Inflasi Rendah Berlanjut, Ekonomi RI Sulit untuk Pulih
Selasa, 03 November 2020 - 09:05 WIB
loading...
A
A
A
Untuk makanan, komoditas yang menyumbang inflasi adalah cabai merah yang andilnya 0,09%, bawang merah 0,07%, dan minyak goreng 0,09%. “Sementara yang deflasi telur ayam andilnya 0,02% serta daging ayam dan buah 0,01%,” jelas Suhariyanto. (Baca juga: Ribuan Formasi CPNS Guru Kosong, Ini Langkah Kemendikbud)
Untuk pakaian dan alas kaki mengalami inflasi 0,09% dan andilnya 0,01%. Selanjutnya kelompok kesehatan mengalami inflasi 0,15% dan andilnya sebesar 0,01%. Lalu, untuk kelompok transportasi mengalami deflasi 0,14% dan andilnya ke deflasi sebesar 0,02%. “Komoditas transportasi yang dominan adalah penurunan tarif angkutan udara sebesar 0,02%,” tutupnya.
Meskipun IHK akhirnya mencatat inflasi setelah tiga bulan berturut-turut mengalami deflasi, namun rendahnya tingkat inflasi dikhawatirkan memberi efek terhadap pemulihan ekonomi nasional. Hal tersebut disampaikan ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira. Dia menilai inflasi yang terjadi pada Oktober akan memiliki efek besar bagi ekonomi Indonesia. Inflasi itu bisa membuat pemulihan ekonomi bakal lebih lambat.
“Efeknya tentu semakin lambat pemulihan ekonomi terjadi dan berdampak ke serapan tenaga kerja yang masih rendah,” kata Bhima saat dihubungi MNC Portal News di Jakarta kemarin. (Baca juga: Usai Liburan Kembali Bugar dengan Olahraga Ringan)
Menurutnya, inflasi yang rendah khususnya di Pulau Jawa lebih dipengaruhi oleh rendahnya belanja kelas menengah dan atas. Perilaku menahan belanja masih jadi faktor utama selama masa pandemi.
Sementara belum optimalnya sektor pariwisata seperti hotel dan restoran membuat permintaan bahan-bahan makanan dan jasa transportasi cenderung rendah.
“Biasanya libur panjang membuat inflasi naik, tapi Oktober lalu arus wisatawan lokal masih sedikit. Jika tren inflasi rendah terus berlanjut, maka pendapatan dunia usaha semakin kecil. Bahkan bisa menutup operasional bisnisnya karena antara harga jual dengan biaya produksi semakin tipis selisihnya,” terangnya.
Untuk pakaian dan alas kaki mengalami inflasi 0,09% dan andilnya 0,01%. Selanjutnya kelompok kesehatan mengalami inflasi 0,15% dan andilnya sebesar 0,01%. Lalu, untuk kelompok transportasi mengalami deflasi 0,14% dan andilnya ke deflasi sebesar 0,02%. “Komoditas transportasi yang dominan adalah penurunan tarif angkutan udara sebesar 0,02%,” tutupnya.
Meskipun IHK akhirnya mencatat inflasi setelah tiga bulan berturut-turut mengalami deflasi, namun rendahnya tingkat inflasi dikhawatirkan memberi efek terhadap pemulihan ekonomi nasional. Hal tersebut disampaikan ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira. Dia menilai inflasi yang terjadi pada Oktober akan memiliki efek besar bagi ekonomi Indonesia. Inflasi itu bisa membuat pemulihan ekonomi bakal lebih lambat.
“Efeknya tentu semakin lambat pemulihan ekonomi terjadi dan berdampak ke serapan tenaga kerja yang masih rendah,” kata Bhima saat dihubungi MNC Portal News di Jakarta kemarin. (Baca juga: Usai Liburan Kembali Bugar dengan Olahraga Ringan)
Menurutnya, inflasi yang rendah khususnya di Pulau Jawa lebih dipengaruhi oleh rendahnya belanja kelas menengah dan atas. Perilaku menahan belanja masih jadi faktor utama selama masa pandemi.
Sementara belum optimalnya sektor pariwisata seperti hotel dan restoran membuat permintaan bahan-bahan makanan dan jasa transportasi cenderung rendah.
“Biasanya libur panjang membuat inflasi naik, tapi Oktober lalu arus wisatawan lokal masih sedikit. Jika tren inflasi rendah terus berlanjut, maka pendapatan dunia usaha semakin kecil. Bahkan bisa menutup operasional bisnisnya karena antara harga jual dengan biaya produksi semakin tipis selisihnya,” terangnya.
Lihat Juga :