darurat yang setara dengan 3 kali pengeluaran bulanan pun masih diperkenankan.

b. Lajang dengan tanggungan
Tidak sedikit pula dari kita yang meski masih lajang tapi harus membiayai kebutuhan hidup orang tua, hingga anggota keluarga lainnya. Tentu saja, seorang lajang dan memiliki tanggungan harus menyediakan dana darurat wajib sedia dana darurat yang lebih banyak daripada yang tidak. Dalam kondisi ini, menyediakan dana darurat sebesar 6 kali pengeluaran bulanan tentu bisa menjadi opsi yang baik.

c. Sudah berkeluarga
Mereka yang sudah berkeluarga tentu memiliki pengeluaran yang lebih besar ketimbang lajang. Oleh karena itu, ketersediaan dana darurat untuk seorang dengan status ini adalah 6 hingga 12 kali pengeluaran bulanan. Makin banyak tanggungan tentu makin banyak pula dana darurat yang harus dipersiapkan.

d. Memiliki pekerjaan yang tinggi risiko
Semakin tinggi risiko dalam pekerjaan Anda, maka makin besar pula dana darurat yang dibutuhkan. Risiko yang dimaksud lebih ditujukan ke pekerjaan yang tidak memiliki penghasilan tetap per bulan.

Sebut saja seperti pemilik usaha, atlet, atau para pekerja freelance. Dana darurat yang mereka harus sediakan bahkan bisa di atas 12 bulan pengeluaran jika mereka juga memiliki tanggungan.

Langkah selanjutnya, coret pengeluaran yang bersifat "keinginan". Jika selama ini kita merasa pengeluaran lebih besar ketimbang pemasukan, cobalah untuk mengetatkan ikat pinggang alias mengurangi pengeluaran rutin bulanan.

Tidak dimungkiri bahwa tidak sedikit masyarakat yang menghemat pengeluaran di masa pandemi. Namun alangkah lebih baik untuk lebih spesifik terhadap pengeluaran yang bersifat gaya hidup atau keinginan saja, bukan yang bersifat kebutuhan atau pengeluaran pokok.

Bicara soal pengeluaran gaya hidup, pengeluaran itu bisa berupa traveling, mendatangi tempat hiburan, atau melakukan kegiatan hobi ekstrem tinggi risiko. Dengan mengurangi pengeluaran di berbagai hal yang bersifat keinginan atau gaya hidup, maka kita bisa lebih berfokus untuk memprioritaskan pengeluaran-pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari, jangka pendek, panjang, dan menambah dana darurat.

Selanjutnya, tambah pendapatan bulanan untuk mempercepat pengumpulan dana darurat. Selain mengurangi pengeluaran, cara lain untuk mempercepat proses pengumpulan dana darurat adalah dengan menambah penghasilan kita.

Penghasilan tambahan bisa didapat dari kerja sampingan atau dengan melakukan investasi jangka pendek. Sebut saja dengan menempatkan dana di deposito, obligasi negara atau sukuk. Bunga dari penempatan dana di instrumen-instrumen keuangan tersebut bisa langsung diterima dan masuk ke rekening pribadi layaknya pendapatan pasif.

Terakhir, alokasikan dana minimal 10% dari penghasilan bulanan untuk menabung dana darurat. Jika Anda belum mengetahui berapa besar dana yang harus disisihkan per bulan untuk dana darurat, maka alokasikan saja dana minimal 10% dari penghasilan bulanan untuk kepentingan ini.

Proses alokasi ini tentu saja bisa dilakukan apabila pengeluaran Anda tidak melebihi pendapatan, dalam artian arus kas bersih bulanan Anda sudah sehat. Selamat mencoba!
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
1 Miliar Barel Minyak...
1 Miliar Barel Minyak Terguncang Selat Hormuz, Dunia Terancam Resesi
Peluang Resesi Indonesia...
Peluang Resesi Indonesia di Bawah 5%, Lebih Kuat dari AS, Kanada, dan Jepang
Sinyal Resesi Global...
Sinyal Resesi Global Menguat, Lonjakan Harga Minyak Dekati Ambang Batas Krisis
Kurs Rupiah Capai Rp16.904/USD,...
Kurs Rupiah Capai Rp16.904/USD, Indonesia Punya Pengalaman Hindari Jurang Resesi
Menkeu Purbaya Tepis...
Menkeu Purbaya Tepis Isu Resesi Indonesia Sudah Dekat
Pesta Elite, Resesi...
Pesta Elite, Resesi Sulit
Dana Darurat Keluarga:...
Dana Darurat Keluarga: Apakah Lebih Baik Disimpan atau Mengandalkan Pinjaman Tunai?
Ekonomi Suram, Gelombang...
Ekonomi Suram, Gelombang Unjuk Rasa Banyak Terjadi di China
Rekomendasi
Rencana Aksi Lagi di...
Rencana Aksi Lagi di Bundaran HI, Ketua BEM UI Ingin Dobrak Kemacetan Mobilitas Sosial
Ajukan Jadi JC, Mantan...
Ajukan Jadi JC, Mantan Waka BNN Sony Sonjaya Diperiksa di Kejagung Besok
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan...
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan Haji 2026, Beri Catatan Ini untuk Tahun Depan
Berita Terkini
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
Indonesia-Australia...
Indonesia-Australia Kolaborasi Cetak Tenaga Ahli Butchery dan Food Safety
Strategi Moneter Dikritik...
Strategi Moneter Dikritik Banggar DPR, Begini Penjelasan BI Soal Menjaga Rupiah
Ancam Ritel dan Perbankan,...
Ancam Ritel dan Perbankan, Penipuan 'Gift Card' Digital Kian Sulit Terdeteksi
Bangun BRT Metropolitan...
Bangun BRT Metropolitan Cekungan Bandung, Brantas Abipraya Dukung Transformasi Transportasi
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved