Berharap Inflasi Pascapelonggaran PSBB
Senin, 02 November 2020 - 10:11 WIB
loading...
A
A
A
“Ini langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan,” tandasnya.
Meskipun terjadi inflasi, namun peningkatannya masih jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal tersebut diungkapkan pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda. Dia menilai tingkat inflasi 2020 sudah bisa dipastikan akan jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan sangat mungkin inflasi akan berada di bawah 2%. (Baca juga: Banyak Kaum santri Sudah Berperan di Kancah Internasional)
Pada Oktober kemarin memang diakuinya beberapa kegiatan ekonomi masyarakat sudah mulai membaik sehingga permintaan masyarakat mulai meningkat. “Bulan ini memang diprediksi akan terjadi inflasi secara mtm karena harga pada bulan selanjutnya sudah rendah,” kata Huda saat dihubungi di Jakarta kemarin.
Sedangkan November dan Desember diperkirakan tidak akan banyak membantu inflasi tahun ini karena berkurangnya faktor kenaikan upah yang relatif rendah, bahkan menurut Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) tidak ada pertumbuhan upah minimum provinsi (UMP). “Selain itu, meningkatnya pengangguran juga akan menekan angka inflasi tahun ini,” paparnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, daya beli masyarakat merupakan satu hal yang patut diperbaiki oleh pemerintah di tahun depan. Hal ini masih bisa diperbaiki dengan strategi penanganan Covid-19 yang terukur dan terarah. Di sisi lain, penanganan di sektor kesehatan juga harus kredibel. “Karena masyarakat kelas menengah masih enggan membelanjakan uangnya. Permintaan masyarakat kelas menengah masih rendah,” ucapnya.
Selain itu, yang perlu dikejar adalah perluasan bantuan tunai bagi masyarakat kelas bawah. Mereka biasanya langsung membelanjakan bantuan untuk kebutuhan sehari-hari. “Harapannya permintaan masyarakat kelas bawah bisa meningkat,” jelasnya. (Baca juga: Covis-19 Sebabkan Otak Menua 10 Tahun)
Meskipun terjadi inflasi, namun peningkatannya masih jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal tersebut diungkapkan pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda. Dia menilai tingkat inflasi 2020 sudah bisa dipastikan akan jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan sangat mungkin inflasi akan berada di bawah 2%. (Baca juga: Banyak Kaum santri Sudah Berperan di Kancah Internasional)
Pada Oktober kemarin memang diakuinya beberapa kegiatan ekonomi masyarakat sudah mulai membaik sehingga permintaan masyarakat mulai meningkat. “Bulan ini memang diprediksi akan terjadi inflasi secara mtm karena harga pada bulan selanjutnya sudah rendah,” kata Huda saat dihubungi di Jakarta kemarin.
Sedangkan November dan Desember diperkirakan tidak akan banyak membantu inflasi tahun ini karena berkurangnya faktor kenaikan upah yang relatif rendah, bahkan menurut Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) tidak ada pertumbuhan upah minimum provinsi (UMP). “Selain itu, meningkatnya pengangguran juga akan menekan angka inflasi tahun ini,” paparnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, daya beli masyarakat merupakan satu hal yang patut diperbaiki oleh pemerintah di tahun depan. Hal ini masih bisa diperbaiki dengan strategi penanganan Covid-19 yang terukur dan terarah. Di sisi lain, penanganan di sektor kesehatan juga harus kredibel. “Karena masyarakat kelas menengah masih enggan membelanjakan uangnya. Permintaan masyarakat kelas menengah masih rendah,” ucapnya.
Selain itu, yang perlu dikejar adalah perluasan bantuan tunai bagi masyarakat kelas bawah. Mereka biasanya langsung membelanjakan bantuan untuk kebutuhan sehari-hari. “Harapannya permintaan masyarakat kelas bawah bisa meningkat,” jelasnya. (Baca juga: Covis-19 Sebabkan Otak Menua 10 Tahun)
Lihat Juga :