Akui Berat, Sri Mulyani Sebut Target Setoran Pajak Sulit Dicapai
Kamis, 19 November 2020 - 16:05 WIB
loading...
A
A
A
"Ini adalah penerimaan pajak yang rendah karena alami kontraksi, dan ini ada risiko tidak tercapai kondisi korporasi dan masyarakat betul-betul tertekan," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (19/11/2020).
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini juga menjelaskan, target penerimaan negara di tahun 2020 mengalami penurunan dan lebih memilih meningkatkan anggaran belanja negara demi menangani pandemi Covid-19.
(Baca Juga: Blak-blakan Sri Mulyani, APBN dan Semua Sektor Shock)
Dengan kebijakan tersebut, maka defisit APBN melebar ke level 6,34% terhadap produk domestik bruto (PDB). Anggaran belanja negara naik menjadi Rp2.739,16 triliun. Peningkatan belanja ini dipenuhi melalui pembiayaan alias utang untuk membantu masyarakat yang terkena dampak.
"Defisitnya mencapai 6,34%, ini naik besar dalam rangka menolong ekonomi dan menangani Covid, dan membantu masyarakat. Belanja Rp2.739 triliun untuk membantu seluruh sektor, seluruh daerah, dan masyarakat serta menangani Covid," jelasnya.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini juga menjelaskan, target penerimaan negara di tahun 2020 mengalami penurunan dan lebih memilih meningkatkan anggaran belanja negara demi menangani pandemi Covid-19.
(Baca Juga: Blak-blakan Sri Mulyani, APBN dan Semua Sektor Shock)
Dengan kebijakan tersebut, maka defisit APBN melebar ke level 6,34% terhadap produk domestik bruto (PDB). Anggaran belanja negara naik menjadi Rp2.739,16 triliun. Peningkatan belanja ini dipenuhi melalui pembiayaan alias utang untuk membantu masyarakat yang terkena dampak.
"Defisitnya mencapai 6,34%, ini naik besar dalam rangka menolong ekonomi dan menangani Covid, dan membantu masyarakat. Belanja Rp2.739 triliun untuk membantu seluruh sektor, seluruh daerah, dan masyarakat serta menangani Covid," jelasnya.
(fai)
Lihat Juga :