Menakar Peluang Rebound Saham BNI
Minggu, 12 April 2020 - 22:28 WIB
loading...
A
A
A
Sebagai ilustrasi sederhana, bila investor berinvestasi senilai Rp100 juta di 2008 di saham BNI, maka kekayaannya akan berlipat hingga lebih dari Rp1,1 miliar hanya dalam waktu 2 tahun.
Analis menilai kondisi saat ini tidak jauh berbeda dengan 2008-2009. IHSG tertekan dan menyentuh titik terendahnya sejak 2013, pada penutupan perdagangan Senin (23/3) merosot ke level 3.989. Sejak awal tahun (year to date) IHSG pun tercatat sudah turun 26,56%.
Meski demikian, penurunan terhadap IHSG tidak berlangsung lama, segera setelah mencatat level terendah IHSG pun segera bangkit dan kini, Rabu (8/4) kembali di level 4.626. Begitu juga dengan saham BNI yang sempat menyentuh Rp3.390/saham saat IHSG meninggalkan 4.000. Namun tidak butuh waktu lama untuk BNI perlahan tapi pasti menanjak naik, dan ditutup Rp 4.010/saham pada Rabu (8/4) lalu. Kenaikan lebih dari 20% hanya dalam hitungan hari.
Pengamat pasar modal Yazid Muammar mengatakan, potensi rebound saham BNI termasuk paling cepat dibandingkan bank besar lainnya. Hal ini terlihat dari valuasi betanya yang berada di 1,5 kali. Selain itu, penurunan saham BNI juga masih belum 50% hingga saat ini, sementara pada 2008 penurunan sahamnya pernah lebih dari 75%.
Dia menilai saat ini pun valuasi BNI dengan nilai price to book value (PBV) 0,6 kali sudah termasuk murah dibandingkan bank besar lainnya, apalagi jika melihat rata-rata PBV BNI dalam lima tahun terakhir ada di posisi 1,45%.
PBV adalah penilaian harga saham dengan nilai buku perusahaan. Biasanya, saham yang memiliki rasio PBV besar, punya valuasi tinggi (overvalue) sedangkan saham dengan PBV di bawah 1 kali, punya valuasi rendah alias undervalue.
Analis menilai kondisi saat ini tidak jauh berbeda dengan 2008-2009. IHSG tertekan dan menyentuh titik terendahnya sejak 2013, pada penutupan perdagangan Senin (23/3) merosot ke level 3.989. Sejak awal tahun (year to date) IHSG pun tercatat sudah turun 26,56%.
Meski demikian, penurunan terhadap IHSG tidak berlangsung lama, segera setelah mencatat level terendah IHSG pun segera bangkit dan kini, Rabu (8/4) kembali di level 4.626. Begitu juga dengan saham BNI yang sempat menyentuh Rp3.390/saham saat IHSG meninggalkan 4.000. Namun tidak butuh waktu lama untuk BNI perlahan tapi pasti menanjak naik, dan ditutup Rp 4.010/saham pada Rabu (8/4) lalu. Kenaikan lebih dari 20% hanya dalam hitungan hari.
Pengamat pasar modal Yazid Muammar mengatakan, potensi rebound saham BNI termasuk paling cepat dibandingkan bank besar lainnya. Hal ini terlihat dari valuasi betanya yang berada di 1,5 kali. Selain itu, penurunan saham BNI juga masih belum 50% hingga saat ini, sementara pada 2008 penurunan sahamnya pernah lebih dari 75%.
Dia menilai saat ini pun valuasi BNI dengan nilai price to book value (PBV) 0,6 kali sudah termasuk murah dibandingkan bank besar lainnya, apalagi jika melihat rata-rata PBV BNI dalam lima tahun terakhir ada di posisi 1,45%.
PBV adalah penilaian harga saham dengan nilai buku perusahaan. Biasanya, saham yang memiliki rasio PBV besar, punya valuasi tinggi (overvalue) sedangkan saham dengan PBV di bawah 1 kali, punya valuasi rendah alias undervalue.
Lihat Juga :