Utang Luar Negeri Membengkak, Awas Tekanan Hebat ke Nilai Tukar Rupiah
Kamis, 15 Oktober 2020 - 12:57 WIB
loading...
Ekonom Indef Bhima Yudistira mengatakan, Pemerintah dan Bank Indonesua (BI) sepertinya harus lebih mencermati risiko utang luar negeri. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Ekonom Indef Bhima Yudistira mengatakan, Pemerintah dan Bank Indonesua (BI) sepertinya harus lebih mencermati risiko utang luar negeri . Hal ini dikarenakan beban utang valas harus dibayar dengan stok valas yang cukup.
"Jika tidak akan menimbulkan tekanan hebat pada stabilitas nilai tukar rupiah ," kata Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Kamis (15/10/2020).
(Baca Juga: Utang Luar Negeri RI Tembus Rp5.940 T, Stafsus Sri Mulyani: Negara Akan Mampu Membayar )
Dia melanjutkan kinerja utang juga disebut buruk karena debt to service atau DSR terus meningkat menjadi 29.5%. "Kenaikan DSR cerminkan penambahan utang tidak di imbangi dengan kinerja penerimaan di sektor valas seperti rendahnya kinerja ekspor sepanjang tahun," katanya.
Sebagai infornasi, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia meningkat. Posisi ULN Indonesia pada akhir Agustus 2020 tercatat sebesar USD413,4 miliar dolar AS, terdiri dari ULN sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral) sebesar USD203,0 miliar dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar USD210,4 miliar.
"Jika tidak akan menimbulkan tekanan hebat pada stabilitas nilai tukar rupiah ," kata Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Kamis (15/10/2020).
(Baca Juga: Utang Luar Negeri RI Tembus Rp5.940 T, Stafsus Sri Mulyani: Negara Akan Mampu Membayar )
Dia melanjutkan kinerja utang juga disebut buruk karena debt to service atau DSR terus meningkat menjadi 29.5%. "Kenaikan DSR cerminkan penambahan utang tidak di imbangi dengan kinerja penerimaan di sektor valas seperti rendahnya kinerja ekspor sepanjang tahun," katanya.
Sebagai infornasi, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia meningkat. Posisi ULN Indonesia pada akhir Agustus 2020 tercatat sebesar USD413,4 miliar dolar AS, terdiri dari ULN sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral) sebesar USD203,0 miliar dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar USD210,4 miliar.
Lihat Juga :