Diadang Pandemi, Ekspor Produk Kakao Kian Terasa Lezat
Kamis, 08 Oktober 2020 - 11:20 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Di tengah imbas pandemi Covid-19 , industri pengolahan kakao mampu memberikan kontribusi signfikan terhadap devisa . Lihat saja, nilai ekspor produk kakao olahan mencapai USD549 juta pada Januari-Juni 2020. Angka itu meningkat sebesar 5,13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Dari produksi industri pengolahan kakao, sebanyak 80% hasilnya ditujukan untuk pasar ekspor. Pada tahun 2019, produk kakao olahan menyumbang nilai ekspor lebih dari USD1,01 miliar,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resminya, Kamis (8/10/2020). ( Baca juga:BEI Umumkan 25 Perusahaan Tercatat Belum Sampaikan Laporan Keuangan Interim )
Menperin menyebutkan, saat ini industri pengolahan kakao telah mampu memproduksi beragam varian, seperti cocoa liquor, cocoa cake, cocoa butter dan cocoa powder. Produk kakao olahan yang utama diekspor adalah produk cocoa butter yang tersebar ke negara tujuan utama ekspor, seperti Amerika Serikat, Belanda, India, Estonia, Jerman dan China.
“Artinya, industri pengolahan kakao kita telah berorientasi ekspor. Untuk itu, kita perlu terus memacu kinerja dan pengembangannya agar bisa semakin kompetitif di kancah global. Kami juga berupaya memperluas akses pasar bagi produk olahan kakao, serta mendorong inovasi melalui pemanfaatan teknologi dan kegiatan riset,” paparnya.
Agus optimistis, industri pengolahan kakao di Tanah Air bisa berkembang baik karena didukung potensi Indonesia sebagai pengolah biji kakao nomor tiga di dunia dengan total kapasitas terpasang mencapai 800 ribu ton per tahun dari 13 perusahaan. “Industri pengolahan kakao Indonesia berada di peringkat ke-3 terbesar di dunia setelah Belanda dan Pantai Gading,” ungkapnya.
“Dari produksi industri pengolahan kakao, sebanyak 80% hasilnya ditujukan untuk pasar ekspor. Pada tahun 2019, produk kakao olahan menyumbang nilai ekspor lebih dari USD1,01 miliar,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resminya, Kamis (8/10/2020). ( Baca juga:BEI Umumkan 25 Perusahaan Tercatat Belum Sampaikan Laporan Keuangan Interim )
Menperin menyebutkan, saat ini industri pengolahan kakao telah mampu memproduksi beragam varian, seperti cocoa liquor, cocoa cake, cocoa butter dan cocoa powder. Produk kakao olahan yang utama diekspor adalah produk cocoa butter yang tersebar ke negara tujuan utama ekspor, seperti Amerika Serikat, Belanda, India, Estonia, Jerman dan China.
“Artinya, industri pengolahan kakao kita telah berorientasi ekspor. Untuk itu, kita perlu terus memacu kinerja dan pengembangannya agar bisa semakin kompetitif di kancah global. Kami juga berupaya memperluas akses pasar bagi produk olahan kakao, serta mendorong inovasi melalui pemanfaatan teknologi dan kegiatan riset,” paparnya.
Agus optimistis, industri pengolahan kakao di Tanah Air bisa berkembang baik karena didukung potensi Indonesia sebagai pengolah biji kakao nomor tiga di dunia dengan total kapasitas terpasang mencapai 800 ribu ton per tahun dari 13 perusahaan. “Industri pengolahan kakao Indonesia berada di peringkat ke-3 terbesar di dunia setelah Belanda dan Pantai Gading,” ungkapnya.
Lihat Juga :